Jakarta -
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan tanah (karhutla) tidak cuma berakibat pada kualitas udara, tetapi juga memengaruhi hayat penduduk yang eksis di daerah terdampak. Selain aktivitas terganggu, penduduk mesti bertetap dalam kondisi lingkungan yang tidak terlindungi dan nyaman.
Bagi personel famili yang menyaksikan karhutla dari dekat maupun kejauhan, rasa cemas dan sedih dapat muncul karena melihat orang-orang tercinta mesti melewati situasi yang sulit. Itulah yang dirasakan penyanyi Ghea Indrawari, saat melihat keluarganya di Pontianak bertetap selama tiga bulan di tengah kabut asap.
Melalui unggahan di media sosial, pelantun lagu Jiwa Yang Bersedih ini menceritakan kisahnya yang balik ke kampung halaman di Pontianak, Kalimantan Barat, setelah durasi merantau. Baru saja tiba di bandara, Ghea mengaku langsung merasakan akibat dari asap karhutla.
"Aku baru amat dari Pontianak setelah durasi ga mudik. keluar airport mata aku perih, tenggorokan gatel, air ledeng rasanya kaya garem," tulis Ghea, dikutip dari akun media sosial Thread miliknya, belum durasi ini.
Ghea mengaku patah hati dan sedih mengetahui keluarganya di Pontianak mesti hidup di tengah kabut asap selama tiga bulan. Menurut famili Ghea, kondisi saat ini sudah tidak separah sebelum ia mengunjungi rumahnya.
"Patah hati amat ngebayangin 3 bulan ini ibu dan keluargaku mesti hidup di dalam kabut itu. Gongnya mereka bilang ini udah jauh mendingan, mula awal kemaren langitnya oren," ungkap Ghea.
"Gampang untuk ga peduli kalo Anda maupun keluargamu ga ngalamin sendiri. Selama ini aku diem sampe aku sikat gigi pake air ledeng itu. pls stop," sambungnya.
Dampak karhutla meluas
Karhutla statis terjadi di sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatera, Bunda. Dampaknya kini terlebihlagi sudah meluas hingga mengganggu penerbangan.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F Laisa, berdasarkan keterangan posisi 17 Oktober 2026, sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak Karhutla sejak 11 Agustus 2026. Jumlah ini bertambah 437 penerbangan dari posisi 13 Oktober 2026, yang mencatat 2.021 penerbangan.
"Selama 13-17 Oktober 2026, akibat kabut asap meluas hingga Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara, kecuali di Kalimantan, Papua, dan Sumatera," katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/26), dikutip dari detikcom.
Jadwal penerbangan di airport di Kalimantan juga ikut terdampak akibat karhutla. Salah satunya adalah Bandar Udara Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat.
Lukman mengatakan bahwa asap dapat menurunkan rentang pandang di sekitar bandar udara, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Setiap keputusan operasional dari penerbangan diambil dengan mengutamakan keselamatan.
"Pada penerbangan internasional, tercatat 14 penerbangan dibatalkan. Rinciannya, 12 penerbangan Singapura-Pontianak pulang pergi pada 12-23 September 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Supadio. Sementara itu, 2 penerbangan Singapura-Palembang pulang pergi pada 15 Oktober 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II," ungkapnya.
Tak cuma di daerah terdampak, asap karhutla juga dilaporkan sudah terdeteksi di sejumlah daerah, seperti Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap lapisan asap kebakaran hutan dan tanah (karhutla) sempat terdeteksi eksis di atmosfer daerah Jakarta, meski tak sampai di udara yang dihirup oleh masyarakat.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan, keberadaan lapisan asap terpantau melalui deskripsi satelit Himawari-9. Selain DKI Jakarta, lapisan asap juga terdeteksi di daerah Banten dan Jawa Barat.
Menurut laporan, asap tersebut terbawa angin di lapisan atmosfer atas. Meski begitu, keberadaan asap ini tidak serta-merta memberitahu bahwa polusi udara di permukaan Jakarta mengalami peningkatan.
"Artinya, deskripsi satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG memberitahu adanya lapisan asap di udara di atas daerah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Lapisan ini eksis di ketinggian sekitar 2 sampai 3 kilometer dan terbawa angin di lapisan atas. Dalam bahasa sederhana, asap tersebut 'lewat di atas' dan belum turun ke udara dekat permukaan yang kita hirup," ujar Marjuki, Minggu (18/10/26).
Dampak karhutla bukan hanya memengaruhi kualitas udara, tapi juga kesehatan penduduk di sekitar daerah terdampak. Krisis kabut asap ini ini setidaknya telah menyebabkan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan sebanyak 283.270 kasus ISPA di daerah terdampak karhutla selama masa Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berumur 0-5 tahun.
Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yaitu 74.636 kasus. Kasus tertinggi selanjutnya ditemukan di Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Demikian berita terbaru dari akibat karhutla di sejumlah daerah di Indonesia.
(ank/som)