“Impulsif”, sebuah kata yang maknanya sederhana: tindakan tiba-tiba tanpa dipikir panjang. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai keputusan yang diambil saat emosi memuncak—marah, kecewa, alias sekadar kesal—tanpa sempat menimbang dampaknya. Orang yang impulsif biasanya hanya merespons, bukan merencanakan. Ia bergerak lantaran pancingan, bukan lantaran tujuan. Dan di era yang serba sigap ini, di mana segala sesuatu berebut menarik perhatian kita, sikap impulsif menjadi jebakan yang kian susah dihindari. Padahal, Islam sangat memuliakan ketenangan, perencanaan, dan sikap tidak tergesa-gesa. Allah Ta’ala apalagi menyifati pembuatan langit dan bumi dengan penuh perhitungan, bukan dengan ketergesaan. Maka, seorang mukmin semestinya meneladani prinsip ini dalam setiap masalah, sekecil apa pun.
Coba renungkan sejenak: berapa banyak penyesalan yang lahir dari keputusan yang kita ambil tanpa pikir panjang? Kata-kata yang terlepas dari lisan saat marah, janji yang diucapkan tanpa perhitungan, alias pilihan-pilihan mini yang rupanya membawa akibat besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan,
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Ketenangan dan tidak tergesa-gesa itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Abu Ya’la no. 4256 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20270, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1795)
Jika ketenangan itu berasal dari Allah, maka perencanaan adalah salah satu corak ikhtiar untuk meraih ketenangan itu. Orang yang merencanakan urusannya sedang berupaya menyerupai hikmah ilahi dalam mengatur segala sesuatu. Tentu, perencanaan manusia tidak bisa sempurna, dan di atas segalanya, Allah-lah sebaik-baik perencana. Namun, sebagai hamba, kita diperintahkan untuk melakukan secara ihsan (profesional dan sebaik mungkin), termasuk dalam mengelola waktu dan keputusan. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan melakukan baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang melakukan baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195).
Maka, menulis rencana bukan sekadar kebiasaan produktif ala self-help, tetapi menjadi gambaran dari sikap ihsan seorang muslim terhadap waktu dan amanah hidupnya.
Mengapa kita merindukan waktu luang, tetapi menyia-nyiakannya saat dia datang?
Ada kejadian yang cukup umum kita alami: saat disibukkan oleh pekerjaan alias tugas, kita mengeluh kelelahan dan merindukan waktu luang. Dalam lamunan, kita membayangkan bakal melakukan banyak perihal produktif saat libur tiba—membaca Al-Qur’an, berzikir, membaca kitab yang lama tertunda, menulis, belajar keahlian baru, alias sekadar membersihkan hati dengan ibadah yang lebih khusyuk. Tapi, anehnya, ketika waktu senggang itu betul-betul hadir, kita justru kebingungan. “Mau ngapain, ya?” gumam kita di pagi hari sembari memandangi langit-langit kamar. Lalu, tanpa sadar, tangan meraih gawai, notifikasi satu per satu dibuka, dan tanpa terasa tiga jam berlalu hanya untuk scrolling tanpa tujuan.
Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana: lantaran kita tidak punya rencana. Waktu senggang yang tidak direncanakan bakal dengan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak bernilai. Setan sangat piawai mengisi kekosongan; bukan hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam aspek manajemen waktu. Dalam kekosongan rencana, dia bisikkan kemalasan. Ia hiasi kesia-siaan dengan tampilan yang menghibur. Akhirnya, waktu yang mulia berubah menjadi penyesalan. Rasulullah ﷺ bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)
Hadis ini begitu populer, tetapi seringkali kita hanya menghafalnya tanpa meresapi. Waktu senggang adalah nikmat yang kelak bakal dimintai pertanggungjawaban. Waktu senggang itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dihidupi dengan rencana yang bermanfaat. Dan rencana itu tidak bakal muncul begitu saja; kudu ditulis, dipikirkan, dan disengaja.
Kiat sederhana melawan distraksi
Pernahkah Anda mengalaminya? Malam hari, sebelum tidur, tekad sudah bulat: besok pagi bakal menulis rencana, membikin target, alias sekadar membereskan catatan-catatan yang berceceran di kepala. Namun, begitu pagi datang dan jemari baru saja membuka aplikasi catatan di ponsel, tiba-tiba sebuah notifikasi mampir. Grup WhatsApp ramai membahas sesuatu, media sosial menawarkan video pendek yang “menarik”, alias marketplace mengirimkan potongan nilai yang susah diabaikan. Dan tanpa terasa, tiga jam lenyap begitu saja. Rencana yang semula terang benderang di pikiran, tiba-tiba redup, lampau padam. Menjelang malam, penyesalan datang. Tapi keesokan harinya, siklus yang sama terulang lagi. Inilah potret kita hari ini: selalu beriktikad baik, tetapi kalah oleh algoritma yang memang dirancang untuk mencuri fokus.
Di sinilah saya mau menyampaikan saran yang sangat sederhana: miliki sebuah kitab notes mini dan pulpen. Ya, manual. Bukan digital. Bukan aplikasi canggih yang katanya bisa menyinkronkan segalanya. Sebab, kita semua maklum, perangkat yang sama yang kita gunakan untuk “produktif” adalah perangkat yang sama yang membuka ribuan pintu distraksi. Godaan itu nyata, dan dia dikemas sedemikian rupa agar kita lengah. Maka, sebelum menyesali waktu yang lenyap sia-sia, lebih baik kita mundur sejenak dari layar. Kita kembali kepada barang yang sunyi: kertas dan tinta. Tak mempunyai notifikasi. Tidak pula mengirimkan peringatan diskon. Ia hanya diam, menunggu tuannya mencurahkan isi kepala dan hatinya.
Duduklah berbareng kitab mini itu dalam keheningan. Momen ini adalah salah satu corak khalwah yang dianjurkan; bukan menyendiri untuk melakukan maksiat, tetapi menyendiri untuk menata jiwa dan pikiran. Para ustadz kita terdahulu banget berkawan dengan kebiasaan ini. Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah (w. 388 H) menuturkan dalam kitabnya, Al-‘Uzlah,
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشَدَّ تَثْبِيتًا لِلْإِيمَانِ، وَأَنْفَى لِلْمَعْصِيَةِ، وَأَحْيَا لِلْقَلْبِ مِنَ الْعُزْلَةِ وَالتَّفَكُّرِ
“Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih mengokohkan iman, lebih meniadakan kemaksiatan, dan lebih menghidupkan hati, melampaui ‘uzlah (menyendiri) dan tafakur.” (Al-Khaththabi, Al-‘Uzlah, hal. 44)
Dalam sunyi berbareng kitab catatan, otak kita dipaksa kembali bekerja, merangkai kata, mengurai masalah, dan merumuskan rencana. Tidak seperti mengetik di gawai yang seringkali otomatis dan sigap berlalu, menulis dengan tangan melibatkan proses kognitif yang lebih dalam. Ini adalah latihan bagi pikiran yang selama ini mungkin terlalu sering dimanjakan oleh kepintaran buatan.
Dengan kitab itu, tuliskan apa saja. Besok bakal mengerjakan apa. Pekan ini sasaran apa yang kudu dicapai. Kegelisahan apa yang mengganjal. Pengalaman baik yang baru saja terjadi. Atau, kesalahan yang kudu segera diperbaiki. Luapkan. Jangan pedulikan apakah tulisan itu rapi, indah, alias layak dipublikasikan. Tulisan yang jujur—yang lahir murni dari hati—memang tidak selalu rapi. Ia punya cela, punya luka. Dan di situlah letak autentisitasnya. Sebab, jika kita hanya menginginkan tulisan yang sempurna, AI bisa melakukannya dalam hitungan detik. Tetapi, bisakah mesin menggantikan kepuasan jiwa saat kita menuangkan isi jiwa sendiri di atas kertas? Tentu tidak. Karena yang kita butuhkan bukan sekadar deretan kata yang tersusun apik, melainkan jejak kejujuran yang bisa kita baca kembali suatu hari nanti—sebagai pengingat bahwa kita pernah berjuang, pernah lemah, dan pernah bangkit lagi. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)
Orang yang terlalu sibuk menatap layar—hingga melupakan dirinya sendiri—sedang berada dalam bahaya. Buku mini dan pulpen ini adalah perangkat sederhana untuk kembali mengingat: siapa kita, apa tujuan kita, dan ke mana langkah kaki ini hendak menuju.
Biasakan merencanakan, biasakan menyelesaikan
Kebiasaan merencanakan dan menulis ini mungkin bakal terasa canggung di awal. Tapi, percayalah, jika sudah menjadi kebiasaan, hidup Anda bakal terasa jauh lebih teratur. Saya berbincang dari pengalaman. Banyak dari kita menjalani hari-hari secara reaktif: ada masalah, bereaksi; ada ajakan, ikut; ada peluang, menyambar. Tanpa rencana, kita menjadi seperti kapal tanpa kemudi—bergerak, tetapi tidak menuju ke mana-mana. Padahal, seorang mukmin sejati adalah orang yang mempunyai visi. Ia tahu ke mana dia berjalan, lantaran dia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap pilihan bakal dihisab. Maka, dia tidak bakal membiarkan hari-harinya berlalu tanpa isi yang berarti.
Setelah merencanakan, langkah berikutnya adalah mengeksekusi. Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang pandai membikin rencana, tetapi hanya sedikit yang bisa menyelesaikannya. Di sinilah kitab mini itu kembali berperan. Ketika Anda mencoret item demi item yang telah sukses dikerjakan, ada rasa puas dan lega yang susah digambarkan. Coretan itu adalah bukti bahwa Anda maju. Bahwa Anda bukan sekadar pemimpi, tetapi pelaku. Rasulullah ﷺ bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang berfaedah bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah Anda merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664).
Perhatikan tiga kata kunci dalam sabda ini: ihrish (bersungguh-sungguh), ista’in billah (minta tolong kepada Allah), dan la ta’jiz (jangan lemah). Merencanakan adalah bagian dari ihrish. Berdoa agar rencana dimudahkan adalah ista’in billah. Dan mengeksekusi rencana hingga selesai tanpa menyerah di tengah jalan adalah corak menjauhi ‘ajz (kelemahan). Betapa padunya ruh produktivitas Islami yang diajarkan oleh Nabi kita ﷺ.
Akhirnya, marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunggu tahun baru, jangan menunggu awal bulan, jangan menunggu hari Senin. Ambillah selembar kertas, alias kitab mini yang mungkin sudah lama terlupakan di laci. Tuliskan rencana Anda untuk besok, alias apalagi untuk satu jam ke depan. Coret apa yang sudah selesai. Tulis pula apa yang berkecamuk di hati. Biarkan dia menjadi saksi bahwa Anda pernah berjuang untuk menjadi hamba yang lebih tertib, lebih terencana, dan lebih siap menghadapi hari esok—baik hari besok di dunia, maupun hari besok di alambaka yang abadi.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Memanfaatkan Waktu Luang untuk Hal-Hal yang Bermanfaat
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Kincai Media