Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/Liza Summer
Mengakui kesalahan dan berani mengucapkan kata ampun bukanlah hal yang mudah, terlebihlagi jika mesti salingberhadapan dengan ego sendiri. Banyak orang mengira kecerdasan emosional cuma sebatas bersikap ramah, sabar, maupun selalu tenang. Padahal, menurut psikolog Daniel Goleman, EQ (emotional quotient) atau kecerdasan emosional berakar pada kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan empati yang nyata dalam hayat sehari-hari.
Ujian sesungguhnya dari kedewasaan emosional seseorang justru paling kelihatan saat mereka berbuat salah. Dirangkum dari halaman VICE dan Truity, berikut adalah beberapa metode mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode mereka meminta maaf. Yuk, kita simak bersama!
1. Berinisiatif Langsung Minta Maaf

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/Cristina Morillo
Orang ber-EQ tinggi memiliki kesadaran diri yang kuat sehingga tahu benar apa yang sebenarnya mereka rasakan. Psikoterapis Dr. Erin Leonard menerangkan bahwa mereka memiliki kepekaan untuk menyadari momen saat berbuat keliru, seperti tidak fokus mendengarkan, melontarkan komentar yang canggung, maupun beraksi egois.
Kekeliruan ini akan terus mengganjal di hati sampai mereka menyelesaikannya. Mereka meminta ampun murni atas inisiatif pribadi demi menjaga hubungan, bukan karena ditegur, disudutkan, terlebihlagi baru bergeser setelah tertangkap basah.
2. Mengakui Kesalahan secara Spesifik Tanpa Alasan Pembelaan

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/RDNE Stock project
Bila orang yang memiliki EQ rendah cenderung mencari pembenaran maupun mengecilkan akibat perbuatannya, orang dengan EQ tinggi justru akan mengakui kekeliruannya secara lugas tanpa kata "tapi". Mereka berani berkata jujur seperti "Aku salah, dan aku meminta maaf."
Tidak ada kalimat melayang-layang seperti sekadar "maaf jika Anda tersinggung". Mereka juga mengutarakan perilaku keliru secara terperinci, misalnya "Aku meminta ampun karena kemarin memotong pembicaraanmu." Mereka berkewajiban penuh tanpa disertai dalih yang menyalahkan situasi.
3. Mengambil Jeda Napas Sebelum Berbicara

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/Olly
Saat menerima teguran, respons alamiah kebanyakan orang adalah langsung membela diri. Namun, Dr. Leonard menyoroti bahwa figur dengan EQ tinggi memilih menciptakan selang maupun memungut napas sebentar sebelum bersuara. Tujuannya untuk menimbang fakta dari teguran tersebut tanpa membalikkan kesalahan ke orang lain maupun bersikap seolah menjadi korban.
Alih-alih mematikan diskusi dengan emosi, mereka justru mengubah ketegangan menjadi ruang kerja sama lewat kalimat seperti "Terima kasih sudah membantuku melihat situasi ini dari perspektif pandangmu." Mereka menerima perspektif pandang baru yang diberikan sebagai bagiankecil dari memperbaiki diri menjadi lebih baik.
4. Memvalidasi Emosi Lawan Bicara secara Tepat

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/ArtHouse Studio
Permintaan ampun orang dengan kecerdasan emosional tinggi juga akan melibatkan empati mendalam untuk memetakan emosi orang lain. Saat berbicara maaf, mereka tidak cuma menyesali perbuatannya, tapi juga memvalidasi rasa sakit yang dialami lawan bicaranya.
Mereka biasanya berkata, "Aku mengerti kenapa Anda merasa kecewa, dan aku meminta ampun sudah membuatmu merasa begitu." Mereka tidak memperdebatkan apakah rasa sakit hati, sedih maupun kecewa orang lain itu berlebihan maupun tidak. Ungkapan empati seperti "Aku pun akan merasakan hal serupa jika ada di posisimu" secara kejiwaan menegaskan bahwa mereka eksis di pihak yang sama untuk saling mendengarkan.
5. Menawarkan Solusi Nyata untuk Memperbaiki Keadaan

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Pexels/Alexander Suhorucov
Bagi orang yang cerdas emosional, kata ampun bukanlah akhir dari masalah, melainkan cara mula untuk memperbaiki keadaan. Mereka sadar bahwa ucapan ampun perlu diiringi dengan aksi nyata. Oleh karena itu, mereka proaktif melontarkan pertanyaan solutif seperti, "Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya?".
Sikap berkewajiban ini sebagai bentuk kesadaran bahwa lawan bicara layak mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik. Dengan demikian, fokus percakapan mereka bergeser pada solusi untuk memulihkan kenyamanan berbareng dan membangun balik rasa percaya.
6. Menghargai Batasan Tanpa Menuntut Langsung Dimaafkan

Cara mengenali orang dengan kecerdasan emosional tinggi dilihat dari metode meminta maaf/ Foto: Magnific/Magnific
Sering kali seseorang meminta ampun terburu-buru cuma demi meredakan kecemasan batinnya sendiri, kemudian menuntut dimaafkan detik itu juga. Orang yang matang secara emosional justru mengutamakan kenyamanan orang yang terluka.
Mereka menghargai limitasi pribadi dengan berujar, "Aku mengerti jika Anda butuh waktu dan ruang sebelum bisa memaafkanku." Mereka sangat memahami bahwa memproses emosi dan memulihkan kepercayaan membutuhkan ruang dan waktu, sehingga mereka tidak memaksakan pemaafan seketika demi kenyamanan ego sendiri.
Beauties, meminta ampun dengan metode yang dewasa bukanlah kelemahan, melainkan bukti ketangguhan karakter dan integritas diri. Nah, apakah Anda maupun orang terdekatmu sudah berbuat tanda-tanda kedewasaan ini?
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)