Inilah Hari Terbaik Sedunia (bag. 2)

May 21, 2026 11:00 AM - 13 jam yang lalu 662

Inilah amal-amal saleh yang ditekankan di sepuluh hari ini berasas nash-nash yang memotivasi untuk perihal itu dan menunjukkan pentingnya kebaikan tersebut:

Pertama, tobat nasuha dan kembali kepada Allah

Senantiasa alim dan menjauhkan diri dari perihal yang menyelisihi perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya dengan memenuhi syarat-syarat tobat yang sudah makruf dijelaskan oleh para ulama. Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,

وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون

“Dan bertobatlah kalian kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Tobat adalah sebuah perkara yang seorang hamba butuhkan setiap waktu.

Donasi Kincai Media

Kedua, haji ke Baitullah

Di antara kebaikan yang bisa dilakukan di sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah adalah haji ke Baitullah. Sudah diketahui bahwa di hari itu bertepatan dengan tanggungjawab berhaji. Haji adalah di antara amal-amal saleh yang paling agung. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang kebaikan apa yang paling afdal,

إيمان بالله ورسوله، قيل ثم ماذا؟ قال: الجهاد في سبيل الله، قيل: ثم ماذا؟ قال: حج مبرور

“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian ada yang bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Kemudian ada yang bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hendaknya bagi seorang muslim untuk menyisihkan sebagian hartanya yang tersisa, mempersiapkan kesehatan fisiknya untuk bersegera mewujudkan tanggungjawab yang agung ini agar dia bisa mendapatkan pahala yang berlimpah. Haji adalah ibadah terbaik yang dilakukan di waktu terbaik.

Ketiga, menjaga ibadah-ibadah wajib agar senantiasa mencocoki syariat

Di antara perihal paling mulia yang mendekatkan seseorang kepada Rabb-nya di sepuluh hari ini adalah menjaga ibadah-ibadah wajib dan melaksanakannya sesuai dengan perintah syariat. Yaitu, dengan senantiasa memperbaiki dan menyempurnakannya. Memperhatikan sunah-sunah dan adab-adabnya. Inilah yang semestinya diperhatikan oleh seorang hamba sebelum dia memperbanyak ibadah, semisal ibadah sunah dan tambahan lainnya. Terdapat di dalam sabda qudsi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وما تقرب إليّ عبدي بشيء أحب إليّ مما افترضته عليه

“(Allah Ta’ala berfirman yang artinya), ‘Dan perihal yang dapat mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku adalah sesuatu yang paling Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Keempat, melaksanakan ibadah-ibadah sunah dan kebaikan lainnya

Setelah seseorang tersebut dapat mengokohkan ibadah-ibadah yang wajib dan menjaganya, barulah kemudian dia memperbanyak ibadah-ibadah sunah. Juga dengan memperhatikan waktu-waktu yang mulia agar ibadah tersebut lebih besar pahalanya dibandingkan di luar sepuluh hari ini. Dia beramal dengan amalan-amalan yang mungkin tidak biasa dia kerjakan di luar sepuluh hari tersebut. Dia antusias untuk meraih waktu-waktu mulia tersebut dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan salat, membaca Al-Quran, berdoa, bersedekah, melakukan baik kepada orang tua, bersilaturahim, beramar makruf nahi mungkar, melakukan baik kepada manusia, menunaikan hak-hak orang lain, dan ibadah-ibadah lainnya dari jalan-jalan kebaikan yang pintunya tak terhitung lantaran saking banyaknya.

Kelima, memperbanyak zikir

Di antara ibadah yang mempunyai nas secara unik untuk dilakukan di sepuluh hari ini adalah memperbanyak zikir kepada Allah secara umum, misalnya takbir yang secara unik disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala,

ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام

“Agar mereka menyaksikan beragam nikmat yang diberikan kepada mereka, dan agar mereka menyebut nama Allah di hari-hari yang telah ditentukan atas apa yang telah Allah berikan kepada mereka dari hewan-hewan ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Jumhur ustadz menafsirkan ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan hari itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Sebagaimana terdapat di dalam sabda yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma sebelumnya,

فأكثروا فيهنّ من التهليل والتكبير والتحميد

“Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Disunahkan untuk menampakkan takbir absolut di hari pertama di bulan Zulhijah di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan, pasar, dan lainnya, ialah dengan men-jahr-kannya (mengeraskan) bagi laki-laki dan men-sir-kanya (melirihkan) bagi perempuan. Hal ini dalam rangka menunjukkan kepada khalayak tentang keagungan Allah Ta’ala yang ini terus berjalan hingga akhir asar di hari Tasyrik. Ini adalah sunah yang seringkali ditinggalkan dan kudu dihidupkan kembali di hari-hari ini. Dari Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa mereka berdua keluar menuju pasar pada sepuluh hari itu dan mereka berdua bertakbir sehingga dengan karena itu orang-orang pun ikut bertakbir.

Adapun takbir yang unik (muqayyad) adalah di akhir salat-salat fardu. Dimulai dari subuh di hari Arafah, dan berjalan terus sampai akhir asar di hari Tasyrik, berasas firman Allah Ta’ala,

واذكروا الله في أيام معدودات

“Dan berzikirlah kalian di hari-hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Dan berasas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر لله

“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari makan, minum, dan zikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Keenam, puasa

Di antara kebaikan yang ditekankan di hari-hari ini adalah berpuasa. Hal ini disebabkan penyandaran puasa kepada kebaikan saleh secara umum dan juga terdapat dalil pengkhususan ibadah puasa di hari ini. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan,

أربع لم يكن يدعهن النبي صلى الله عليه وسلم: صيام عاشوراء، والعشر، وثلاثة أيام من كل شهر، والركعتين قبل الغداة

“Empat perihal yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tinggalkan, ialah puasa Asyura, puasa di sepuluh hari (bulan Zulhijah), tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum pagi hari.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)

Maksud dari berpuasa di sepuluh hari adalah sembilan hari, lantaran kita dilarang untuk berpuasa di hari Iduladha. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang sepuluh hari Zulhijah, “Puasa yang kesunahannya sangat ditekankan.”

Yang paling ditekankan adalah puasa Arafah bagi selain jamaah haji. Terdapat sebuah riwayat dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Arafah, lampau beliau menjawab,

يكفّر السنة الماضية والباقية

“Menghapuskan (dosa) setahun yang lalu, dan setahun yang bakal datang.” (HR. Muslim)

Ketujuh, menyembelih hewan kurban

Di antara kebaikan yang juga ditekankan di hari ini adalah udhiyyah, atau menyembelih hewan kurban. Ini adalah sunah yang ditekankan bagi orang-orang yang mempunyai keluasan rezeki, apalagi sebagian ustadz mengatakan bahwa ini wajib lantaran ini adalah ibadah yang senantiasa dijaga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah amalan-amalan yang wajib diketahui oleh kaum muslimin dan hendaknya seorang muslim antusias atas perihal itu. Dan tetap banyak lagi kebaikan saleh yang bisa dikerjakan di hari itu selain ibadah yang telah disebutkan, lantaran pintu-pintu kebaikan sangat banyak, tak terhitung jumlahnya. Sudah kita pahami bahwa kebaikan saleh itu luas, mencakup apa yang Allah cintai dan ridai dari perkataan, perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Hendaklah bagi orang yang Allah berikan taufik untuk mengenal perihal ini, mengusahakan amal-amal ini sesuai dengan kemampuannya. Bersungguh-sungguh di dalamnya. Berusaha meminimalisir apa yang dapat menyibukkannya dalam perkara dunia. Karena di sepuluh hari ini bukanlah waktu yang luas, waktunya sempit dan bisa pergi dengan sigap jika tidak kita manfaatkan dengan baik. Maka, sungguh berbahagia orang-orang yang Allah berikan taufik di hari-hari itu untuk beramal saleh, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Kincai Media

Referensi:

Diterjemahkan dengan penyesuaian dari  https://www.islamweb.net/ar/article/136204/فضل–العشر–من–ذي–الحجة yang diakses pada tanggal 28 Maret 2025

Selengkapnya