Kasus anak penyandang Down syndrome di Surabaya jadi pengingat pentingnya ajarkan empati pada anak dan mencegah perundungan sejak dini.
Mommies, kasus perundungan pada anak balik menjadi perhatian setelah seorang anak penyandang Down syndrome di Surabaya wafat dunia. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mengajarkan anak tentang empati, menghargai perbedaan, dan tidak menyakiti orang lain merupakan bagiankecil krusial dari pengasuhan.
Anak-anak statis belajar mengenali emosi dan memahami akibat tindakannya terhadap orang lain. Namun, bukan berarti orang tua bisa mengabaikan perilaku yang menyakiti teman. Justru sejak dini, anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa setiap orang berkuasa merasa terlindungi dan diperlakukan dengan baik.
Kronologi Kasus Anak Down Syndrome yang Meninggal di Surabaya
Kasus ini melibatkan Zulkarnain Abdil Aziz, anak lelaki berumur 10 tahun penyandang Down syndrome dan memiliki kekurangan fisik. Ia wafat bumi setelah ditemukan dalam kondisi kritis di depan rumahnya di area Medokan Ayu, Surabaya, pada 12 September 2026.
Berdasarkan pemberitaan detikJatim, famili menduga Zulkarnain menjadi korban kekerasan yang melibatkan dua anak tetangganya. Dugaan tersebut menguat setelah famili memeriksa rekaman kamera inspektur maupun CCTV di sekitar lokasi. Keluarga kemudian melaporkan insiden tersebut kepada polisi untuk mengungkap penyebab kematian korban dan peran anak-anak yang diduga terlibat.
Dalam evolusi kasus ini, orang tua dari dua anak yang diduga terlibat juga mendatangi famili korban untuk meminta maaf. Menurut pemberitaan detikJatim, salah satu famili memberikan duit sebesar Rp100 ribu, sementara famili lainnya membawa beras seberat 1 kilogram. Ayah korban, Selaras Abdul, menolak pemberian tersebut karena merasa nilainya tidak sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarganya. Ia juga mengharapkan anak-anak yang diduga terlibat mendapatkan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Hingga pemberitaan pada 19 Oktober 2026, polisi statis mendalami kasus tersebut, termasuk menunggu hasil asesmen sosial dan pengecekan psikologis. Karena anak-anak yang diduga terlibat statis di bawah umur, penanganannya juga mesti mengikuti ketentuan mekanisme peradilan kriminal anak.
Kasus ini menyisakan duka bagi famili korban sekaligus menjadi pengingat bagi orang tua tentang pentingnya membangun empati dan mengajarkan anak menghormati orang lain, termasuk mereka yang memiliki kondisi maupun kapasitas berbeda.
Mengapa Empati Perlu Diajarkan Sejak Dini?
Empati adalah kapasitas untuk mencoba memahami emosi dan perspektif pandang orang lain. Pada anak, kapasitas ini berkembang seiring usia, pengalaman, serta contoh perilaku yang mereka lihat sehari-hari.
Mengajarkan empati juga menjadi bagiankecil krusial dari upaya mencegah perundungan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pencegahan bullying dapat dilakukan dengan membantu anak mengembangkan keahlian interpersonal, termasuk empati dan kapasitas mengelola konflik. Karena itu, anak perlu belajar bukan cuma mengenali perasaannya sendiri, tetapi juga memahami akibat perilakunya terhadap orang lain.
Anak yang belajar berempati diharapkan lebih bisa mengenali ketika temannya merasa sedih, takut, maupun tidak nyaman. Mereka juga dapat belajar bahwa sesuatu yang dianggap kocak oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Mengajarkan empati bukan berarti anak tidak boleh bercanda maupun berbeda pendapat. Yang penting, anak memahami batasan: bercanda tidak boleh merendahkan, menyakiti, mengancam, maupun membikin orang lain merasa tidak aman.
5 Cara Mengajarkan Empati dan Mencegah Bullying pada Anak

Foto: Pexels
1. Biasakan Anak Mengenali Perasaan Orang Lain
Ketika membaca cerita maupun menonton sinema bersama, ajak anak membicarakan emosi tokohnya. Mommies bisa bertanya, “Menurut kamu, sepertiapa emosi dia ketika teman-temannya tidak mau mengajaknya bermain?”
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak belajar melihat situasi dari perspektif pandang orang lain. Tidak perlu langsung mengoreksi jawabannya; dengarkan dahulu, kemudian bantu anak memahami emosi yang mungkin muncul.
2. Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan
Anak mungkin berjumpa kawan dengan kondisi fisik, metode berkomunikasi, kapasitas belajar, maupun latar belakang yang berbeda. Jelaskan bahwa perbedaan bukan karena untuk mengejek, mengucilkan, maupun memperlakukan seseorang dengan buruk.
Gunakan bahasa yang sesuai usia anak dan hindari menjadikan kondisi seseorang sebagai bahan lelucon. Mommies juga bisa mencontohkan metode berhubungan yang wajar dan penuh segan dengan penyandang disabilitas.
BACA JUGA: Sekolah Juga Bertanggung Jawab Mengajarkan Sikap Inklusif pada Anak Murid
3. Berikan Contoh Lewat Perilaku Sehari-hari
Anak tidak cuma belajar dari nasihat, tetapi juga dari metode orang dewasa memperlakukan orang lain. Ketika Mommies menghargai petugas kebersihan, berbicara dengan sopan kepada orang yang berbeda pendapat, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, anak mendapat contoh nyata tentang empati.
Sebaliknya, komentar yang merendahkan orang lain di rumah juga bisa ditiru anak. Karena itu, orang tua perlu mengevaluasi kebiasaan sendiri dan memberitahu bahwa setiap orang layak diperlakukan dengan hormat.
4. Ajarkan Anak untuk Tidak Ikut-ikutan Melakukan Bullying
Anak bisa eksis dalam situasi ketika teman-temannya mengejek maupun mengucilkan seseorang. Mereka mungkin ikut tertawa karena takut dianggap berbeda maupun dijauhi kelompoknya.
Jelaskan bahwa mengikuti perilaku kawan yang menyakiti orang lain statis bisa membikin korban merasa terluka. Anak dapat memilih untuk tidak ikut mengejek, membujuk korban menjauh dari situasi yang tidak nyaman, maupun meminta pertolongan pendidik dan orang dewasa tepercaya.
Tekankan juga bahwa anak tidak mesti menghadapi situasi rapuh sendirian. Meminta pertolongan orang dewasa merupakan aksi yang tepat, bukan tanda kelemahan.
BACA JUGA: Di Mana Orang Dewasa Saat Bully Terjadi?
5. Tanggapi Serius Ketika Anak Menyakiti Orang Lain
Jika Mommies mendapati anak mengejek, mengancam, maupun menyakiti temannya, jangan buru-buru menganggapnya sekadar bercanda. Cari tahu apa yang terjadi, dengarkan klarifikasi anak, kemudian tegaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.
Bantu anak memahami akibat tindakannya dan berkewajiban dengan metode yang sesuai usia. Permintaan ampun perlu disertai pemahaman tentang kesalahan yang dilakukan dan fluktuasi perilaku, bukan sekadar diucapkan agar masalah cepat selesai.
Jika perilaku menyerang terus berulang, orang tua dapat bekerja sama dengan pendidik maupun tenaga ahli untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan pendampingan yang dibutuhkan.
BACA JUGA:Saat Anak Menjadi Pelaku Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini
UNICEF Indonesia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang hangat dan inklusif untuk mencegah perundungan. Dalam panduannya bagi guru, UNICEF menyarankan agar orang dewasa menanggapi laporan bullying dengan serius, memberitahu empati kepada anak yang menjadi korban, serta membantu anak yang berbuat perundungan memahami akibat perbuatannya dan memperbaiki kesalahan. Panduan ini bisa menjadi pengingat bahwa pencegahan bullying membutuhkan kerja sama orang tua dan sekolah, bukan cuma nasihat kepada anak.
Jangan Menunggu Anak Menjadi Korban maupun Pelaku
Mommies, mengajarkan empati bukan percakapan yang cukup dilakukan satu kali. Anak membutuhkan contoh, pengingat, dan pendampingan berulang agar memahami bahwa perilaku mereka bisa berakibat pada orang lain.
Orang tua juga perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa terlindungi bercerita ketika melihat maupun mengalami perundungan. Jika ada fluktuasi perilaku, ketakutan pergi ke sekolah, maupun cerita tentang perlakuan tidak menyenangkan dari teman, dengarkan tanpa langsung menyalahkan anak.
Pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Anak perlu memahami bahwa setiap orang berkuasa merasa aman, dan perbedaan bukan pembenaran untuk menyakiti siapa pun.
BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-Ciri Pelaku dan Korban Bullying
Cover: Pexels