Motivasi Beramal Di Bulan Zulhijah  

May 22, 2026 11:00 AM - 13 jam yang lalu 615

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا

“Dan janganlah Anda seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi pisah berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)

‘Abdullah bin Katsir (seorang tabiin) dan As-Suddi berkata, “Ayat ini menggambarkan seorang wanita yang pandir. Ia tinggal di Makkah. Setiap selesai memintal sesuatu dengan kuatnya, maka dia pun menguraikannya kembali hingga berpisah berai.” (Ath-Thabari, XVII/285)

Demikianlah perumpamaan seorang hamba yang telah Allah berikan kemuliaan baginya berupa pengetahuan dan kemudahan dalam melakukan beragam macam kebaikan saleh, namun dia malah beralih dari ilmunya dan dia jadikan pahala ibadahnya tersebut ibaratkan debu yang beterbangan lantaran maksiat, dosa dan kelalaian yang meliputi dirinya.

Donasi Kincai Media

Istikamah Setelah Berlalunya Ramadan

Banyak dari kita yang antusias untuk beragama ketika bulan Ramadan. Bahkan sebelum masuknya Ramadan, kita telah bersiap-siap untuk menyambutnya dengan pengetahuan dan beragam macam kebaikan ibadah.

Seusai berlalunya Ramadan, hendaknya kita tetap berupaya untuk mempertahankan semangat untuk berilmu dan beramal tersebut.

Jangan sampai kita menjadi seorang yang pandir, yang mengurai apa yang telah dia pintal dengan kuat, sebagaimana disebutkan pada ayat yang telah disebutkan sebelumnya.

Celaan terhadap seseorang yang giat melakukan suatu ibadah kemudian dia meninggalkannya, juga datang dalam sebuah sabda yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎يا عبدَ اللهِ ! لا تكُنْ مِثلَ فُلانٍ كان يقومُ من الليلِ ، فترَكَ قِيامَ الليْلِ

“Wahai ‘Abdullah! Janganlah Anda menjadi seperti si Fulan. Dahulu dia giat melakukan salat malam, kemudian dia meninggalkannya.” (Shahih Ibnu Majah (1104)

Kembali Maksimal di 10 Awal Zulhijah

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وعشر ذي الحجة هي الأيام التي قال عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر، قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) هذه العشر التي يجهل كثير من الناس فضلها، ومن علم فإنه قد يتهاون في إعطائها حقها من الاجتهاد في العمل الصالح

“Dan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah merupakan hari-hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman tentangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari di mana kebaikan saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).”

Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah menjawab,

ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali (dikarenakan syahid).”

Inilah sepuluh hari yang banyak orang tidak tahu tentang keutamannya. Dan orang yang telah mengetahuinya lalai dalam memberikan haknya, yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan beragam amalsaleh.” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)

Lebih lanjut Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وإذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) فإنه ينبغي لنا أن نجتهد غاية الاجتهاد في الأعمال الصالحة في هذه الأيام العشر أشد مما نجتهد في أيام عشر رمضان؛ لأن الحديث عام: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر)

“Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Tidak ada hari di mana kebaikan saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah). Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali (dikarenakan syahid).”

Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh dengan maksimal dalam melakukan beragam kebaikan saleh pada sepuluh hari ini. Lebih maksimal dari kesungguhan kita pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, disebabkan sabda ini berkarakter umum:

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari di mana kebaikan saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertamaZulhijah).” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)

Keutamaan Bulan Zulhijah

Secara umum bulan Zulhijah memiliki keutamaan-keutamaan, yaitu:

Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haram

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) kepercayaan yang lurus, maka janganlah Anda menganiaya diri Anda dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah ketika haji Wada’,

أَلَا إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Ketahuilah bahwa waktu itu telah berputar sebagaimana biasanya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut, yaituZulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab Mudhar, ialah bulan antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Ahmad, 5: 37)

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah …” dan seterusnya hingga, “Maka janganlah Anda menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” Yakni, pada dua belas bulan tersebut, khususnya di empat bulan tersebut. Allah menjadikan empat bulan itu sebagai bulan haram, Dia memperbesar keharaman-keharamannya, dan Dia menetapkan dosa yang dilakukan padanya lebih berat, serta menjadikan kebaikan saleh dan pahalanya juga lebih besar.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 238)

Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haji

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Tentang ayat ini Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Yakni bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijah.” (Fathul Bari (III/490)

10 Hari Pertama Bulan Zulhijahadalah penyempurna janji Allah kepada Nabi Musa

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberi Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)

Yaitu bulan Zulkaidah penuh ditambah dengan sepuluh hari dari bulan Zulhijah. (Tafsir Ibnu Katsir (1/253)

Allah menyempurnakan kepercayaan Islam pada 9 Zulhijah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, dia mengatakan bahwa seorang Yahudi datang kepada ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu seraya mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat yang biasa kalian baca dalam kitab kalian. Seandainya ayat tersebut turun pada kami, kaum Yahudi, niscaya kami telah menjadikan hari tersebut sebagai hari raya.” ‘Umar bertanya, “Ayat yang mana?” Ia mengatakan,

 ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk Anda agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

‘Umar mengatakan, “Demi Allah, sungguh kami telah mengetahui hari dan waktu di mana ayat itu turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah pada sore hari ‘Arafah di hari Jum’at.” (Ahmad (I/29)

Allah berjanji dengan 10 Hari Pertama Zulhijah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan Demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)

Maksud dari malam-malam yang sepuluh adalah sepuluh malam bulan Zulhijah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan beberapa ustadz Salaf dan ustadz Khalaf. (Ath-Thabari (XXIV/396)

Amal saleh yang dilakukan pada 10 hari pertama Zulhijahlebih dicintai Allah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحبُّ إلى الله منه في هذه الأيام العشر 

“Tidak ada hari di mana kebaikan saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء 

“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali (dikarenakan syahid).” (HR. Bukhari [II/457], Abu Dawud [VII/103], At-Tirmidzi [III/463], Ibnu Majah [I/550], dan Ahmad [III/298]. Dan lafaz ini dikeluarkan At-Tirmidzi)

Allah menamakan 10 Hari Pertama Zulhijahsebagai hari-hari yang telah ditentukan

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut Nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Syu’bah dan Husyaim mengatakan dari Abu Bisyr dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa hari-hari yang telah ditentukan (ayyamul ma’lumat) adalah sepuluh hari di bulan Zulhijah. (Fathul Bari (II/531) dan At-Thabari (IV/208)

Demikian keistimewaan dari bulan Zulhijah. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk melakukan amal-amal kebaikan pada bulan ini dan menjaga hak-hak Allah, terutama pada sepuluh hari pertamanya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Kincai Media

Referensi:

  • Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta
  • Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Maktabah Syamilah
  • Kajian Keutamaan-Keutamaan Bulan Zulhijah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
Selengkapnya