Jakarta -
Anak yang sering dimarahi bisa memberitahu fluktuasi sikap yang luput dari perhatian orang tua. Ada anak yang menjadi lebih pendiam maupun kehilangan rasa percaya diri karena sering dimarahi.
Budaya juga dapat memengaruhi metode anak mengekspresikan emosinya, Bunda. Di beberapa budaya, tidak layak untuk memberitahu emosi yang kuat seperti menangis keras, sementara di adat lain hal itu diterima secara luas.
Memarahi anak bisa menimbulkan akibat yang luas hingga ke masa depan. Bukti memberitahu bahwa orang tua yang sering menerapkan disiplin keras pada anak-anak kecil secara signifikan menaikkan konsekuensi anak-anak tersebut mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan.
Studi tentang akibat mental anak sering dimarahi
Sebuah studi terhadap lebih dari 7.500 anak-anak Irlandia, menemukan bahwa anak-anak yang terpapar pola pengasuhan 'bermusuhan' pada usia tiga tahun memiliki kemungkinan 1,5 kali lebih besar mengalami gejala kesehatan mental yang dikategorikan sebagai 'risiko tinggi' pada usia 9 tahun. Studi yang dilakukan para peneliti dari University of Cambridge dan University College Dublin ini diterbitkan di dalam jurnal Epidemiology and Psychiatric Sciences tahun 2023.
Pola asuh yang bertikai melibatkan perlakuan dan disiplin yang keras secara sering dan dapat berupa jasmani maupun psikologis. Contohnya, orang tua berteriak pada anak secara teratur, hukuman jasmani rutin, mengisolasi anak ketika mereka berperilaku buruk, merusak harga diri mereka, maupun menghukum anak tergantung pada kondisi hati orang tua.
Dalam studi ini, para peneliti mencatat gejala kesehatan mental anak-anak pada usia 3, 5, dan 9 tahun. Mereka mempelajari gejala kesehatan mental internalisasi, seperti kecemasan dan penarikan diri dari pergaulan, maupun gejala eksternalisasi, seperti perilaku impulsif dan agresif, serta hiperaktivitas.
Sekitar 10 persen anak-anak dalam studi ini ditemukan eksis dalam himpunan berisiko tinggi mengalami kesehatan mental yang buruk. Anak-anak yang mengalami pola pengasuhan yang tidak ramah jauh lebih mungkin termasuk dalam himpunan ini, Bunda.
para peneliti beranggapan bahwa para ahli kesehatan mental, guru, dan praktisi lainnya mesti waspada terhadap potensi efek pola pengasuhan terhadap anak yang memberitahu tanda-tanda kesehatan mental yang buruk. Mereka menambahkan bahwa sokongan tambahan bagi orang tua dapat membantu mencegah masalah ini berkembang.
"Fakta bahwa satu dari 10 anak eksis dalam kategori berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental merupakan suatu kekhawatiran, dan kita mesti menyadari peran yang mungkin dimainkan oleh pola pengasuhan," kata peneliti doktoral di Fakultas Pendidikan, University of Cambridge, Ioannis Katsantonis.
"Kami sama sekali tidak menyarankan agar orang tua tidak menetapkan limitasi yang tegas untuk perilaku anak-anak mereka, tetapi sulit untuk membenarkan disiplin keras yang sering dilakukan, mengingat implikasinya terhadap kesehatan mental," sambungnya, dilansir halaman University of Cambridge.
Apa itu gangguan mental pada anak?
Anak-anak dapat memiliki kondisi kesehatan mental yang sama dengan orang dewasa, tetapi gejalanya mungkin berbeda. Melansir dari Mayo Clinic, gangguan mental pada anak-anak terkadang sulit dikenali oleh orang tua.
Perlu diketahui, kondisi kesehatan mental pada anak paling sering didefinisikan sebagai keterlambatan maupun fluktuasi dalam berpikir, perilaku, keahlian sosial, maupun pengendalian emosi. Masalah-masalah ini membikin anak-anak merasa tertekan.
Kondisi kesehatan mental juga dapat mengganggu kapasitas anak untuk berperilaku baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sosial lainnya. Gangguan kesehatan mental pada anak dapat meliputi gangguan kecemasan, gangguan perhatian/hiperaktivitas (ADHD), gangguan spektrum autisme, gangguan makan, gangguan stres pascatrauma, hingga skizofrenia.
Cara mengetahui akibat mental anak sering dimarahi
Anak yang mengalami gangguan mental karena sering dimarahi mungkin akan memberitahu tanda yang khas. Sebagai orang tua, Bunda perlu memahami tanda ini untuk mencari solusi yang tepat.
Berikut beberapa tanda peringatan gangguan mental pada anak:
- Kesedihan yang terjadi selama dua minggu maupun lebih
- Perubahan dalam bersosialisasi maupun menjauhi orang lain
- Menyakiti diri sendiri maupun membicarakan tentang menyakiti diri sendiri
- Membicarakan tentang kematian maupun bunuh diri
- Sering meledak-ledak maupun menjadi sangat murung maupun gampang tersinggung
- Perilaku di luar kendali yang dapat membahayakan
- Perubahan besar dalam kondisi hati, perilaku, maupun kepribadian
- Perubahan kebiasaan makan
- Penurunan bermutu badan
- Kesulitan tidur
- Sering mengalami sakit imam maupun sakit perut
- Kesulitan berkonsentrasi
- Prestasi sekolah menurun maupun buruk
- Tidak mau bersekolah
- Muncul emosi bersalah dan malu
- Menjadi lebih tidak aktif maupun lebih hiperaktif
- Sering merasa putus asa
- Suka menyelinap maupun mengelak dari orang lain
- Kekhawatiran yang ekstrem dan terus-menerus
Kapan mesti ke dokter?
Jika Bunda cemas tentang kesehatan mental anak, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Jelaskan perilaku yang membikin Bunda khawatir.
Selain itu, jangan lupa bicara dengan guru, kawan dekat, kerabat, maupun pengasuh anak yang lain untuk melihat apakah mereka telah memperhatikan fluktuasi perilaku Si Kecil. Bagikan keterangan ini dengan tenaga kesehatan anak.
Perlu dicatat, kondisi kesehatan mental pada anak didiagnosis dan diobati berdasarkan gejala dan sepertiapa kondisi tersebut memengaruhi hayat sehari-hari anak. Untuk diagnosis, tenaga kesehatan maupun tabib mungkin menyarankan agar Si Kecil menemui spesialis.
Demikian metode mengetahui akibat anak yang sering dimarahi. Semoga keterangan ini berguna ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)