Divonis Harus Angkat Rahim, Bunda Ini Justru Hamil Secara Tak Terduga

Jul 16, 2026 05:55 PM - 4 minggu yang lalu 15618

Perjuangan mempunyai anak memang tak selalu melangkah mulus. Bagi sebagian Bunda, perjalanan menuju kehamilan kudu diwarnai dengan beragam tantangan kesehatan, termasuk endometriosis yang dapat menyebabkan nyeri dahsyat hingga mengganggu kesuburan.

Kisah ini dialami oleh Alyssa Fisher, seorang Bunda asal Houston, Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan endometriosis, mengalami beberapa kali keguguran, hingga memutuskan menjadwalkan operasi pengangkatan rahim (histerektomi), Alyssa justru mendapat berita yang tak pernah dia bayangkan. Beberapa minggu sebelum operasi dilakukan, dia dinyatakan mengandung secara alami. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Divonis kudu angkat rahim lantaran endometriosis

Alyssa dan suaminya, Breckan, sebenarnya sudah dikaruniai seorang putri berjulukan Olive. Namun, mereka sangat berambisi bisa memberikan adik untuk putri sulungnya.


Harapan itu rupanya tak mudah diwujudkan. Selama sekitar satu tahun mencoba mengandung lagi, Alyssa mengalami dua kali kehamilan kimia (chemical pregnancy). Selain itu, dia juga didiagnosis menderita endometriosis, adenomyosis, dan polycystic ovary syndrome (PCOS) yang semakin mempersulit peluangnya untuk hamil.

Pasangan ini kemudian berkonsultasi dengan master ahli fertilitas. Dokter menjelaskan bahwa kesempatan terbesar untuk mempunyai anak lagi adalah melalui program bayi tabung alias IVF. Namun saat itu, Alyssa merasa dirinya belum siap menjalani prosedur tersebut.

Di sisi lain, rasa nyeri akibat endometriosis semakin sering datang dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, master menemukan bahwa Alyssa juga mengalami adenomyosis, ialah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh ke tembok otot rahim.

Dilansir dari Mayo Clinic, adenomyosis adalah kondisi ketika jaringan yang melapisi bagian dalam rahim tumbuh ke tembok otot rahim. Selain itu, menurut National Library of Medicine Adenomyosis sering terjadi pada perempuan dengan endometriosis, dan sekitar 30 hingga 50 persen orang dengan endometriosis juga mempunyai adenomyosis.

"Endometriosis pada dasarnya mengambil alih setiap hari dan detik saya. Saya tidak bisa banyak berjalan, saya sangat, sangat capek sepanjang waktu," kata Alyssa.

Karena kondisinya semakin berat, master menyarankan histerektomi alias operasi pengangkatan rahim sebagai salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri kronis yang dialaminya. Bagi Alyssa, keputusan itu sangat berat. Ia tahu bahwa setelah rahim diangkat, dia tidak lagi bisa mengandung.

"Dari Januari hingga Agustus 2025, saya mulai tidak dapat berfaedah sebagai manusia. Ketika saya berbincang dengan AMIG saya, dia mengatakan bahwa saya kemungkinan besar dapat menjalani operasi sayatan, tetapi dia mengatakan endometriosis mungkin bakal kambuh. Dokter menambahkan bahwa jika saya sudah selesai mempunyai anak, histerektomi berpotensi memberi saya kelegaan," ujar Alyssa.

Meski berat, dia akhirnya menerima keputusan tersebut. Baginya, menghilangkan rasa sakit yang telah bertahun-tahun mengganggu juga menjadi corak mencintai dirinya sendiri.

"Saya tidak pernah ragu bahwa itu adalah jalan yang baik untuk saya, meskipun saya tidak menginginkannya. Saya mencoba semua pilihan pengobatan mereka, tetapi histerektomi dapat memberi saya kelegaan bulanan paling besar dengan siklus menstruasi saya yang berat dan adenomiosis saya," tuturnya.

Kejutan manis dua minggu sebelum operasi

Segala persiapan operasi pun mulai dilakukan. Jadwal histerektomi tinggal menghitung hari. Namun, sekitar dua minggu sebelum operasi, Alyssa menyadari menstruasinya terlambat. Awalnya dia sama sekali tidak berambisi lantaran sudah terlalu sering dikecewakan oleh hasil tes kehamilan sebelumnya. Meski begitu, dia tetap mencoba menggunakan test pack. Di luar dugaan, perangkat tersebut menunjukkan hasil positif.

"Sebagai 'upaya terakhir', saya memutuskan untuk menggunakan tes kehamilan kertas terakhir, saya memandang garis samar. Aku bilang pada suamiku bahwa dia kudu pergi membeli perangkat tes kehamilan digital, dan ketika saya menggunakannya saat pulang, saya memandang 'hamil'," kenangnya.

"Rasanya seperti kejutan besar. Aku juga akhirnya menerima realita bahwa saya tidak bakal pernah punya bayi lagi. Aku membuang sebagian besar perlengkapan bayi kami. Aku betul-betul tidak percaya kami bakal mengandung lagi. Rasanya terlalu bagus untuk menjadi realita bahwa saya memandang keajaiban terjadi dalam hidupku, yang hanya pernah kudengar terjadi pada orang lain," sambungnya.

Alyssa mengaku sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia apalagi berpikir hasil tes itu keliru. Setelah memeriksakan diri ke dokter, kehamilannya dipastikan benar. Kehamilan tersebut membikin rencana operasi histerektomi dibatalkan. Kini Alyssa dan keluarganya tengah menantikan kelahiran bayi wanita mereka. Putri sulungnya, Olive, juga tak sabar menyambut kehadiran sang adik. Bagi Alyssa, kehamilan ini terasa seperti bingkisan yang datang di saat dia sudah mulai mengikhlaskan mimpinya mempunyai anak lagi.

Mengenal endometriosis

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, misalnya pada ovarium, tuba falopi, alias organ di sekitar panggul.

Kondisi ini dapat menimbulkan beragam keluhan, seperti:

  • Nyeri menstruasi yang sangat hebat.
  • Nyeri saat berasosiasi intim.
  • Nyeri saat buang air mini alias buang air besar ketika menstruasi.
  • Perdarahan menstruasi berlebihan.
  • Sulit hamil.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), endometriosis merupakan salah satu penyebab infertilitas yang cukup sering terjadi. Sekitar 30 hingga 50 persen wanita dengan endometriosis mengalami kesulitan untuk hamil, meski tidak semua penderitanya mengalami gangguan kesuburan.

Para mahir menduga kondisi ini dapat mengganggu kesuburan lantaran menyebabkan peradangan kronis, terbentuknya jaringan parut di rongga panggul, hingga mengganggu proses pelepasan sel telur, pembuahan, maupun implantasi embrio.

Apakah penderita endometriosis tetap bisa hamil?

Jawabannya, bisa, Bunda. Diagnosis endometriosis bukan berfaedah seseorang tidak mempunyai kesempatan untuk hamil.

Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), kesempatan kehamilan sangat berjuntai pada usia, tingkat keparahan endometriosis, kualitas sel telur, serta ada alias tidaknya gangguan reproduksi lain.

Pada kasus endometriosis ringan, sebagian wanita tetap dapat mengandung secara alami. Sementara pada kondisi yang lebih berat, master mungkin bakal menyarankan tindakan operasi untuk mengangkat jaringan endometriosis alias menggunakan teknologi reproduksi berbantu seperti fertilisasi maupun program bayi tabung (IVF).

Meski kisah Alyssa berhujung bahagia, setiap perjalanan menuju kehamilan tentu berbeda. Karena itu, Bunda yang mengalami nyeri menstruasi berat, nyeri panggul berkepanjangan, alias belum juga mengandung setelah menjalani program mengandung sebaiknya segera berkonsultasi dengan master ahli obstetri dan ginekologi. Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, kesempatan untuk memperoleh kehamilan tetap bisa diupayakan sesuai kondisi masing-masing.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya