Tidak semua orang yang tampak berdikari betul-betul merasa baik-baik saja. Sebagian justru terbiasa memikul semua beban sendiri, meski sebenarnya sedang kelelahan dan memerlukan bantuan.
Kondisi ini dikenal sebagai hyper-independent, ialah kecenderungan untuk selalu mengandalkan diri sendiri serta enggan meminta pertolongan, meskipun ada orang yang siap memberikan dukungan.
Kebiasaan berdikari seperti ini sering kali terbentuk dari pengalaman hidup yang membikin seseorang merasa kudu selalu kuat dan bisa menyelesaikan masalah sendirian.
Dilansir Parade, pola pikir tersebut juga dapat tercermin dari kalimat yang sering diucapkan dalam keseharian. Ungkapan-ungkapan ini menjadi salah satu langkah mengenali seseorang yang mempunyai sifat hyper-independent.
7 Kalimat yang sering diucapkan orang hyper-independent
Berikut beberapa contoh umum yang sering disampaikan orang dengan hyper-independent:
1. “Saya tidak mau merepotkan siapa pun”
Orang yang sangat berdikari mungkin kesulitan untuk mengungkapkan kebutuhan mereka sendiri. Oleh lantaran itu, ungkapan tersebut mencerminkan kepercayaan bahwa kebutuhannya kudu didahulukan daripada orang lain.
2. “Aku baik-baik saja”
Menurut Psikolog sekolah bersertifikat, terapis, dan penulis kitab The Dysregulated Kid, Dr. Roseann Capanna-Hodge, ungkapan ini sering kali disampaikan orang-orang hyper-independent. Mereka condong merendahkan perasaannya sendiri.
Orang-orang ini juga sering meminimalkan stres lantaran telah belajar untuk mengatasi masalah sendiri daripada meminta support orang sekitar.
3. “Saya tidak butuh bantuan”
Orang yang sangat berdikari mungkin kesulitan menerima bantuan, bukan lantaran tidak menginginkan alias membutuhkannya, tetapi perihal itu membikin mereka merasa tidak nyaman.
Ungkapan ini mungkin terdengar kasar, tetapi menunjukkan bahwa respons ini bukan tentang kemampuan, melainkan soal emosi tidak nyaman menerima dukungan, Bunda.
4. “Aku bakal mencari solusinya sendiri”
Kalimat ini juga mencerminkan kepercayaan bahwa kemandirian adalah pilihan teraman. Mereka bakal berupaya mencari jalan keluar seorang diri, Bunda.
5. “Akan lebih mudah jika saya mengerjakannya sendiri”
Hal ini dapat mencerminkan kesulitan untuk mempercayai bahwa orang lain bakal menindaklanjuti. Jika pernah memikul beban kerja terberat dalam sebuah proyek, Bunda pasti memahami perihal ini.
6. “Aku bisa mengatasinya”
Capanna-Hodge mengatakan kalimat ini menjadi contoh utama ketika sistem sarafnya belajar menangani sesuatu sendiri terasa lebih kondusif daripada berjuntai pada orang lain.
7. “Jangan khawatirkan aku”
Ia menjelaskan bahwa menjadi sangat berdikari tidak terlalu berfaedah Bunda tidak mau berada di sekitar orang lain alias lebih suka sendirian. Justru, perihal itu bisa muncul dari kepedulian orang lain.
Banyak orang yang sangat berdikari sigap peduli pada orang lain, tetapi merasa tidak nyaman membiarkan orang lain peduli pada mereka.
Cara mengatasi kepribadian hyper-independent
Jika Bunda merasa mempunyai kecenderungan hyper-independent, cobalah mulai lebih terbuka untuk menerima support dari orang lain.
Sifat ini tidak selalu menjadi masalah, tetapi jika memicu rasa kesepian, kelelahan, alias membikin susah menjalin hubungan, ada baiknya mencari tahu penyebabnya.
Menurut Capanna-Hodge, langkah awal yang bisa dilakukan adalah meminta support dalam hal-hal kecil. Cara ini dapat membantu Bunda belajar merasa nyaman menerima support sekaligus mengenali emosi yang muncul saat tidak kudu mengandalkan diri sendiri.
Nah, itulah karakter orang dengan hyper-independent dan langkah mengatasinya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·