Gus Baha Ditanya Mengapa Kita Lebih Mudah Mencintai Nabi daripada Allah?

Bincang Syariah oleh Waktu baca 6 menit 505x dilihat
Gus Baha Ditanya Mengapa Kita Lebih Mudah Mencintai Nabi daripada Allah?

Bagikan Postingan

Gus Baha Ditanya Mengapa Kita Lebih Mudah Mencintai Nabi daripada Allah?
Gus Baha Ditanya Mengapa Kita Lebih Mudah Mencintai Nabi daripada Allah?

Kincai Media— Pernahkah kita merasa lebih gampang tersentuh ketika mendengar kisah Rasulullah SAW daripada ketika mengingat Allah SWT?

Mendengar kisah Nabi Muhammad SAW yang dihina, disakiti, maupun menghadapi beratnya perjuangan dakwah, hati bisa tiba-tiba bergetar. Tidak jarang mata pun berkaca-kaca. Namun, ketika diminta menerangkan sepertiapa rasa cinta kita kepada Allah SWT, terkadang kita justru kesulitan menemukan kata-kata.

Kegelisahan semacam itu disampaikan Ipo Santoso dalam sesi tanya jawab pada aktivitas Maulid Nabi 2026 berbareng Gus Baha dan Prof. M. Quraish Shihab.

Ia mengaku, setelah mendengar banyak klarifikasi ulama tentang Rasulullah SAW, mencintai Nabi terasa lebih mudah. Bahkan, rasa haru bisa muncul dengan cepat ketika kisah beliau disampaikan.

Namun, kenapa rasa cinta kepada Allah SWT tidak selalu terasa dengan metode yang sama?

Pertanyaan tersebut kemudian membawa bahasan pada satu hal yang sangat dekat dengan hayat sehari-hari: sepertiapa manusia memahami hubungannya dengan Allah, sekaligus menempatkan dirinya di depan sesama manusia?

Nabi Adalah Manusia yang Bisa Kita Rasakan Perjuangannya

Menurut Gus Baha, emosi tersebut dapat dipahami karena Rasulullah SAW adalah manusia yang mengalami beragam hal sebagaimana manusia lainnya. Nabi merasakan sakit ketika disakiti. Beliau berduka ketika dihina. Beliau juga mengalami beragam kesulitan dalam menjalankan dakwah.

Karena itu, ketika seseorang mendengar kisah perjuangan Rasulullah SAW, rasa kasih sayang kepada beliau lebih gampang tumbuh. Kita dapat membayangkan sepertiapa rasanya ketika seseorang disakiti oleh orang lain. Kita juga dapat memahami kesedihan, kehilangan, perjuangan, dan pengorbanan.

Berbeda dengan Allah SWT. Allah adalah Zat Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Ketaatan manusia tidak menambah kemuliaan Allah, sementara kemaksiatan manusia tidak mengurangi kekuasaan-Nya.

Justru manusialah yang membutuhkan Allah. Kesadaran inilah yang krusial dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Kita beribadah bukan karena Allah membutuhkan amalan kita, tetapi karena kitalah yang membutuhkan pertolongan, rahmat, dan petunjuk-Nya.

Karena itu, Gus Baha menggambarkan bahwa seseorang bisa tidur dengan tenang ketika menyadari bahwa bumi ini tidak eksis di bawah kendalinya. Manusia boleh beristirahat. Dunia statis berjalan karena Allah yang mengurusnya.

Allah Tidak Berkurang Kemuliaan-Nya karena Maksiat Manusia

Gambaran tentang hubungan manusia dengan Allah itu kemudian dijelaskan Gus Baha melalui kisah Wahsyi. Wahsyi pernah membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, om Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai. Peristiwa itu tentu menjadi luka yang bermutu bagi Nabi.

Namun, pada akhirnya Wahsyi mendapatkan hidayah. Gus Baha mengaitkannya dengan firman Allah SWT:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ ۝١٢٨

Hal itu sama sekali bukan menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), apakah Allah menerima insaf mereka maupun mengazabnya karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.

Ayat ini mengingatkan bahwa keputusan akhir mengenai pemaafan dan hukuman merupakan kewenangan Allah SWT.

Manusia dapat terluka oleh perbuatan orang lain. Rasulullah SAW sebagai manusia juga mengalami kesedihan dan rasa sakit. Namun, dominasi Allah tidak berkurang sedikit pun karena kemaksiatan manusia.

Bahkan, orang yang pernah berbuat kesalahan besar statis eksis dalam kemungkinan mendapatkan instruksi dan pemaafan Allah.

Tawaduk Jangan Sampai Membuat Kita Lupa Bersyukur

Pembahasan kemudian bergeser pada permasalahan lain yang tak kalah menarik: sepertiapa menjadi rendah hati tanpa kehilangan kepercayaan diri?

Gus Baha mengingatkan bahwa tawaduk pun perlu ditempatkan secara proporsional. Sebab, seseorang bisa saja terlalu merendahkan dirinya hingga lupa melihat nikmat Allah yang ada dalam hidupnya.

Ada orang yang merasa tidak memiliki apa-apa. Ketika ditanya apa yang statis dimilikinya, ia menjawab tidak ada.

Padahal, ia statis memiliki sandal. Sandal memang tampak sederhana. Tetapi, jika seseorang mesti berjalan tanpa alas kaki di tengah padang pasir, ia akan menyadari benar-benar berharganya barang tersebut.

Dari contoh sederhana itu, kita diajak melihat bahwa nikmat Allah sering kali justru tersembunyi dalam hal-hal yang kita anggap biasa.

Pakaian yang kita kenakan, makanan yang kita makan, tempat tinggal, keluarga, kesehatan, kapasitas berjalan dan berbicara, semuanya merupakan nikmat yang gampang dilupakan karena terlalu sering kita nikmati.

Karena itu, tawaduk tidak seharusnya membikin seseorang mengingkari nikmat Allah. Rendah hati bukan berarti mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa,” ketika sebenarnya Allah telah memberikan banyak hal.

Yang tepat adalah menyadari bahwa kita memiliki nikmat, tetapi nikmat tersebut bukan karena untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Gus Baha kemudian menceritakan seorang ulama di desa. Kiai tersebut tidak memiliki banyak santri. Bahkan, dalam keadaan tertentu, ia cuma menjadi imam bagi dirinya sendiri.

Namun, ulama itu memiliki perhatian besar terhadap penduduk sekitar. Ia memikirkan sepertiapa mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid. Sebagian hartanya digunakan untuk masjid dan sebagian lainnya untuk mendirikan madrasah karena di daerah tersebut belum tersedia akomodasi pendidikan.

Kisah ini memberitahu bahwa khasiat seseorang tidak selalu dapat diukur dari popularitas. Ada orang yang dikenal banyak masyarakat, sering diundang ke beragam tempat, dan mendapatkan banyak penghormatan.

Namun, ada pula orang yang hampir tidak dikenal di luar kampungnya, tetapi hidupnya memberi khasiat nyata bagi lingkungan sekitar.

Karena itu, kemuliaan tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang mengenal seseorang. Yang lebih krusial adalah apa yang dilakukan dengan nikmat Allah yang dimilikinya.

Tawaduk dan Percaya Diri Tidak Harus Bertentangan

Prof. M. Quraish Shihab kemudian menambahkan bahwa setiap sikap memiliki tempatnya masing-masing.

Tawaduk ada tempatnya. Harga diri juga ada tempatnya. Begitupun, kepercayaan diri adalah demikian. Seorang Muslim tidak perlu merendahkan dirinya agar disebut tawaduk. Dalam keadaan tertentu, seseorang justru perlu bersikap tegas dan menjaga harga dirinya.

Namun, menjaga harga diri bukan berarti merendahkan orang lain. Prof. Quraish memberikan contoh seorang Syekh Al-Azhar yang pernah eksis di Yogyakarta. Ketika hendak berbicara mengenai tafsir, syekh tersebut meminta persetujuan terlebih dahulu karena merasa bahwa sektor itu bukan spesialisasinya.

Sikap tersebut bukan memberitahu kelemahan. Justru di situlah letak tawaduk: mengetahui batas ilmu diri dan menghargai keahlian orang lain.

Seseorang dapat memiliki ilmu tanpa mesti merasa paling berilmu. Ia dapat memiliki kelebihan tanpa mesti merasa paling unggul.

Ada satu jebakan yang juga perlu diwaspadai. Yakni ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya sudah tawaduk. Sebab, emosi “saya sudah rendah hati” dapat berubah menjadi kebanggaan terselubung.

Karena itu, tawaduk tidak perlu diumumkan. Syukur tidak perlu dipamerkan. Kepercayaan diri pun tidak mesti berubah menjadi sikap meremehkan orang lain. Kita cukup menyadari bahwa setiap kelebihan adalah pemberian Allah SWT.

Maka, mencintai Rasulullah SAW dapat menjadi jalan untuk mengenal sepertiapa kasih sayang, kesabaran, dan perjuangan seorang manusia pilihan Allah.

Sementara mencintai Allah mengajarkan kita untuk menyadari bahwa di balik seluruh nikmat, kehidupan, dan kapasitas yang kita miliki, ada Tuhan yang tidak pernah membutuhkan kita, tetapi kitalah yang selalu membutuhkan-Nya.

Pada akhirnya, menjadi tawaduk bukan berarti mesti merasa hina. Bersyukur bukan berarti mesti merasa lebih tinggi. Dan percaya diri bukan berarti mesti merendahkan orang lain.

Barangkali, salah satu bentuk kedewasaan dalam berkeyakinan adalah ketika kita bisa mengetahui kelebihan diri tanpa membanggakannya, mengetahui kekurangan diri tanpa merendahkannya, dan melihat seluruh nikmat sebagai pemberian Allah SWT.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads