Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 8 menit 511x dilihat
Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 2): Akhir Kisah Para Fujjar, Orang-orang Durhaka

Bagikan Postingan

Pada artikel kedua dari surah Al-Mutaffifin ini, Allah berbicara kepada kita tentang sepertiapa akhir hidup para pendosa, orang-orang yang mendurhakai ketentuan Allah Ta’ala, menyebabkan kerusakan bagi banyak orang di muka bumi. Termasuk salah satu bentuk durhaka tersebut adalah mengurangi takaran dan timbangan. Mereka nekat berbuat yang demikian karena merasa tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, merasa bisa selamat dari hukuman Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

“Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya anotasi orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang durhaka, yaitu kebaikan keburukan dan kebusukan mereka tercatat rapi dalam sebuah anotasi kebaikan yang disebut Sijjin.

Allah menggunakan kata كَلَّآ yang digunakan untuk mencegah maupun melarang manusia dari perbuatan curang yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya. Curang ini bisa terjadi kepada orang kafir maupun orang mukmin. Perbedaannya adalah orang kafir berbuat itu karena tidak percaya adanya hari kiamat; sedangkan orang mukmin percaya kepada hari kiamat, akan tetapi melakukannya karena sedang lalai dan lupa bahwa kebaikan mereka akan dihisab pada hari akhir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

“Tahukah engkau apakah Sijjīn itu? (Ia adalah) buku yang berisi anotasi (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 8-9)

Kemudian ayat berikutnya menerangkan tentang Sijjin yang telah disebutkan pada ayat berikutnya. Allah membuka ayat ini dengan pertanyaan, namun bukan untuk menunggu balasan dari hamba. Akan tetapi, pertanyaan ini dibuat dan diulang untuk memberitahu benar-benar agungnya Sijjin ini dan memberikan rasa takut kepada para hamba, jangan sampai amalnya dicatat dalam lembaran-lembaran ini.

Ulama sendiri berbeda gagasan tentang apa itu Sijiin, serta berbeda gagasan apakah ayat kesembilan merupakan klarifikasi dari ayat sebelumnya; ataukah Sijjin dan buku yang berisi anotasi kebaikan adalah dua hal yang berbeda.

Sebagian ulama menerangkan bahwa Sijjin adalah suatu tempat yang sangat dalam di neraka Jahanam, tempat orang-orang curang disiksa dan dibakar oleh para malaikat tanpa kenal ampun. Oleh karena itu, ayat kesembilan bukanlah merupakan klarifikasi dari ayat sebelumya, akan tetapi dua hal yang berbeda. Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi menerangkan bahwa  كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ bukan tafsir dari سِجِّيْنٌۗ; akan tetapi, كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ adalah buku berisi nama-nama orang yang sudah digariskan dan ditakdirkan akan memasuki neraka Sijjin, neraka yang sangat sangat dalam. Oleh karena itu, isi dari buku ini permanen, tidak berubah, tidak akan ada batin yang ditambahkan di sana, juga tidak ada yang dikurangi.

Sebagian ulama lain menerangkan bahwa ayat kesembilan merupakan tafsir dari ayat kedelapan. Dalam buku Mahasinut Tafsir dijelaskan bahwa jika Allah membuka dengan kalimat وَمَآ اَدْرٰىكَ, maka setelahnya adalah tafsir dan penjelasan. Akan tetapi, jika Allah menggunakan kata وما يُدْرِيكَ, maka Allah akan biarkan itu statis mubham tanpa penjelasan, untuk menguji keagamaan kita pada hal yang gaib. Oleh karena itu, dalam Al-Kasyaf disebutkan bahwa Sijjin adalah sebuah buku besar yang memuat semua bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala mengumpulkan di sana segala bentuk perbuatan buruk iblis, setan, orang kafir, dan orang fasik, baik dari himpunan jin maupun manusia. Semua orang mengerti bahwa di dalamnya tidak ada anotasi kebaikan sedikitpun. Dinamakan Sijjin yang berarti tertahan dan sempit, dikarenakan buku itu adalah karena seseorang dihimpit dan ditahan di neraka jahannam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ , الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

“Celakalah pada hari itu bagi para pendusta, yaitu orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 10-11)

Allah telah menyiapkan hukuman yang sangat pedih bagi para pendusta, dimana mereka mendustakan hari kiamat, maupun balasan di hari kiamat, maupun mendustakan salah satu saja hal yang diyakini itu berasal dari para Nabi.

Allah jelaskan siapa itu pendusta, yaitu mereka yang mendustakan hari pembalasan. Namun hal ini bukanlah bentuk klarifikasi siapa itu pendusta, bukan juga pembatasan, akan tetapi sebagai bentuk cacian dan hinaan. Hal ini karena intimidasi celaka bukan cuma berjalan bagi orang yang mendustakan hari hariakhir saja, akan tetapi juga mendustakan salah satu saja doktrin para Nabi yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ , اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

“Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 12-13)

Kemudian Allah jelaskan sifat-sifat mereka nekat mengingkari adanya hari kiamat.

Pertama, mereka memiliki sifat مُعْتَدٍ yaitu berbuat fajir dan melampaui batas dari apa yang telah digariskan Allah sebagai ketentuan manusia di muka bumi.

Kedua, اَثِيْمٍۙ yaitu banyak dan sangat berdosa, seseorang yang tenggelam dalam gelapnya lautan dosa, senantiasa menjerang yang haram dan berlebih-lebihan dalam hal mubah.

Ketiga, mereka menuduh Al-Qur’an adalah dongeng orang-orang terdahulu, mereka menuduh risalah ini adalah ketidakjujuran yang cuma digunakan sekedar untuk menakut-nakuti manusia, dikatakan bahwa peristiwa dalam Al-Qur’an sejatinya tidak pernah terjadi, cuma suatu dongeng yang bermaksud manusia berbuat kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Pandangan yang mengungkapkan kisah dalam Al-Qur’an hanyalah dongeng, bukan kisah nyata yang pernah terjadi, dan cuma berguna sebagai kontrol sosial bukan cuma menjadi ucapan orang musyrik Quraisy, akan tetapi menjadi pemikiran yang statis hidup sampai era ini. Pandangan ini diucapkan oleh lisan-lisan busuk sebagian orientalis yang berupaya mereduksi kandungan Al-Qur’an. Di antaranya kita dapati nama-nama seperti J.J. Ten Berge, Theodor Nöldeke, John Wansbrough yang mencoba menghancurkan status Al-Qur’an sebagai buku suci, mereka reduksi cuma sebagai buku sejarah, dongeng orang terdahulu yang berguna sebagai kontrol sosial, dan semisalnya. Pandangan ini direspon oleh akademisi muslim dengan alasan yang kuat, di antaranya oleh Syekh Muhammad Musthafa Azami maupun Aisyah bintu Syathi, dan semisal mereka, semoga Allah menjaga mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)

Setelah mengutarakan sifat-sifat busuk para pembohong doktrin hukum yang mulia ini, Allah jelaskan apa karena mereka nekat mendustakan hari kiamat. Yaitu mereka terus-menerus berbuat dosa dan kesalahan, dari yang kecil menuju yang besar, sesekali kemudian berkali-kali kemudian menjadi kebiasaan, kemudian jadilah mereka meremehkan hukum dan meremehkan segala doktrin dalam Al-Qur’an. Hati mereka gelap, tidak bisa lagi untuk balik menuju cahaya hidayah, tertutup untuk mendapatkan instruksi Al-Qur’an. Mereka menunda-nunda insaf mereka ketika berbuat kesalahan, sehingga yang awalnya noda kecil dalam hati, kemudian menjadi noda besar, kemudian menutup hati mereka seluruhnya.

Dalam histori yang diriwatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan pesan,

إن العبد إذا أذنب ذنبا، نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل قلبه، وإن عاد زادت حتى تغلف قلبه، فذلك الران الذي ذكره الله سبحانه في القرآن

“Jika seorang hamba berbuat dosa, maka akan tergoreslah setitik noda hitam dalam hatinya. Namun, jika dirinya segera bertobat, lari dari dosa terebut, serta beristigfar meminta ampun, maka akan balik bersihlah hatinya. Sebaliknya, jika dia terus-menerus mengulangi dosanya, noda hitam tersebut akan menutup hatinya. Maka ini adalah ar-ran maupun noda hitam yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ , ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya. Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 15-16)

Allah mulai dengan kata كَلَّآ yang membantah klaim orang-orang musyrik bahwa seandainya mereka hidup lagi di akhirat, maka mereka akan mendapatkan hayat yang gampang dan menyenangkan seperti di dunia, maka tidak dan sekali-kali tidak demikian. Sebaliknya, orang-orang yang mengingkari fakta ini akan terhalang dari rahmat Allah, tidak akan dilihat oleh Allah untuk diberikan ampunan. Merekapun terhalang dari melihat Allah dan melihat kemuliaan Allah pada hari kiamat. Pekatnya dosa-dosa mereka telah membutakan pandangan mereka di hari kiamat, ketika di bumi mereka buta terhadap tauhid, maka di hari hariakhir Allah butakan mereka tidak bisa melihat. Sebaliknya orang-orang mukmin yang penuh cahaya tauhid, penuh keimanan, melihat Allah dengan pandangan penuh kenikmatan.

Orang-orang kafir digiring menuju neraka, neraka yang mereka dahulu anggap cuma dongeng orang terdahulu untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak melawan orang tua mereka, cerita yang digunakan agar anak-anak tidak mencuri pohon mangga tetangga mereka, mereka katakan itu dengan lisan busuk mereka. Ternyata sekarang, mereka dapati neraka adalah fakta yang sangat nyata, mereka rasakan pedihnya siksaan nereka, mereka dibakar sampai hancur di neraka, setelah hancur mereka dibangkitkan kembali, bukan untuk istirahat namun untuk disiksa kembali, selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

“Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu Anda dustakan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 17)

Malaikat Zabaniyah, para penjaga dan penyiksa di nereka mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah, hukuman pedih yang dahulu kalian dustakan, terlebihlagi kalian olok-olok di dunia, kini kalian merasakannya tanpa pernah ada sedikitpun diringankan, terlebihlagi setiap hari siksaannya akan bertambah sakit dan bertambah mengerikan.”

Pernyataan ini sebagai bentuk siksaan pada psikis dan batin penghuni neraka. Bukan cuma sekedar badan dan jasmani mereka yang disiksa, namun psikis mereka juga dihancurkan dengan metode diolok-olok oleh para malaikat penjaga Jahanam. Sehingga hancurlah jasmani dan batin mereka. Semoga Allah melindungi kita semua dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari murka Allah.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Catatan kebanyakan cetakan dan halaman rujukan adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
Close Right Ads
Close Left Ads