Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini dipenuhi warna dan kegembiraan. Warna merah putih menghiasi jalanan. Lomba-lomba digelar. Panggung intermezo berdiri. Tawa dan sorak sorai terdengar di beragam perspektif kampung dan kota.
Tidak ada yang salah dengan bergembira. Islam bukan kepercayaan yang mematikan rasa cinta tanah air alias melarang kegembiraan. Namun, kegembiraan dalam Islam mempunyai adab. Ia tidak boleh melampaui batas. Ia tidak boleh menjelma menjadi kelalaian. Ia tidak boleh menjadi pintu kemaksiatan. Dan di sinilah ujian itu muncul: ketika kegembiraan berubah menjadi kelalaian, ketika nasionalisme menggeser ketaatan, ketika seremoni menjadi pembenaran atas kemaksiatan.
Masalahnya bukan pada perayaannya. Masalahnya adalah ketika pemisah hukum dihapus atas nama budaya. Ketika dosa dinormalisasi lantaran “ini kan hanya setahun sekali”. Ketika pelanggaran dianggap mini lantaran dilakukan bersama-sama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, dia tidak menganggapnya penting, namun dengannya dia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa dosa sering kali datang dari perihal yang dianggap sepele. Dalam konteks seremoni kemerdekaan, ada beberapa corak pelanggaran yang kerap dinormalisasi, apalagi dianggap bagian dari budaya.
Berikut ini adalah dosa-dosa yang kerap terjadi saat seremoni kemerdekaan dan sayangnya, dianggap wajar.
Campur baur laki-laki dan wanita (ikhtilat) tanpa batas
Dalam banyak kegiatan 17-an, kita menyaksikan lomba dan intermezo yang mempertemukan laki-laki dan perempuan. Lomba-lomba dilakukan bercampur baur. Penonton saling berdesakan. Aurat terbuka. Pandangan tidak terjaga. Canda dan tawa menjadi tanpa batas.
Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan dengan sangat jelas,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beragama agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)
Dan kepada para wanita,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…’” (QS. An-Nur: 31)
Ikhtilat membuka pintu fitnah. Fitnah membuka pintu zina. Dan zina tidak selalu dimulai dengan perbuatan, tetapi dengan pandangan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ
“Janganlah kalian mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32)
Allah tidak berbicara “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Dan percampuran bebas adalah salah satu jalannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللّٰـهَ كَـتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا ، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَـحَالَـةَ: فَزِنَا الْعَيـْنِ: النَّظَرُ ، وَزِنَا اللّـِسَانِ: الْـمَنْطِـقُ ، وَالنَّـفْسُ تَـمَنَّى وَتَشْتَهِيْ ، وَالْفَـرْجُ يُصَدِّقُ ذلِكَ كُلَّـهُ وَيُـكَذِّبُـهُ
“Allah telah menulis atas anak Adam bagiannya dari zina, maka pasti dia menemuinya. Zina kedua matanya adalah memandang, zina lisannya adalah perkataan, zina hatinya adalah berambisi dan berangan-angan. Dan itu semua dibenarkan dan didustakan oleh kemaluannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan tuduhan yang lebih rawan bagi laki-laki setelahku selain wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah layak kita rayakan kemerdekaan dengan membuka pintu fitnah?
Musik dan intermezo yang melalaikan
Tidak sedikit seremoni kemerdekaan diisi dengan konser, dangdut malam, joget massal, hingga pesta yang jauh dari nilai norma dan kesopanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Akan ada dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), khamr, dan perangkat musik.” (HR. Bukhari)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)
Hiburan yang melalaikan menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan Anda dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Jika kekayaan dan anak saja bisa melalaikan, apalagi intermezo yang memang dirancang untuk membikin lupa. Sejatinya, musik menjauhkan hati dari zikir. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Apakah hati bakal tenang dengan kebisingan yang menjauhkan dari Allah?
Melupakan syukur kepada Allah
Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah. Namun, sering kali dia dirayakan tanpa sedikit pun rasa syukur. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Dan Allah Azza wa Jalla memperingatkan,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika Anda bersyukur, pasti Kami bakal menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat dalam ketaatan.
Bagaimana mungkin kita berterima kasih atas kemerdekaan jika dia digunakan untuk melanggar perintah Allah?
Menyerupai musuh jenis (tasyabbuh)
Dalam beberapa lomba alias panggung hiburan, sering kali laki-laki berdandan seperti perempuan, memakai busana wanita, bersuara lembut menirukan wanita, alias sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki. Semua dianggap kocak dan menghibur.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ الرِّجَالَ الْمُتَشَبِّهِينَ بِالنِّسَاءِ وَالنِّسَاءَ الْمُتَشَبِّهَاتِ بِالرِّجَالِ
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala juga berfirman,
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada kepercayaan (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada buatan Allah. (Itulah) kepercayaan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Menyerupai musuh jenis adalah corak penyimpangan dari fitrah. Dan ketika dia dinormalisasi dalam perayaan, generasi muda bakal menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Merayakan kemerdekaan dengan merusak fitrah bukanlah kebebasan. Itu adalah penyimpangan.
Tabarruj dan membuka aurat
Perayaan sering menjadi arena berdandan berlebihan. Pakaian ketat. Aurat terbuka. Riasan mencolok. Semua dianggap bagian dari kemeriahan. Padahal Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Janganlah kalian ber-tabarruj seperti tabarruj jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada dua golongan penunggu neraka, yang belum pernah saya lihat, ialah suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, dia melangkah berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak bakal masuk surga dan tidak bakal mencium aroma surga, padahal sesungguhnya aroma surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (HR. Muslim)
Kemerdekaan tidak pernah berfaedah bebas membuka aurat.
Kebebasan tidak pernah berfaedah bebas melanggar perintah Allah.
Melalaikan salat
Banyak kegiatan berjalan hingga magrib dan isya terlewat. Salat ditunda. Bahkan ada yang sengaja tidak berjemaah demi mengikuti lomba. Padahal, Allah Ta’ala berfirman,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
العهدُ الذي بينَنا وبينَهم الصلاةُ، فمَن تركَها فقد كفرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka dia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Apakah layak kemerdekaan dirayakan dengan mengabaikan perintah paling agung dalam Islam?
Kemerdekaan yang hakiki
Kemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati bebas dari perbudakan hawa nafsu. Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah Anda memandang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berasas ilmu-Nya dan Allah telah mengunci meninggal pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang bakal memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka kenapa Anda tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Maka, jika kita betul-betul mau merdeka, merdekalah dari dosa terutama kesyirikan.
Merdekalah dari kelalaian.
Merdekalah dari budaya yang bertentangan dengan syariat.
Rayakan kemerdekaan dengan doa.
Dengan syukur dan sedekah.
Dengan menjaga adab.
Dengan menanamkan iman.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan terbesar adalah ketika kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan selamat.
Wallāhu Ta‘ala a‘lam.
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media