Perceraian adalah salah satu peristiwa yang paling mengguncang dalam kehidupan keluarga. Ia bukan hanya tentang suami istri yang berpisah, tetapi tentang perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Rumah yang dulu terasa utuh, sekarang terbelah. Rutinitas berubah. Suasana berbeda. Kehangatan mungkin terasa berkurang.
Bagi orang tua, perceraian mungkin adalah akhir dari sebuah hubungan. Namun bagi anak, perceraian bisa menjadi awal dari kebingungan batin: sedih, marah, kecewa, apalagi merasa kehilangan arah.
Seorang anak mungkin bertanya dalam hatinya: Mengapa ini terjadi? Apakah saya penyebabnya? Haruskah saya memilih salah satu? Apakah keluargaku sudah tidak normal lagi? Apa yang kudu saya perbuat setelah ini?
Islam sebagai kepercayaan yang sempurna tidak mengabaikan realitas ini. Syariat mengakui bahwa perceraian bisa terjadi. Namun, Islam juga menegaskan bahwa perceraian tidak boleh merusak akhlak, tidak boleh menghancurkan hubungan orang tua dan anak, serta tidak boleh menghilangkan tanggungjawab berbakti. Dan ada satu perihal yang sangat krusial untuk dipahami, ialah perceraian tidak menghapus tanggungjawab anak untuk berkhidmat kepada kedua orang tuanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا
“Kami wasiatkan kepada manusia agar melakukan baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Ayat ini tidak memberi pengecualian. Tidak ada keterangan “selama mereka rukun” alias “selama mereka tinggal bersama.” Artinya, dalam kondisi apa pun, termasuk setelah perceraian, tanggungjawab birrul walidain tetap berlaku.
Memahami perceraian sebagai bagian dari takdir Allah
Langkah pertama bagi anak adalah memahami bahwa perceraian adalah bagian dari takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Tidak ada musibah yang menimpa selain dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)
Ini bukan berfaedah perceraian adalah sesuatu yang ringan alias tidak menyakitkan. Ia tetap musibah. Namun sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi dalam pengetahuan dan hikmah Allah.
Terkadang, rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran, kekerasan, alias keburukan justru lebih merusak jiwa anak dibandingkan perpisahan itu sendiri. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia tidak selalu memahami hikmahnya.
Yang sangat krusial untuk dipahami, anak bukan penyebab perceraian. Allah Azza wa Jalla menegaskan,
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
“Seseorang tidak bakal memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
Anak tidak memikul kesalahan orang tua. Ia tidak menanggung dosa keputusan yang bukan miliknya.
Perceraian mengakhiri pernikahan, bukan hubungan orang tua dan anak
Perceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri. Ia tidak menghapus status ayah dan ibu. Seorang ayah tetap ayah, meskipun tidak lagi tinggal satu rumah. Seorang ibu tetap ibu, meskipun telah menikah lagi.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Pergaulilah keduanya di bumi dengan langkah yang baik.” (QS. Luqman: 15)
Berbakti tidak berjuntai pada keadaan hubungan mereka satu sama lain. Bahkan jika orang tua mempunyai kekurangan alias kesalahan, anak tetap diperintahkan untuk menjaga adab, tidak membentak, tidak merendahkan, dan tetap berbincang dengan sopan.
Baca juga: Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”
Tidak memihak secara zalim
Salah satu ujian terbesar anak setelah perceraian adalah tekanan untuk memihak. Kadang salah satu orang tua menceritakan kesalahan pasangannya. Kadang family besar ikut mempengaruhi. Anak bisa terbawa arus kebencian.
Namun, Allah Azza wa Jalla berfirman,
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Anak tidak boleh menzalimi salah satu orang tua hanya lantaran cerita sepihak alias emosi sesaat. Bersikap setara bukan berfaedah menutup mata dari kesalahan, tetapi tidak membenci secara membabi buta dan tidak memutus hubungan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak bakal masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memutus hubungan dengan ayah alias ibu lantaran perceraian adalah kesalahan besar.
Begitu pula orang tua yang telah berpisah juga kudu bisa bersikap setara kepada anak-anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اعدلوا بينَ أبنائِكُم ، اعدلوا بينَ أبنائِكُم
“Berlaku adillah di antara anak-anak kalian, bertindak adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ahmad)
Menjaga lisan dan rahasia keluarga
Di era media sosial, sering kali masalah family diumbar ke publik. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan keluarga. Perceraian bukan bahan cerita publik. Anak yang bijak menjaga kehormatan keluarganya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من ستر مسلمًا سترهُ اللهُ يومَ القيامةِ
“Barang siapa menutup kejelekan seorang Muslim, maka Allah bakal menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beragama kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara baik alias diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Meski orang tua telah berpisah, menjaga kehormatan family tetap menjadi bagian dari adab mulia.
Mengelola emosi dengan iman
Perceraian bisa saja melahirkan rasa marah kepada ayah, kekecewaan kepada ibu, kebencian terhadap keadaan, apalagi trauma terhadap pernikahan. Kesedihan dan marah adalah emosi manusiawi. Namun kebencian yang terus dipendam dan dipelihara bakal melukai diri sendiri.
Ingatlah berita ceria dari Allah, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bisa menahan kemarahan dan mempunyai sifat pemaaf,
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mengampuni (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang melakukan kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Menahan kemarahan bukan berfaedah menutup luka, tetapi mengelola emosi agar tidak merusak diri sendiri.
Bersabar dalam ujian
Allah Ta’ala menjanjikan berita ceria bagi orang yang sabar,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Berilah berita ceria kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Dan Allah juga berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar bakal diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Kesabaran dalam kondisi seperti ini bukan kesabaran yang lemah. Ia adalah kesabaran yang menguatkan iman.
Jangan jadikan luka sebagai argumen untuk rusak
Sebagian anak yang tumbuh dalam family berpisah berubah menjadi keras, pemberontak, jauh dari agama, alias membenci pernikahan lantaran pengalaman orang tuanya. Padahal, kesalahan orang tua bukan argumen untuk menghancurkan masa depan sendiri.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak bakal mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Menguatkan hubungan dengan Allah
Ketika rasa kondusif dari family terguncang, tempat sandaran yang paling kokoh adalah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah bakal mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3)
Doa menjadi kekuatan besar,
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)
Doa tetap dibaca, meskipun orang tua telah berpisah.
Menjadi anak yang lebih baik
Perceraian bisa membentuk dua jenis anak: 1) anak yang patah dan penuh luka; alias 2) anak yang matang dan bijak.
Ingatlah firman Allah Azza wa Jalla,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya berbareng kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Jadikan pengalaman pahit sebagai pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Saatnya bangkit
Perceraian orang tua memang bukan pilihan seorang anak, dan rasa sedih, kecewa, alias kehilangan adalah perihal yang manusiawi. Namun jangan biarkan luka itu mengubahmu menjadi pribadi yang keras, putus asa, alias jauh dari kebaikan. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh keadaan keluargamu, melainkan oleh sikapmu dalam menghadapi ujian tersebut. Jika engkau tetap berkhidmat meski hatimu terluka, tetap menjaga etika meski keadaan tidak mudah, dan tetap mendekat kepada Allah di saat rasa kondusif terasa goyah, maka sesungguhnya engkau sedang meninggikan derajatmu di sisi-Nya. Bisa jadi dari ujian ini Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih kuat. Jangan biarkan kesedihan menghancurkan masa depanmu, tetapi jadikan dia sebagai injakan untuk tumbuh menjadi insan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.
Baca juga: Sikap Terhadap Ibu yang Zalim dan Cara Menasihatinya
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·