Jika Takdir Sudah Ditentukan, Mengapa Kita Masih Harus Berdoa?Kincai Media – Pertanyaan itu seolah sederhana, tapi menyimpan jebakan intelektual yang dalam: “Kalau takdir sudah ditentukan Tuhan, untuk apa kita berdoa?” Sebelum menjawabnya, perlu kita kembali terlebih dahulu: kenapa kita justru tidak berdoa? Apakah pertanyaan terbalik itu tidak sama relevannya? Di sinilah sesungguhnya obrolan yang menarik dimulai.
Pertanyaan tentang takdir dan angan bukan sekadar perdebatan teologis yang kering. Ia menyentuh langkah kita memandang diri sendiri, apakah kita pemasok yang aktif di bumi ini, ataukah sekadar wayang yang bergerak mengikuti skrip yang sudah tertulis jauh sebelum kita lahir. Jawaban kita atas pertanyaan ini bakal sangat menentukan gimana kita menjalani hidup.
Takdir Baru Disebut Takdir Setelah Terjadi
Ada satu kekeliruan konseptual yang paling sering membikin orang tersandung dalam memahami takdir, ialah menjadikannya sebagai argumen atas kondisi masa sekarang yang belum berubah. Takdir, secara epistemologis, hanya bisa diklaim ketika suatu peristiwa sudah betul-betul terjadi, bukan sebelumnya.
Bayangkan seorang pekerja gedung berjulukan Doni yang sudah bekerja tujuh tahun di tempat yang sama. Ketika ditanya apakah dia bakal terus bekerja seperti itu selamanya, dia menjawab:”Ya mau gimana lagi, sudah takdir seperti ini.”
Faktanya, takdir itu adalah kebenaran tujuh tahun lampau dia diterima bekerja sebagai pekerja bangunan. Bahwa ke depannya dia bakal tetap seperti itu, itu bukan takdir. Itu pilihan, alias lebih tepatnya: keputusan untuk tidak memilih. Dan kekeliruan semacam ini bukan sekadar salah secara logika; dia berpotensi merusak kehidupan.
Satu akibat yang tak bisa dielak adalah ini: kita tidak mengetahui apapun tentang masa depan. Kita memang mengimani bahwa Allah Swt. telah menuliskan segala sesuatu di Lauh Mahfudz. Tapi apakah kita bisa membacanya? Apakah kita bisa menyatakan dengan pasti bahwa inilah takdir saya sebelum dia terjadi? Tidak.
Maka takdir hanya bisa dijadikan pelajaran dan refleksi atas masa lalu, bukan tameng untuk menghindari ikhtiar di masa kini. Al-Quran dengan tegas mengecam mereka yang menjadikan kondisi sosial sebagai argumen untuk berakhir berusaha.
Dalam Surat An-Nisa’ ayat 97, Allah menggambarkan sebuah perbincangan yang mencekam antara malaikat dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan kejam terhadap diri sendiri:
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ ٩٧
Artinya; ”Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, ‘Bagaimana Anda ini?’
Mereka menjawab, ‘Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekkah).’ Mereka (para malaikat) bertanya, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga Anda dapat berhijrah di bumi itu?’ Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa’: 97]
Ayat ini adalah tamparan teologis bagi mereka yang berlindung di kembali kata”tertindas” atau”terpinggirkan” sebagai argumen untuk tidak bergerak. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang mempunyai keahlian untuk berubah namun memilih tak bersuara dengan argumen apapun termasuk menerima”takdir”, berada dalam kategori orang yang menzalimi dirinya sendiri. Ini bukan sekadar kesalahan akal, melainkan kesalahan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. [Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, hlm 522.]
Jebakan Jabariyyah: Ketika Iman Mematikan Agensi
Kesalahpahaman tentang takdir yang kita diskusikan bukan kejadian baru. Dalam sejarah teologi Islam, dia mempunyai nama: Jabariyyah. Aliran yang menganut determinisme absolut, di mana semua tindakan manusia dianggap semata-mata perbuatan dan kehendak Allah Swt., sehingga manusia tidak lebih dari boneka yang bergerak tanpa kehendak sendiri.
Konsekuensinya sangat fatal secara moral: jika semua adalah kehendak Allah, maka tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada pertanggungjawaban. Seorang pencuri mencuri lantaran Allah menghendakinya. Pembunuh membunuh lantaran itulah takdir. Paham ini ditolak keras oleh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah lantaran dia meruntuhkan fondasi etika dan norma dalam Islam.
Pada ujung spektrum yang berlawanan, terdapat aliran yang berjulukan Qadariyyah. Aliran ini justru menganggap manusia mempunyai kebebasan mutlak, tanpa kombinasi tangan Allah sama sekali.
Keduanya merupakan ekstremitas yang berbahaya. Jalan tengah yang digariskan oleh para ustadz Ahl al-Sunnah adalah konsep kasb (perolehan): manusia mempunyai kehendak dan keahlian untuk memilih, namun Allah-lah yang menciptakan daya dan keahlian tersebut. Manusia bertanggung jawab atas pilihannya, sementara Allah Maha Mengetahui apa yang bakal dipilih. [Al-Baghdadi, Al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 36;49.]
Doa Bukan Perisai, Doa adalah Jangkar
Berangkat dari ketidaktahuan kita tentang masa depan, dan dari kesadaran bahwa upaya manusia di ranah empiris tidak selalu mencapai tujuannya, di sinilah peran angan menemukan tempatnya yang paling tepat. Doa bukan pengganti usaha. Doa bukan jalan pintas menuju hasil tanpa kerja.
Doa adalah bentuk angan yang disandarkan kepada yang Transendental. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, dalam mahakarya tasawufnya Al-Hikam, menuliskan sebuah aforisme yang sangat dalam:
“Jika dalam doamu yang penuh dan sungguh-sungguh tetap ada keterlambatan dalam pemberian karunia, maka janganlah perihal itu membuatmu berputus asa. Sebab Dia telah menjamin responnya bagimu menurut apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang Anda pilihkan untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang Anda kehendaki.” [Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, Al-Hikam, hlm. 143.]
Manifestasi paling nyata dari angan bukanlah terkabulnya setiap permintaan, melainkan ketenangan jiwa yang datang apalagi ketika angan belum terjawab. Ketenangan itu bukan hasil sampingan, ketenangan itu adalah jawaban pertama Allah atas angan hambanya. Dan ketenangan jiwa itu, pada gilirannya, menjernihkan pikiran, menguatkan tekad, dan memampukan seseorang bekerja lebih optimal di ranah duniawi.
Doa dan Ikhtiar: Dua Sayap yang Tidak Bisa Terbang Sendiri
Maka sintesisnya adalah angan tanpa ikhtiar adalah arogan, seolah kita meminta Allah Swt. mengerjakan semua perihal sementara kita duduk menunggu. Ikhtiar tanpa angan adalah sombong, seolah kita bisa mencapai segalanya tanpa sandaran apapun di luar diri kita.
Keduanya kudu datang bersamaan, saling menopang. Ada sebuah atsar yang masyur dikaitkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. yang menggambarkan filosof dan pejuang sejati:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan Anda bakal hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan Anda bakal meninggal besok hari.”
Kalimat pertama mendorong ikhtiar yang gigih dan terencana; kalimat kedua mendorong angan dan kepasrahan yang tulus. Keduanya bukan kontradiksi, keduanya adalah satu nafas. Kisah para nabi pun mengajarkan perihal yang sama.
Nabi Ibrahim as. bermohon memohon keturunan yang salih, setelah puluhan tahun hidup, menikah, dan menjalani segala ikhtiar manusiawi. Nabi Musa as. bermohon memohon pertolongan Allah ketika Firaun mengejar di belakang dan laut menghadang di depan, bukan ketika dia tetap duduk di rumah tanpa mengambil langkah apapun. Doa adalah kelengkapan dari usaha, bukan pengganti usaha.
Demikian penjelasan mengenai pembahasan kenapa kita tetap kudu berdoa? Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·