Dialog Nabi Ibrahim Dengan Penyembah Berhala

May 17, 2026 07:59 AM - 3 jam yang lalu 164

Kincai Media , JAKARTA -- Alquran menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS sebagai pelajaran bagi umat manusia, terutama mengenai pentingnya berceramah dengan cara-cara yang rasional, konsisten pada kebenaran, dan beretika. Dalam surah Maryam ayat ke-41 hingga 48, Allah SWT berfirman tentang salah seorang rasul Ulul Azmi itu yang berbincang dengan sosok yang disebut sebagai ayah sang nabi. Para ustadz mahir tafsir menyatakan, bapak Ibrahim itu berjulukan Azar. Ada pula yang menyebutnya sebagai Tarih.

Profesor dari International Islamic University Malaysia, Spahic Omer menjelaskan, kisah perbincangan Nabi Ibrahim dengan ayahnya disebutkan bukan hanya dalam surah Maryam, melainkan juga di beberapa tempat dalam Alquran. Misalnya, surah al-An’am ayat 74, surah at-Taubah ayat 114, dan surah al-Mumtahanah ayat keempat.

Menurut Spahic Omer, ketika berbincang dengan Azar, Nabi Ibrahim tidak langsung menggunakan pendekatan ancaman alias doktrin wahyu semata. Sosok berjulukan Khalilullah itu memakai logika dan logika sehat lantaran memahami kondisi ayahnya yang tidak beragama kepada Allah, Sang Pencipta seluruh alam.

“Nabi Ibrahim mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih masuk logika dan lebih konsisten daripada kebenaran, sementara pada saat yang sama tidak ada sesuatu pun yang lebih tidak logis dan tidak konsisten daripada kebohongan,” ujar Spahic Omer dikutip dari About Islam pada Sabtu (16/5/2026).

Sejatinya, wahyu dan logika tidak pernah bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi dalam membimbing manusia menuju kehidupan yang betul dan bermakna.

Ia menilai, Nabi Ibrahim berupaya membangunkan kesadaran ayahnya dengan pertanyaan sederhana namun mendasar: gimana mungkin manusia menyembah berhala yang tidak dapat mendengar, melihat, maupun memberikan manfaat?

Dalam perbincangan itu, Ibrahim juga tampil bukan hanya sebagai nabi, tetapi sebagai anak yang peduli kepada ayahnya. Ia membujuk sang ayah meninggalkan sikap mengikuti tradisi secara membabi buta dan menjauhi tipu daya yang menyesatkan.

“Ibrahim menginginkan ayahnya bebas dan dapat membikin pilihan yang bebas dan masuk akal,” ujarnya.

Namun, nasihat tersebut tidak diterima. Menurut Spahic Omer, ayah Nabi Ibrahim telah dibutakan oleh kesombongan paganisme dan penyembahan terhadap kekuatan materi. Akibatnya, dia terus menukar kebenaran dengan kebohongan, serta kerasionalan dengan emosi dan hawa nafsu.

Kondisi itu membikin kecerdasannya “lumpuh” sehingga tidak lagi bisa memandang kebenaran secara jernih.

Selengkapnya