Yudi Latif: Indonesia Merdeka Karena Gotong Royong

Aug 16, 2026 06:30 AM - 1 hari yang lalu 583

Kincai Media, Cendekiawan sekaligus Pembina Dompet Dhuafa, Prof Yudi Latif, menegaskan bahwa kekuatan utama yang melahirkan dan menjaga Indonesia hingga sekarang bukan semata aspek politik, melainkan budaya gotong royong yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

Yudi menjelaskan, pada masa kolonial, daerah Nusantara terdiri atas ratusan kerajaan dan kesultanan yang mempunyai sejarah panjang perlawanan terhadap penjajahan. Namun, perlawanan tersebut tetap berkarakter lokal dan sporadis lantaran belum mempunyai titik jumpa yang bisa menyatukan seluruh kekuatan bangsa.

"Kerajaan-kerajaan dan kesultanan di Nusantara itu jumlahnya antara 250 sampai 390. Mereka melakukan perlawanan, mulai dari Maluku, Jawa, Sumatra hingga Sulawesi. Tetapi lantaran masyarakatnya majemuk, terlalu mudah diadu domba dan perlawanannya tetap berkarakter lokal," ujar Prof Yudi Hal itu disampaikan Yudi dalam kegiatan Dialog Kebangsaan bertema "Pancasila Sebagai Nilai-Nilai Dasar Bernegara" di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, lahirnya Indonesia sebagai bangsa berasal dari ditemukannya "penyebut bersama" yang bisa menyatukan keragaman suku, agama, etnis, dan ideologi.

Yudi mengibaratkan kondisi bangsa seperti pecahan dalam matematika yang tidak dapat dijumlahkan tanpa mempunyai penyebut yang sama.

"Dalam matematika, pecahan-pecahan tidak bisa dijumlahkan selain penyebutnya disamakan. Indonesia datang sebagai penyebut berbareng yang menyatukan beragam perbedaan itu," ucapnya.

Ia menjelaskan, istilah Indonesia awalnya merupakan istilah etnologi dan pengetahuan permukaan bumi yang kemudian dipakai para pendiri bangsa sebagai pengganti nama Hindia Belanda. Pilihan tersebut menjadi corak perlawanan simbolik terhadap identitas yang diwariskan kolonialisme.

Namun, menurut Yudi, nama Indonesia saja tidak cukup. Bangsa ini memerlukan nilai berbareng yang menjadi perekat kebangsaan. Nilai itulah yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila.

Meski terdiri atas lima sila, Yudi mengutip pandangan Presiden pertama RI Soekarno yang menyebut inti Pancasila sesungguhnya adalah gotong royong.

"Kalau kata Bung Karno, inti Pancasila itu gotong royong. Ketika beragam pecahan itu berasosiasi dan bekerja sama, di situlah lahir kekuatan bangsa," ujarnya.

Yudi menilai gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang telah teruji sepanjang sejarah Nusantara. Ia mengutip pandangan mahir manajemen dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Edgar Schein, yang mendefinisikan budaya sebagai langkah bekerja dan bekerja sama yang terus diulang lantaran terbukti berhasil.

"Itulah budaya kita. Gotong royong adalah kekuatan yang telah teruji dalam sejarah bangsa ini," katanya.

Ia mencontohkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Menurut Yudi, keterlibatan masyarakat sipil, organisasi sosial, golongan pengajian, PKK, kampus, hingga organisasi menjadi aspek krusial dalam mempercepat penanganan pandemi.

"Ketika ibu-ibu pengajian, PKK, kampus, dan masyarakat ikut bergotong royong, persoalan yang susah bisa diselesaikan bersama," ujarnya.

Yudi juga menyinggung predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling murah hati di dunia. Menurut dia, perihal itu menunjukkan bahwa kekuatan budaya dan solidaritas sosial menjadi modal utama bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Yudi menilai kerjasama antara Dompet Dhuafa dan PARFI '56 menjadi contoh nyata praktik gotong royong dalam kehidupan modern.

"Ada PARFI, ada Dompet Dhuafa, ada banyak unsur yang berkolaborasi. Kalau kita gotong royong, hal-hal yang susah bisa diselesaikan," katanya.

Yudi menegaskan, peran seniman dan seniman juga mempunyai posisi krusial dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, kekuatan kebudayaan sering kali lebih memperkuat lama dalam ingatan masyarakat dibanding peristiwa politik.

"Peristiwa politik bisa dilupakan orang, tetapi memori kebudayaan dan seni mengendap lebih lama dalam ingatan bangsa," ujarnya.

Karena itu, pada usia kemerdekaan ke-81 RI, Yudi berambisi kebudayaan kembali menjadi kekuatan pemersatu bangsa di tengah beragam perbedaan dan tantangan zaman.

"Kekuatan budaya kudu memainkan peran besar untuk mengembalikan bangsa ini kepada jati dirinya. Indonesia dibangun oleh gotong royong," kata Yudi.

Selengkapnya