Di era ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban kepercayaan dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lampau penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di kembali kesan tersebut, tersembunyi ancaman besar. Ia bisa membikin seorang penuntut pengetahuan merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,
إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ
“Sesungguhnya pengetahuan itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berupaya mencari kebaikan, dia bakal diberi; dan peralatan siapa menjaga diri dari keburukan, dia bakal dilindungi darinya.” [1]
Ilmu tidak datang hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk berbareng guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) datang di tengah bumi belajar, seorang penuntut pengetahuan perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.
Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi
Ilmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan alias ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia mempunyai ruh yang kudu dimuliakan, mempunyai etika diindahkan, dan mempunyai jalan tempuh yang kudu diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah etika sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]
Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa pengetahuan yang betul tidak bisa dipisahkan dari langkah mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil pengetahuan langsung dari pembimbing yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan lantaran sanad, niscaya siapa saja bakal berbicara sesuka hatinya.” [3]
Ketika pengetahuan diambil langsung dari pembimbing yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan pengarahan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membikin pengetahuan itu berkah, bukan hanya betul secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ustadz yang mulia.
AI sebagai perangkat bantu, bukan sandaran
Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ustadz di setiap era memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari langkah penggunaannya.
AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkarakter men-support saja, seperti memperbaiki penulisan alias merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,
ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ
“Karena itu para ustadz berkata: janganlah engkau mengambil pengetahuan dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]
Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang dia berikan.
Satu perihal yang perlu dicermati secara unik adalah penggunaan AI dalam translator teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa mempunyai makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir alias pengetahuan hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada akibat nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh alias apalagi keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, dia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi karena pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.
Risiko ketika terlalu berjuntai pada AI
Bergantung kepada AI mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya:
Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang angan pembimbing kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama pengetahuan datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila pengetahuan datang dari kalangan mini mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]
Sumber dan jalur pengetahuan menentukan keselamatan berakidah seseorang. AI tidak mempunyai sanad, tidak mempunyai guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang semestinya menyertai setiap pengetahuan syar’i. Keberkahan ini bertindak pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan pengetahuan dari apa yang dia pelajari langsung dari gurunya, yang dia renungkan sendiri sebelum dia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.
Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lampau merenungkan, lampau memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة
“Dalam pengetahuan ini, kudu ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut pengetahuan memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]
Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, dia kehilangan keahlian dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu berjuntai pada jawaban yang dihasilkan AI, kapabilitas untuk berpikir kritis dan berdikari (effortful thinking) bakal melemah seiring waktu. [7]
Ketiga, terasa mengerti padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar komplit dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan karena perbedaan pendapat, dan tidak ada pengarahan penerapan pengetahuan dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ
“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]
Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berasas jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, lantaran jemaah alias siswa mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.
Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berasas informasi teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam corak digital. Kenyataannya, tetap sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ustadz tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut pengetahuan hanya mengandalkan AI, dia hanya berputar di sekitar sebagian mini khazanah pengetahuan yang sudah ada di internet, sementara lautan pengetahuan yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.
Para ustadz salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu sabda dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,
أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ
“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut pengetahuan dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]
Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu pengetahuan datang secara instan, adalah metode yang para ustadz jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.
Baca juga: Status Fikih Karya yang Dihasilkan AI
Adab penuntut pengetahuan dalam memanfaatkan AI
Di era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut pengetahuan kudu memperhatikan beberapa catatan.
Pertama, menggunakannya sebatas perangkat bantu awal
AI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik alias menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami norma dan iktikad secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ustadz yang terpercaya dengan pengarahan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,
الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب
“Pada dasarnya, dalam menuntut pengetahuan itu yang pokok adalah belajar dengan pengarahan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk berbareng para syekh. Dan mengambil pengetahuan itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]
Jika mengambil pengetahuan dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat dobel ketika apa yang berasal dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama pengetahuan agama.
Kedua, serahkan kembali kepada para mahir ilmu
Apa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada pembimbing alias ustadz yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)
Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya pengetahuan ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil kepercayaan kalian.” [11]
AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak mempunyai kapabilitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang dia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang mempunyai kapabilitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalil
Jangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lampau mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan berbareng ulama. Saking berharganya pengetahuan dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman kepercayaan kudu menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,
إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم
“Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), ialah orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]
Hal ini bertindak pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang tetap kudu diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah akibat yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar bakal terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.
Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk berbareng guru
Kemudahan AI tidak boleh menjadi argumen meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk berbareng guru. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah bakal memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]
Jalan yang dimaksud adalah jalan yang betul-betul ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.
Kelima, perbaiki niat sejak awal
Pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya lantaran betul-betul mau memahami dan mengamalkan, ataukah hanya mau mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala kebaikan berjuntai pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan.” [14]
Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh lantaran mau menyampaikan pengetahuan yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa betul-betul menyelami apa yang bakal disampaikan kepada jemaah?
Kesimpulan
Ujian penuntut pengetahuan di era ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membikin seseorang merasa sudah tahu padahal belum betul-betul belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan keahlian berpikir mandiri. [15] Para ustadz pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa pengetahuan yang tidak ditempuh dengan betul tidak bakal menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,
وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم
“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih memerlukan sedikit etika daripada memerlukan banyak ilmu.’” [16]
Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan info tanpa ruh ilmu.
Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai perangkat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada etika yang telah diwariskan oleh para ustadz salaf (terdahulu).
Allah Ta’ala berfirman,
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)
Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan langkah yang paling mudah.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Baca juga: AI dan Risiko Bahayanya untuk Anak
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 5764, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith ash-Shahihah no. 342.
[2] Abd al-Fattah Muhammad Misilhi. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab, hal. 36.
[3] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 15. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
[4] Abd ar-Rahim bin Samayil al-Ulayani as-Sulami. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah, 12: 2.
[5] Muhammad Nasiruddin al-Albani. as-Silsilah ash-Shahihah, 2: 310.
[6] Ibn Rajab al-Hanbali. Sharh Ilal at-Tirmidzi, 2: 664.
[7] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances perseorangan creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290
[8] HR. Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud no. 3657, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
[9] Muhammad bin Ahmad as-Saffarini. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab, 2: 444.
[10] Bakr Abu Zaid. Hilyah Thalib al-Ilm, hal. 35. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
[11] Dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, 1: 14. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
[12] Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah, 2: 82. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
[13] HR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[14] HR. al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari no. 1 dan Muslim dalam Shahih Muslim no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
[15] Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances perseorangan creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290
[16] Muhammad Salih al-Munajjid. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid, 14: 196.
Daftar Pustaka
Abu Zaid, Bakr. Hilyah Thalib al-Ilm. Riyadh: Dar ar-Rayah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Albani, Muhammad Nasiruddin. as-Silsilah as-Shahihah. Riyadh: Maktabah al-Ma’arif.
al-Munajjid, Muhammad Salih. Durus li asy-Syaikh Muhammad al-Munajjid. Diakses melalui www.islamweb.net.
as-Saffarini, Muhammad bin Ahmad bin Salim. Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab. Diakses melalui www.islamweb.net.
as-Sulami, Abd ar-Rahim bin Samayil. Dirasah Mawdu’iyyah lil Ha’iyyah wa Lum’at al-I’tiqad wa al-Wasitiyyah. Diakses melalui www.islamweb.net.
asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. al-Muwafaqat fi Ushul asy-Syari’ah. Dar Ibni Affan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Doshi, A. R., & Hauser, O. P. (2023). Generative AI enhances perseorangan creativity but reduces the collective diversity of novel content. Science Advances, 10(28). https://doi.org/10.1126/sciadv.adn5290
Ibn Rajab al-Hanbali, Zayn ad-Din Abd ar-Rahman bin Ahmad. Sharh Ilal at-Tirmidzi. Tahqiq: Hammam Abd ar-Rahim Said. Cet. Ke-1. Zarqa: Maktabat al-Manar, 1407 H – 1987 M.
Misilhi, Abd al-Fattah Muhammad. Risalah fi al-Adab li Ashab at-Talab. Cet. Ke-2. asy-Syarqiyyah: Maktabat al-Ulum wa al-Hikam, 1440 H – 2019 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·