Dari Paris Ke Makkah, Beginilah Kekaguman Sarjana Prancis Terhadap Islam Dan Rasulullah Saw

Jan 27, 2026 07:58 AM - 3 bulan yang lalu 104235

Kincai Media , JAKARTA— Dalam sejarah sastra Barat, Islam jarang ditulis di luar dualisme ketakutan, distorsi, alias rasa mau tahu yang dangkal.

Selama berabad-abad, prasangka dan stereotip tentang kepercayaan Islam telah mengakar dalam khayalan Eropa, mulai dari "si asing" yang memicu hinaan dan sindiran, hingga "musuh budaya" yang dipandang dengan berprasangka dan waspada.

Namun di tengah kebisingan intelektual ini, muncul beberapa bunyi yang memilih mendengarkan daripada menghakimi, mendekati dan merenungkan, daripada menjauh dan menghakimi terlebih dahulu.

Di antara suara-suara ini, nama Victor Hugo, penyair dan novelis Prancis yang terkenal, bercahaya terang.

Ia memandang Islam sebagai pengalaman kemanusiaan dan spiritual mendalam, yang layak dibaca sebagai bagian dari perjalanan puitis dan intelektualnya dalam mencari makna kosmik dari kehidupan dan kematian, jiwa, dan kebebasan.

Penulis Les Misérables dan The Hunchback of Notre Dame ini tidak menulis kitab secara langsung tentang Islam, dan tidak mengusulkan tesis kepercayaan alias pembelaan ideologis, tetapi dia melakukan sesuatu yang lebih mendalam: dia memasukkan kepercayaan ini ke dalam puisinya sebagai kekuatan moral besar dan peradaban yang berkontribusi dalam membentuk kesadaran manusia, dan mempunyai pengaruh yang mendalam dalam sejarah.

Dalam tulisannya, Islam tidak muncul sebagai sesuatu yang asing, melainkan sebagai sumber jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu penyair sepanjang hidupnya: makna keberadaan, keadilan, cahaya, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Dan jika sastra Barat dipenuhi dengan nama-nama penulis yang memilih untuk memihak melawan Islam dan secara jelas menyatakan ketakutan mereka terhadap gagasan-gagasan pesimistis Islam, seperti Jean Chardin, penjelajah Prancis yang mengaitkan Islam dengan keanehan dan ancaman, dan Edward Gibbon, sejarawan Inggris yang menggambarkan kepercayaan Islam dalam konteks bentrok politik dan militer, serta Alexander Pope, penyair Inggris yang mengungkapkan keraguannya terhadap Timur dalam puisinya, hanya sedikit yang mencoba mendekatinya sebagai pengalaman spiritual yang utuh, dan Hugo adalah salah satu dari sedikit orang tersebut.

Selengkapnya