FoELT-RMI 2026 Diluncurkan RMI PBNU untuk Mempersiapkan Santri NU Berdaya Saing Global

Bincang Syariah Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 175708x dilihat
FoELT-RMI 2026 Diluncurkan RMI PBNU untuk Mempersiapkan Santri NU Berdaya Saing Global
RMI PBNU Resmi Buka FoELT-RMI 2026, Siapkan Santri NU Berkelas Global*

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU secara resmi membuka FoELT-RMI 2026 (Foundation of English Language Training: The Next Islamic Studies Scholar) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris santri sekaligus memperkuat transformasi sumber daya manusia pesantren dalam menghadapi tantangan global.

Acara pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri pengurus RMI PBNU, mitra lembaga, serta peserta terpilih dari berbagai pesantren di Indonesia. Program ini menjadi bagian penting dalam agenda Transformasi Pesantren, khususnya pada aspek pengembangan sumber daya manusia yang menjadi visi PBNU dan RMI.

Ketua RMI PBNU, KH. Hodri Ariev, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya program dan menegaskan bahwa FoELT-RMI bukan sekadar pelatihan bahasa Inggris biasa melainkan investasi jangka panjang bagi kemajuan pesantren dan Nahdlatul Ulama secara keseluruhan.

“Alhamdulillah sore ini program kita buka bersama. Program ini kita rancang untuk memberikan faedah nyata bagi santri, khususnya dalam keahlian bahasa Inggris. Ini tidak semata-mata untuk kepentingan individu, tetapi untuk kemajuan pesantren dan Nahdlatul Ulama,” ujar Kiai Hodri, Jumat (30/01/2026).

Menurutnya, penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi kunci agar santri dapat mengakses literatur global, melanjutkan studi ke luar negeri, serta berperan aktif dalam percakapan keilmuan internasional, terutama pada ranah Islamic Studies.

“Program ini seyogianya kita buka dan jadikan teladan bagi santri yang lain. Kita perlu menunjukkan bahwa jika kita belajar dengan baik, sungguh-sungguh, dan terarah, maka bakal ada kesempatan besar yang terbuka di hadapan kita,” lanjutnya.

Kiai Hodri juga menegaskan bahwa FoELT-RMI merupakan bagian integral dari Program Transformasi Pesantren yang bertujuan mendorong perubahan sistemik dalam pengelolaan pesantren, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusianya.

“Dengan adanya program ini, jalinan yang kita bangun menjadi semakin kuat untuk mendorong adik-adik santri lainnya. Ini menjadi bagian dari Program Transformasi Pesantren, khususnya dalam transformasi sumber daya manusia. Ini salah satu bagian krusial dari upaya besar kita,” katanya.

Ia menutup sambutan dengan harapan agar program ini membawa berkah dan manfaat luas, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi pesantren, NU, dan umat secara umum.

“Insyaallah, ini bakal menjadi sesuatu yang nyata, menjadi maunah dari Allah, dan menjadi pahala bagi kita semua yang terlibat di dalamnya,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, Pengurus RMI PBNU, Gus Ulun Nuha, menyampaikan apresiasi kepada peserta terpilih dan menilai program ini sebagai kesempatan berharga untuk meningkatkan kemampuan bahasa sebagai bekal melanjutkan studi ke jenjang keilmuan yang lebih tinggi.

“Selamat kepada teman-teman semua. Ini kesempatan yang sangat berbobot untuk meningkatkan keahlian bahasa, terutama dalam rangka melanjutkan studi Islamic Studies. Program ini adalah bagian dari transformasi pesantren yang menjadi visi utama RMI PBNU,” ujarnya pada Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari agenda besar Transformasi Pesantren yang digagas PBNU, dengan RMI sebagai rumah besar pesantren Nahdlatul Ulama.

Visi transformasi ini dimaksudkan untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga mampu beradaptasi dan bersaing di tingkat nasional maupun global.

“Rabithah Ma’ahid Islamiyah sebagai rumah besar pesantren NU menjadi ujung tombak dalam mewujudkan visi Ketua Umum PBNU tentang transformasi pesantren. Program ini adalah salah satu bentuk nyata dari visi tersebut,” tegasnya.

Gus Ulun mendorong peserta untuk memanfaatkan program ini sebaik-baiknya sebagai bekal meraih jenjang keilmuan lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Sebagai orang-orang yang sedang mencari ilmu, dan sebagai bagian dari bumi pesantren pada umumnya, mari kita laksanakan nikmat dan amanah ini dengan penuh kesungguhan, kedisiplinan, dan tanggung jawab,” pesannya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. FoELT-RMI 2026 mendapat dukungan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dikoordinasikan oleh NUS Lakspesdam, dan dilaksanakan bersama RMI PBNU. Sinergi lintas lembaga ini diharapkan memperkuat kualitas program, memperluas jangkauan manfaat, dan menjamin keberlanjutan ke depan.

Lebih jauh, program ini diharapkan mampu melahirkan peneliti dan pengkaji Islamic Studies dari kalangan pesantren yang punya kompetensi global tanpa kehilangan identitas keislaman dan ke-NU-an. Santri diharapkan tetap berakar pada tradisi pesantren sekaligus mampu menjembatani tradisi tersebut dengan wacana keilmuan modern dan internasional.

Artikel Lainnya Bincang Syariah

Bagikan Postingan