Cara Setan Memperdaya Ahli Ibadah

Jan 12, 2026 07:29 PM - 5 bulan yang lalu 160629

Kincai Media , JAKARTA -- Alkisah, di kalangan Bani Israil terdapat seorang mahir ibadah. Ia rutin bermohon di rumahnya yang terletak di atas gunung. Pada suatu hari, dia keluar dari rumahnya untuk berjalan-jalan sembari mengagumi keelokan alam buatan Allah.

Tiba-tiba, lewatlah seseorang yang berbau kurang sedap di hadapannya. Ahli ibadah itu segera beralih dan mempercepat langkahnya. Pemandangan itu kemudian dilihat oleh setan.

Lantas, setan ini menampakkan dirinya dalam bentuk manusia. Makhluk terkutuk itu tampil dengan rupa seorang tua renta.

“Wahai hamba Allah! Sungguh, kebaikan kebaikanmu menguap, tidak dihitung di sisi Allah,” kata kakek yang adalah setan itu.

“Mengapa begitu?”

“Karena engkau enggan mencium aroma sesama manusia,” ucap setan itu seraya pura-pura berduka hati.

Sejurus kemudian, setan berparas manusia itu berbicara lagi dengan nada menasihati, “Kalau engkau mau Allah mengampuni kesalahanmu itu, hendaklah engkau memburu seekor tikus gunung. Lantas, sembelihlah dia dan gantungkan buntang tikus itu pada lehermu ketika shalat.”

Mendengar itu, mahir ibadah tersebut langsung mengiyakan. Karena kebodohannya, dia terus melakukan ibadah dengan membawa najis hingga ajal menjemputnya.

Dalam kisah yang berbeda, setan berupaya menyesatkan seorang abid. Namun, kali ini orang yang digodanya itu tidak sekadar saleh, tetapi juga berilmu. Dialah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Sufi itu menuturkan ceritanya kepada jamaah. Pada suatu hari, dia sedang melangkah di padang yang lapang. Tiba-tiba, muncul sinar yang banget terang di arah ufuk. Lantas, bunyi memancar dari sumber sinar tersebut.

“Wahai Abdul Qadir! Ketahuilah bahwa saya adalah Tuhanmu!”

Sang mursyid tak bersuara saja, menunggu si bunyi menyelesaikan kalimatnya.

“Sungguh, saya telah mengkhususkanmu di antara semua manusia. Telah kuhalalkan bagimu semua perihal yang kuharamkan pada umumnya anak Adam!”

Sesudah itu, Syekh Abdul Qadir berbicara lantang, “Pergilah kau, wahai makhluk terkutuk! Engkau hanyalah setan yang tidak hentinya menjerumuskan manusia.”

Seketika, sinar terang benderang tadi berubah menjadi gelap pekat. Nada bunyi yang sama mengatakan, “Wahai Abdul Qadir! Sudah puluhan orang mahir ibadah kusesatkan dengan langkah demikian. Namun, engkau mengetahui siapa diriku dengan pengetahuan pengetahuanmu tentang Allah dan juga fikihmu. Kalau bukan lantaran ilmu, tentu saya dapat menyesatkanmu, seperti yang terjadi pada 70 abid yang telah kutemui.”

Dengan ilmu, pintu kesesatan tertutup rapat. Mengutip kitab At-Targib wat Tarhib, Nabi Muhammad SAW bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Daruquthni.

“Tidaklah Allah disembah dengan suatu ibadah yang lebih utama daripada memahami agama. Satu orang yang memahami kepercayaan itu lebih berat (bobotnya) bagi setan dibandingkan dengan menyesatkan seribu orang mahir ibadah. Dan, segala sesuatu itu ada tiangnya. Pilar kepercayaan Islam adalah ilmu.”

Selengkapnya