Bunda Termasuk Orang Tua Overprotektif? Ketahui Ciri-Ciri dan Dampaknya ke Mood Anak

Jul 04, 2026 01:50 PM - 1 bulan yang lalu 29681

Ciri-ciri orang tua overprotektif perlu diperhatikan sejak awal, jangan sampai ini nantinya memengaruhi perkembangan mental dan mood anak. Bunda termasuk salah satunya?

Pola asuh overprotektif dikenal juga sebagai pola asuh helicopter alias helicopter parenting.

Orang tua condong terlalu melindungi anak, sampai-sampai jadi sangat terlibat dalam kehidupan sehari-hari anak. Bahkan saat mereka perlu mengambil keputusan sederhana.  


Mengenal pola asuh overprotektif

Orang tua overprotektif biasanya mempunyai perilaku mengontrol berlebihan dan pembatasan terhadap kemandirian anak.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Child Development menyebut bahwa perilaku overprotektif menjadikan orang tua terlalu sering ikut campur, melampaui yang dibutuhkan alias diinginkan anak. Hal ini berisiko menghalang terpenuhinya kebutuhan psikologis dasar anak, terutama di usia remaja.

Dalam praktiknya, kondisi ini sering kali juga berubah menjadi tarik ulur antara orang tua yang terlalu resah dan remaja yang sedang belajar mandiri.

Studi tentang pola asuh overprotektif

Peneliti dari Erasmus University Rotterdam menemukan bahwa meskipun banyak orang tua berupaya melindungi anaknya, keterlibatan yang berlebihan justru dapat memberikan akibat sebaliknya.

Dalam studinya, peneliti meminta para remaja melaporkan mood mereka beberapa kali setiap hari selama satu minggu, sekaligus menilai sejauh mana mereka merasa orang tuanya bersikap overprotektif.

Hasilnya menunjukkan bahwa para remaja condong merasa mood-nya jadi lebih jelek pada ada perilaku overprotektif dari orang tuanya.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan dua arah, ialah suasana hati yang sedang jelek juga dapat terjadi sebelum meningkatnya persepsi terhadap perilaku overprotektif orang tua.

Hal ini mengindikasikan bahwa orang tua memang bisa menjadi alias setidaknya terlihat lebih protektif ketika remaja sedang mengalami kesulitan.

Penelitian sebelumnya juga melaporkan akibat serupa. Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam Journal of Youth and Adolescence menemukan bahwa remaja dengan pola asuh overprotektif lebih banyak mengalami kesulitan emosional, perilaku antisosial, serta pencapaian akademik yang lebih rendah.

Alasan orang tua bersikap overprotektif

Perilaku overprotektif mungkin terdengar sebagai sesuatu yang sebaiknya dihindari. Namun, ada argumen psikologis yang membikin banyak orang tua tanpa sadar melakukannya.

"Meski didasari niat baik, pola asuh overprotektif umumnya dipicu oleh kecemasan. Karena itu, perilaku ini muncul dari kemauan untuk mencegah sebanyak mungkin pengalaman jelek yang mungkin dialami anak," ujar peneliti Maura Francis, PhD, LP, seperti dikutip dari Parents. 

Ciri-ciri orang tua overprotektif

Orang tua yang overprotektif mempunyai beragam karakteristik. Sebagian didorong oleh rasa takut anak mengalami cedera, sementara yang lain cemas anak tidak bakal sukses tanpa keterlibatan mereka secara terus-menerus.

Meski latar belakangnya berbeda-beda, berikut beberapa tanda umum dan ciri-ciri pola asuh overprotektif:

1. Mengendalikan setiap pilihan anak

Dikutip dari Healthline, jika Bunda terus-menerus mengambil keputusan besar maupun mini untuk anak tanpa memberi kesempatan baginya mempertimbangkan beragam pilihan sendiri, bisa jadi Bunda termasuk orang tua overprotektif.

Misalnya, ketika anak mau mencoba perihal baru seperti olahraga alias kegemaran tertentu, tetapi Bunda memaksa mereka tetap melakukan perihal yang sudah dikenal alias yang Bunda inginkan. 

Sikap ini dapat menghalang kemauan anak untuk berkembang, menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada mereka, sekaligus menganggap orang tua selalu lebih tahu daripada anak.

Padahal, krusial bagi anak untuk mempunyai ruang dalam mempertimbangkan pilihannya sendiri. Orang tua boleh memberikan saran, tapi anak juga perlu percaya diri dengan pendapatnya sendiri.

2. Selalu mencegah anak dari kegagalan

Jika orang tua selalu turun tangan saat anak menghadapi masalah, perihal tersebut juga bisa menjadi ciri-ciri pola asuh overprotektif. 

Setiap anak pada dasarnya mempunyai daya juang untuk bangkit kembali alias disebut sebagai resilience, tetapi keahlian itu hanya berkembang jika mereka diberi kesempatan untuk kandas dulu.

3. Bereaksi berlebihan terhadap kegagalan

Ciri-ciri orang tua overprotektif selanjutnya adalah selalu bereaksi besar saat anak mengalami kegagalan. Reaksi yang demikian susah membantu anak beradaptasi dan berkembang.

4. Terlalu takut anak terluka

Terjatuh alias mengalami luka ringan merupakan bagian dari masa kanak-kanak. Selama anak tidak berada dalam ancaman yang nyata, cobalah sesekali menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. 

Apabila Bunda selalu bereaksi demikian, anak mungkin tidak bakal pernah betul-betul belajar mandiri.

5. Terlalu konsentrasi pada pencapaian

Terlalu konsentrasi pada prestasi anak juga rentan membikin orang tua lupa menikmati momen-momen sederhana berbareng mereka.

Perhatian yang hanya tertuju pada prestasi akademik dan pencapaian terukur dapat berakibat jelek pada kesehatan mental dan emosional anak.

Menggunakan bingkisan yang berlebihan untuk memotivasi anak alias balasan yang sangat keras untuk mencegah mereka melakukan kesalahan juga merupakan salah satu tanda pola asuh overprotektif.

Dampak pola asuh overprotektif

Berikut beberapa akibat yang bisa terjadi pada mood dan kesehatan mental anak jika diberi pola asuh overprotektif:

1. Anak menjadi tidak siap menghadapi tantangan

Salah satu akibat yang paling nyata adalah anak menjadi kurang siap menghadapi beragam tantangan hidup. Alasannya, mereka terbiasa orang tua yang selalu ada untuk membuatkan rencana dan menyelesaikan semua masalah.

2. Anak jadi suka berbohong

Jika anak merasa terlalu dikekang oleh pola asuh yang sangat mengontrol, mereka lebih mungkin jadi suka mendusta nantinya.

Ketika merasa tidak bisa memenuhi tuntutan yang terlalu tinggi alias patokan yang sangat ketat, mereka juga bisa memutarbalikkan kebenaran demi menghindari respons orang tua.

3. Kurang percaya diri

Apabila orang tua selalu mengerjakan segala sesuatu untuk mereka, mereka bakal terbiasa berambisi orang tua juga mengerjakan hal-hal lain yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri.

Akibatnya, alih-alih berani menghadapi tantangan baru, mereka justru lebih memilih menunggu orang lain menyelesaikan masalahnya.

Selain itu, sebuah studi tahun 2013 dari University of Mary Washington di Virginia menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola helicopter parenting lebih rentan mengalami kekhawatiran pada akhir masa remaja.

4. Anak menjadi penakut

Jika orang tua terus-menerus melarang anak melakukan beragam perihal yang sebenarnya hanya berisiko kecil, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang terlalu takut mencoba perihal baru.

Anak mungkin cemas bakal terluka alias ditolak, sehingga akhirnya menghindari mencoba pengalaman baru.

5. Merasa selalu berkuasa mendapatkan sesuatu

Anak yang terbiasa segala keinginannya dipenuhi oleh orang tua juga bakal kesulitan menerima realita bahwa hidup tidak selalu melangkah sesuai keinginannya.

Mereka apalagi bisa merasa berkuasa mendapatkan sesuatu yang sebenarnya belum mereka usahakan.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri orang tua overprotektif dan dampaknya bagi tumbuh kembang anak. Semoga berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya