Libido suami menurun di usia 40-an? Kenali penyebab, gejala, dan metode menghadapi andropause tanpa menyalahkan pasangan.
Mungkin akhir-akhir ini Mommies kerap mendapati suami terasa mendadak dingin di ranjang. Saat di bilik tidur, alih-alih meluk mesra maupun minimal ngecup dahi, deh, dia malah lebih sering langsung mendengkur, menyenangkan scrolling media sosial, maupun menolak bermesraan dengan karena terlalu capek karena bekerja.
Situasi suami jarang meminta hubungan intim seperti ini tak jarang membikin kita sebagai istri merasa cemas, tersinggung, terlebihlagi insecure. Pertanyaan seperti, “Apakah aku sudah nggak menarik lagi?” maupun “Jangan-jangan ada perempuan lain?” pun mulai berseliweran di kepala.
Namun, sebelum berasumsi terlalu jauh maupun menuduh ada “orang ketiga”, ada baiknya Mommies memahami bahwa ada kondisi biologis yang dapat dialami lelaki usia paruh baya, yaitu andropause. Berbeda dengan perempuan yang mengalami menopause, fluktuasi hormon pada lelaki umumnya terjadi secara bertahap. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh suami, dan sepertiapa metode menghadapi libido suami yang menurun tanpa memicu perselisihan di rumah tangga?
BACA JUGA: Kupas Tuntas Vasektomi: Prosedur, Syarat, Risiko, dan Perkiraan Biaya
Memahami Apa Itu Andropause pada Pria

Foto: Vitaly Gariev/Pexels
Istilah andropause, yang secara medis sering dikaitkan dengan late-onset hypogonadism, digunakan untuk menggambarkan gejala akibat rendahnya kadar hormon testosteron pada pria. Melansir klarifikasi dari ACE Hospital, proses ini biasanya mulai mengintai lelaki ketika memasuki usia 40-an maupun 50-an.
Berbeda dengan menopause pada perempuan yang ditandai dengan berhentinya siklus haid secara jelas, kadar testosteron lelaki dapat mulai menurun secara berjenjang sejak usia 30-an. Menurut Mayo Clinic, penurunan tersebut rata-rata sekitar 1% per tahun setelah usia 30 tahun. Namun, tidak semua lelaki akan mengalami gejala maupun akibat yang sama ketika bertambah usia.
Menurut Mayo Clinic, penurunan gairah seksual seiring bertambahnya usia sebenarnya dapat terjadi secara alami. Namun, jika terjadi penurunan yang sangat drastis, aspek lain seperti stres, kelelahan fisik, depresi, konsumsi alkohol, efek samping obat-obatan, hingga gangguan mekanisme endokrin perlu diperiksakan lebih lanjut ke dokter.
Sering kali, masalah terbesar bukanlah penurunan hormon itu sendiri, melainkan minimnya pemahaman antara suami dan istri. Seperti yang dipaparkan oleh Dr. Jed Diamond, seorang psikolog dan ahli kesehatan lelaki dalam artikel di Precision Telemed, ketika mengalami fluktuasi jasmani dan seksual, lelaki bisa merasa bingung dengan kondisi tubuhnya. Di sisi lain, istri mengira penurunan gairah tersebut sebagai tanda suami menarik diri maupun kehilangan cinta. Miskomunikasi inilah yang sebenarnya berpotensi merusak keintiman rumah tangga.
Penyebab Libido Pria Menurun di Usia 40 Tahun ke Atas
Penyebab penurunan testosteron dapat berhubungan dengan proses penuaan alami maupun kondisi kesehatan tertentu. Hormon ini memegang peranan krusial dalam kesehatan pria, mulai dari menjaga massa otot, kepadatan tulang, distribusi lemak, pengaturan kondisi hati, hingga libido.
Selain aspek usia, beberapa hal berikut juga bisa memengaruhi fungsi seksual lelaki usia 40-an maupun 50-an:
- Gaya hidup kurang sehat: pola makan buruk, kurang olahraga, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebih, dan tingkat stres yang tinggi dapat memengaruhi kesehatan seksual serta kadar testosteron.
- Kondisi kesehatan kronis: obesitas, diabetes, dan tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat berhubungan dengan gangguan fungsi seksual dan penurunan gairah.
- Efek samping obat-obatan: penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid, antidepresan, maupun obat pereda nyeri jenis opioid, bisa memengaruhi fungsi seksual dan, dalam kondisi tertentu, produksi hormon alami tubuh.
Karena penyebabnya bisa beragam, penurunan libido yang menetap maupun terjadi secara mendadak sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda andropause.
BACA JUGA: Paternal Postpartum Depressionn pada Ayah Baru, Kenali Tanda-Tandanya
Ciri-Ciri Pria Kekurangan Hormon Testosteron
Gejala andropause pada lelaki tidak cuma terbendung pada urusan ranjang saja, Mommies. Karena testosteron memengaruhi kondisi jasmani dan mental, berikut adalah beberapa gejala yang perlu diperhatikan jika suami di usia 40-an mulai malas berhubungan intim.

Foto: Alexandru Molnar/Pexels
Perubahan fisik: suami kerap merasa capek berlebihan meski tidak banyak beraktivitas, kehilangan massa dan kekuatan otot, mengalami lingkar perut yang makin membuncit akibat penumpukan lemak tubuh, hingga mengalami fluktuasi pertumbuhan rambut.
Perubahan mental dan emosional: fluktuasi kadar testosteron dapat berhubungan dengan fluktuasi kondisi hati, membikin lelaki lebih gampang tersinggung, hingga mengalami brain fog (sulit fokus dan pelupa). Suami juga bisa kehilangan minat pada hobi yang dahulu sangat disukainya.
Masalah seksual: terjadinya penurunan gairah seksual secara signifikan, kesulitan mencapai maupun mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi), hingga fluktuasi kesuburan.
Perlu diingat, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan kekurangan testosteron. Kondisi lain, seperti gangguan tidur, diabetes, depresi, dan efek samping obat, juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Pemeriksaan tabib diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Cara Menghadapi Libido Suami yang Menurun Tanpa Emosi dan Drama
Melihat fluktuasi pada diri suami memang bisa mengecewakan. Namun, situasi ini juga bisa terasa bermutu bagi suami sendiri, terutama jika fluktuasi tersebut memengaruhi rasa percaya dirinya. Dukungan dan kehangatan dari Mommies akan menjadi kunci utama dalam melewati fase ini. Yuk, lakukan langkah-langkah nyata berikut!
1. Jangan Menganggapnya sebagai Penolakan Pribadi

Foto: Vitaly Gariev/Pexels
Pahami bahwa penurunan libido bisa berhubungan dengan masalah kesehatan, kondisi emosional, maupun fluktuasi hormon, bukan berarti suami tidak lagi mencintai Mommies.
Dalam ulasannya di Focus on the Family, Dr. Juli Slattery, seorang psikolog klinis, membahas sepertiapa fluktuasi hayat seksual dapat memengaruhi hubungan dan emosi pasangan. Ketika kapasitas maupun gairah seksual menurun, hal itu bisa terasa bermutu bagi harga diri seorang pria. Di fase ini, suami membutuhkan pengertian dari Mommies, bukan penghakiman.
2. Coba Ubah Gaya Komunikasi
Hindari pertanyaan maupun teguran dengan nada menuntut seperti, “Kenapa, sih, Anda kini loyo banget?” Kalimat ini bisa melukai perasaannya dan membikin suami justru semakin menarik diri. Mengutip saran dari Noah Singapore, gunakan pendekatan emosional yang suportif. Mommies bisa berkata, “Sayang, aku perhatikan akhir-akhir ini Anda kelihatan capek banget, ya? Ada yang bisa aku bantu maupun ada yang mau Anda ceritakan?”
Dr. Jean-Carlos melalui artikel di Goldman Laboratories mengingatkan bahwa fluktuasi hormonal dapat berhubungan dengan fluktuasi emosi pada pria. Istri yang tanggap tidak akan menyerang emosinya, melainkan menjadi tempat berlindung yang terlindungi bagi suaminya.
3. Definisikan Ulang Arti Keintiman
Keintiman suami istri tidak mesti selalu berujung pada penetrasi. Ketika libido jasmani suami sedang menurun, alihkan fokus pada keintiman nonseksual. Bergandengan tangan saat jalan bersama, pelukan hangat di pagi hari, pijatan relaksasi sebelum tidur, maupun berbincang santai tanpa gangguan gadget sangat ampuh untuk membantu menjaga keterikatan emosional statis hangat.
BACA JUGA: 6 Fakta Vasektomi yang Suami Harus Tahu! Aman dan Efektif hingga 99%
4. Ajak Suami Bersama-sama Memperbaiki Gaya Hidup
Pola hidup sehat dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan dan mendukung fungsi seksual. Menurut beragam riset yang tersedia di PubMed Central, obesitas dan kurangnya aktivitas jasmani dapat berhubungan dengan gangguan fungsi seksual. Mommies bisa memungut inisiatif untuk membujuk suami berolahraga rutin bersama, seperti jalan cepat maupun latihan beban ringan, memasak makanan bernutrisi tinggi, mengurangi konsumsi gula berlebih, serta memastikan suami tidur cukup, sekitar 7–9 jam sehari untuk kebanyakan orang dewasa.
5. Bicarakan Opsi Medis Secara Halus
Jika penurunan libido disertai dengan kelelahan ekstrem, kondisi hati yang sangat buruk, maupun tanda-tanda depresi, ajak suami untuk berkonsultasi ke tabib urologi maupun andrologi.
Pemeriksaan medis, termasuk tes darah untuk mengukur kadar testosteron jika diperlukan, dapat membantu menemukan penyebab keluhan. Kadar testosteron yang rendah perlu dinilai berbareng gejala dan hasil pengecekan dokter. Dengan begitu, suami bisa mendapatkan penanganan yang terlindungi dan tepat sesuai kondisinya.
Menghadapi fluktuasi seksual pada pasangan di usia 40-an dan 50-an memang membutuhkan kesabaran ekstra dan keterbukaan. Ingat, ya, Mommies, suami yang apatis di ranjang bukan selalu berarti perasaannya terhadap Mommies mulai meredup, melainkan bisa menjadi sinyal bahwa tubuh maupun kondisi emosionalnya sedang membutuhkan perhatian dan empati. Ini justru jadi momen yang pas untuk membuktikan ikrar perkawinan kalian: in good times and in bad, in sickness and in health.