Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan baik kepada kedua orang tua. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang mengajarkan birrul walidain dengan sepenuh hati, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berupaya alim kepada Rabb-nya.
Saudaraku, ketahuilah, ada satu sunnatullah yang pasti terjadi dan seringkali terasa pahit: perpisahan. Salah satu perpisahan terberat dalam hidup adalah ketika seorang anak kudu kehilangan orang tuanya. Dua insan yang menjadi gerbang rahmat, sumber kasih sayang, dan sandaran hidupnya. Kapan momen itu datang? Tak seorang pun tahu. Itulah kenapa birrul walidain adalah ibadah yang tak boleh kita tunda. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal, lantaran penyesalan itu selalu datang terlambat.
Umur yang rentan kehilangan
Dari sisi statistik, akibat kehilangan orang tua umumnya meningkat saat seseorang memasuki usia 30–50 tahun. Di usia itu, orang tua biasanya telah memasuki masa senja (60–80 tahun ke atas), di mana kesehatan kian menurun dan ajal kian dekat.
Tapi ingatlah baik-baik: ajal adalah rahasia Allah! Kematian bisa datang kapan saja, tanpa peduli usia. Bisa saja seorang anak tetap belia—di bawah 10 tahun—sudah ditinggal wafat salah satu alias apalagi kedua orang tuanya. Bisa juga seorang yang sudah beruban, usia 60 tahun, tetap diberi kesempatan Allah untuk memeluk dan merawat ibunya yang telah renta. Ketidaktahuan inilah yang semestinya mendorong kita—di usia berapa pun—untuk segera membuktikan bakti, sebelum pintu itu tertutup.
Baca juga: Meneladani Bakti Ulama Pada Orangtuanya
Amalkan sekarang, jangan ditunda!
Birrul walidain bukan sekadar urusan materi. Ia lebih tentang perhatian, adab, ketulusan, dan doa. Berikut beberapa langkah nyata yang bisa kita amalkan:
Utamakan waktu dan perhatian (quality time)
Di tengah hiruk-pikuk dunia, waktu yang kita berikan adalah bingkisan termahal bagi orang tua. Luangkan waktu unik hanya untuk mereka. Dengarkan cerita mereka—meski berulang. Temani ke kegiatan keluarga, alias sekadar duduk berbareng menikmati teh hangat. Kehadiran dan perhatianmu jauh lebih berbobot daripada sekadar transfer uang.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, sabda ini hasan)
Perhatian tulus adalah jalan utama kepada keridaan mereka.
Layani dengan penuh kelembutan
Di usia senja, orang tua kerap menjadi lemah dan butuh bantuan. Inilah puncak birrul walidain. Bantulah dengan penuh kasih, sabar, dan tanpa keluh. Bantu memenuhi kebutuhan harian, antar mereka ke dokter, alias bantu pekerjaan rumah. Ingatlah gimana dulu mereka merawat kita saat tetap mini dan tak berdaya.
عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي
Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dengan tangannya, dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.” (HR Bukhari no. 5970)
Jaga etika dan tutur kata (akhlaqul karimah)
Bicaralah dengan lembut, jangan sampai mengucap “ah” apalagi membentak—terlebih saat capek alias marah. Allah berfirman,
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik saya di waktu kecil’.” (QS. Al-Isra: 24)
Bersabar atas sikap mereka yang mungkin berubah adalah ibadah yang sangat mulia.
Mendoakan mereka tanpa henti
Doa adalah bingkisan terindah yang tak terbatas ruang dan waktu. Doakan mereka usai salat, dalam sujud, tahajud, dan di waktu-waktu mustajab. Doakan kesehatan, keimanan, dan pembebasan untuk mereka. Percayalah, angan anak untuk orang tua adalah angan yang mustajab.
Teruskan hormat setelah mereka tiada
Birrul walidain tidak berakhir saat orang tua wafat. Kita tetap bisa terus berkhidmat dengan:
a) Mendoakan mereka dengan istikamah.
b) Melunasi utang-utang mereka (jika ada).
c) Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dan sahabat yang dulu dekat dengan mereka.
d) Bersedekah dan mengamalkan pengetahuan yang berfaedah dengan niat pahala untuk mereka.
e) Menjaga nama baik dan warisan mereka, serta menghormati teman-teman mereka.
Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?
Jangan jadi orang yang terhina!
Saudaraku, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal, lantaran penyesalan itu datangnya selalu terlambat. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ . قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang tetap hidup alias salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)
Jangan sampai kita termasuk orang yang dihinakan lantaran menyia-nyiakan kesempatan berbakti.
Ya Allah, jadikan kami anak yang saleh dan salehah. Panjangkan umur orang tua kami dalam ketaatan, dan mudahkanlah kami untuk senantiasa berkhidmat kepada mereka hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·