Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan Dan Kolonialisme

Aug 17, 2026 03:03 PM - 1 hari yang lalu 542

Kincai Media, Ibadah haji bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berakhir sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Perjalanan menuju Tanah Suci juga menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengetahuan dan gagasan, serta tumbuhnya kesadaran berbareng tentang kondisi umat Islam di beragam bagian dunia. Dari Makkah, sebagian jamaah haji Nusantara membawa pulang semangat pembaruan dan kesadaran untuk melawan kolonialisme dan kolonialisme yang kemudian turut mempengaruhi aktivitas perlawanan terhadap kolonialis di Tanah Air.

Ibadah haji bukan hanya persoalan ritual tanggungjawab kepercayaan Islam, bukan pula hanya aspek ekonomi, jalinan keilmuan antara Nusantara dan Timur Tengah. Ibadah haji juga sebagai media transmisi aktivitas pembaharuan dan konsolidasi aktivitas perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara. Selain dari itu semua, ibadah haji juga sangat jelas menunjukkan kegunaan transformasi masyarakat.

Aktifitas perjalanan haji telah ada sejak masa-masa awal masuknya Islam di Nusantara. Artinya, sejarah haji di Nusantara berumur setua sejarah Islam sendiri lantaran begitu seseorang masuk Islam, dia dihadapkan pada lima tanggungjawab dasar yang kudu dipenuhi yang disebut rukun Islam (arkan al-Islam), menunaikan haji ke Makkah adalah salah satu dari rukun Islam.  

Di antara banyak kegunaan transformatif ibadah haji, satu di antaranya ibadah haji sebagai pemersatu kesadaran nasional di bumi Nusantara. Kesadaran nasional tidak hanya terbentuk di Indonesia, tapi juga tumbuh di luar negeri terutama di Makkah dalam suasana ibadah haji lantaran jamaah dari beragam daerah di Indonesia berdatangan setiap musim haji.

Bagi yang sudah mukim di Makkah mereka bebas melakukan pertemuan.

Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara. Bayangkan, di Makkah orang dari Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Minangkabau dan Aceh selama lima bulan bebas bergaul, tukar pengalaman dan pikiran.

Snouck Hurgronje mencatat gimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh terhadap Belanda, dan gimana mata mereka dibuka mengenai kolonialisme Belanda maupun Inggris dan Prancis atas bangsa-bangsa Islam. Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfaedah sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara.

Selengkapnya