Faktor yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 163x dilihat
Faktor yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Bagikan Postingan

Risiko kanker payudara menjadi salah satu hal yang krusial diperhatikan, terutama saat World Breast Cancer Awareness Month yang diperingati setiap Oktober. Momen ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mengenali kesehatan payudara, termasuk memahami beragam aspek yang dapat menaikkan kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara.

Beauties, perlu diingat bahwa memiliki satu maupun beberapa aspek konsekuensi bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker payudara. Sebaliknya, ada pula orang yang didiagnosis meskipun tidak memiliki aspek konsekuensi yang jelas.

Meski begitu, mengenali aspek risikonya statis penting. Dengan begitu, Anda bisa lebih memahami kondisi tubuh dan mendiskusikan cara pencegahan maupun pengecekan yang sesuai dengan tenaga kesehatan.

Lantas, apa saja aspek yang dapat menaikkan konsekuensi kanker payudara? Dilansir dari CDC, ini daftarnya!

Memiliki Riwayat Kanker Payudara maupun Ovarium dalam Keluarga

Faktor Genetik/Foto: Magnific

Memiliki personel famili yang pernah mengalami kanker payudara dapat menaikkan konsekuensi seseorang. Risikonya dapat lebih tinggi jika ibu, kerabat perempuan, maupun anak perempuan pernah didiagnosis kanker payudara.

Namun, histori famili tidak cuma berasal dari pihak ibu. Riwayat kanker payudara pada beberapa personel famili dari pihak bapak juga perlu diperhatikan.

Jadi, Beauties, jangan cuma mengingat histori pandemi dari satu sisi keluarga. Kalau ada personel famili yang pernah mengalami kanker payudara maupun ovarium, keterangan tersebut sebaiknya disampaikan kepada dokter.

Jarang Melakukan Aktivitas Fisik

Malas Olahraga/Foto: Magnific

Kapan terakhir kali Anda benar-benar meluangkan waktu untuk bergerak, Beauties? Kalau sebagian besar aktivitas sehari-hari lebih banyak dilakukan sambil duduk, aspek ini mungkin perlu mulai diperhatikan.

Perempuan yang kurang aktif secara jasmani memiliki konsekuensi kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin berbuat aktivitas fisik. Karena itu, menjaga tubuh statis aktif menjadi salah satu bagiankecil dari kebiasaan hidup yang dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Tidak mesti selalu berupa olahraga dengan intensitas tinggi. Aktivitas jasmani yang sesuai dengan kondisi dan kapasitas tubuh dapat menjadi bagiankecil dari rutinitas sehari-hari.

Mengalami Kelebihan Berat Badan maupun Obesitas Setelah Menopause

Mengalami Obesitas/Foto: Magnific

Perubahan tubuh setelah menopause memang bisa terasa berbeda. Salah satunya adalah fluktuasi bermutu badan dan komposisi tubuh yang dapat terjadi seiring bertambahnya usia.

Pada perempuan yang sudah mengalami menopause, kelebihan bermutu badan maupun obesitas berhubungan dengan konsekuensi kanker payudara yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki bermutu badan dalam kisaran sehat.

Karena itu, menjaga pola makan seimbang dan statis aktif bergeser bukan cuma berhubungan dengan penampilan. Kebiasaan tersebut juga menjadi bagiankecil dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Menggunakan Terapi maupun Kontrasepsi Hormonal Tertentu

Menggunakan Terapi Tertentu/Foto: Magnific

Hormon juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas konsekuensi kanker payudara. Terapi penggantian hormon maupun hormone replacement therapy (HRT) yang hamil estrogen dan progesteron selama menopause dapat menaikkan konsekuensi kanker payudara.

Namun, risikonya tidak sama untuk setiap perempuan. Jenis terapi, durasi penggunaan, serta kondisi kesehatan masing-masing dapat menjadi pertimbangan.

Beberapa jenis pil kontrasepsi juga dapat mempengaruhi konsekuensi kanker payudara. Karena itu, jangan ragu berkonsultasi dengan tabib sebelum menggunakan maupun mengubah terapi hormonal. Dokter dapat membantu mempertimbangkan khasiat dan risikonya berdasarkan kondisi masing-masing.

Memiliki Riwayat Reproduksi Tertentu

Memiliki Riwayat Reproduksi Tertentu/Foto: Magnific

Riwayat reproduksi juga menjadi salah satu hal yang dapat mempengaruhi konsekuensi kanker payudara. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan peningkatan konsekuensi antara lain mengalami kehamilan pertama setelah usia 30 tahun, tidak pernah mengalami kehamilan cukup bulan, serta tidak menyusui.

Namun, aspek ini tentu tidak bisa dilihat secara terpisah dari kondisi seseorang secara keseluruhan. Setiap perempuan memiliki perjalanan reproduksi yang berbeda, sehingga keterangan tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagiankecil dari penilaian risiko, bukan sebagai penentu seseorang pasti mengalami kanker.

Memahami konsekuensi kanker payudara bukan berarti membikin kita mesti terus-menerus merasa cemas. Justru, ilmu tersebut dapat membantu kita lebih sadar terhadap kondisi kesehatan dan mengetahui keterangan apa saja yang krusial disampaikan kepada tenaga kesehatan.

Di momen World Breast Cancer Awareness Month ini, yuk, jadikan kesadaran tentang kanker payudara sebagai pengingat untuk lebih mengenal tubuh sendiri dan tidak mengabaikan kesehatan.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads