Kincai Media, JAKARTA — Sejarah masuknya Islam ke Nusantara kembali mendapatkan sorotan krusial seiring ditemukannya bukti-bukti arkeologis terbaru di pesisir Sumatra Utara. Temuan ini berpotensi mengubah narasi arus utama (mainstream) yang selama ini menyebut bahwa Islam baru masuk dan berkembang di Kepulauan Nusantara pada abad ke-12 alias ke-13 Masehi.
Ery Soedewo dan Nur Ahmad dalam tulisan ilmiahnya berjudul Abbasid Coins in North Sumatra: Evidence of Interactions With Islamic Civilization in The 8th-9th Century AD yang dimuat di Amerta (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi) mengungkapkan, sejumlah sarjana Barat seperti Pijnapel, Snouck Hurgronje, hingga J.P. Moquette mengungkap teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar, India.
Pendapat tersebut didasarkan pada penanggalan batu nisan antik di Pasai dan Gresik dari abad ke-15 Masehi. Meski demikian, teori tersebut mengabaikan catatan-catatan awal hubungan langsung antara daerah Asia Barat (Timur Tengah) dan Nusantara.
Guru Besar Sejarah Islam, Prof Azyumardi Azra (almarhum), dalam karya-karyanya pernah mengulas arsip antik yang mencatat hubungan diplomatik awal tersebut. Salah satunya adalah catatan Kitab al-Hayawan karya al-Jahizh (783–869 M) dan al-‘Iqd al-Farid karya Ibn ‘Abd al-Rabbih (860–940 M).
Dokumen tersebut merekam adanya surat-menyurat antara Maharaja Hind—yang menguasai daerah kaya kapur barus dan rempah-rempah—dengan Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan serta Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (717–720 M). Pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, satu-satunya penguasa Nusantara yang menyandang gelar Maharaja tidak lain adalah Penguasa Kerajaan Sriwijaya.
Hubungan diplomatik dan perdagangan pada era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah ini dikuatkan oleh catatan petualang Buzurg ibn Syahriar al-Ramhurmuzi dalam 'Ajaib al-Hind (sekitar 1000 M), yang melaporkan keberadaan organisasi Muslim di daerah kekuasaan Kerajaan Zabaj/Zabag (Sriwijaya). Catatan Yijing (I-Tsing) pada abad ke-7 Masehi juga merekam keberadaan kapal-kapal pedagang Ta-shi (Arab/Parsi) yang melayari rute Guangzhou hingga Sumatra.
Bukti kearsipan dan literatur klasik tersebut sekarang menemukan pembuktian lapangannya melalui penemuan mata duit dirham Abbasiyah dan artefak Timur Tengah di Situs Bongal, Tapanuli Tengah. Penemuan ini memperjelas peta historiografi Islam Nusantara: bahwa hubungan dan kontak kebudayaan dengan pusat peradaban Islam di Timur Tengah telah terjalin erat sejak masa-masa awal Hijriyah.