Gus Faiz Syukron: Karamah Mbah Jazuli Ploso adalah Ngaji

Bincang Syariah oleh Waktu baca 7 menit 507x dilihat
Gus Faiz Syukron: Karamah Mbah Jazuli Ploso adalah Ngaji

Bagikan Postingan

 Karamah Mbah Jazuli Ploso adalah Ngaji
Gus Faiz Syukron: Karamah Mbah Jazuli Ploso adalah Ngaji

Kincai Media– Ketika mendengar kata karamah, sebagian orang mungkin langsung membayangkan sesuatu yang luar biasa. Karamah sering dipahami sebagai insiden di luar kebiasaan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Namun, Gus Faiz Syukron Makmun membujuk umat melihat karamah dari sisi yang lebih mendasar: ilmu yang terus hidup dan memberi khasiat kepada generasi setelahnya.

Pandangan tersebut disampaikan Gus Faiz Syukron Makmun dalam ceramahnya di depan KH Nurul Huda Jazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Bagi Gus Faiz, nasihat KH Nurul Huda tentang karamah KH Jazuli Utsman merupakan pesan yang sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat dalam.

“Karamahnya Mbah Jazuli itu ngaji,” demikian pesan KH Nurul Huda yang diingat Gus Faiz.

Kalimat tersebut terus membekas dalam pikirannya. Sebab, jika karamah cuma dipahami sebagai insiden luar biasa, manfaatnya mungkin cuma dirasakan oleh orang-orang yang menyaksikannya. Namun, ilmu memiliki karakter yang berbeda. Ilmu dapat diwariskan, diajarkan, dikembangkan, dan terus memberikan khasiat meskipun orang yang mengajarkannya telah wafat dunia.

Karena itu, menurut Gus Faiz, salah satu bentuk karamah yang paling bermutu adalah ketika ilmu seorang ulama statis hidup setelah dirinya tiada. Sang ulama boleh meninggalkan dunia, tetapi ilmu yang pernah diajarkannya terus berjalan melalui para murid dan generasi sesudahnya.

Ilmu yang Tidak Berhenti Ketika Ulama Wafat

Gus Faiz kemudian mengisahkan pengalamannya ketika belajar di Mesir. Ia pernah diajak gurunya berkunjung ke makam Imam Sirajuddin al-Bulqini. Ziarah tersebut tidak cuma menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi momentum bagi gurunya untuk memberikan pelajaran tentang arti warisan seorang ulama.

Menurut klarifikasi yang diterimanya, karya seorang ulama dalam memahami nash agama, berbuat istinbath hukum, mengajar, dan menerangkan permasalahan kepercayaan kepada penduduk memiliki khasiat yang sangat luas. Manfaat tersebut tidak selesai ketika sang ulama wafat.

Hal itu berbeda dengan insiden dahsyat yang cuma terjadi pada waktu, tempat, dan orang tertentu. Ilmu dapat bergeser dari satu generasi ke generasi berikutnya dan terus memberikan khasiat kepada manusia dalam rentang waktu yang panjang.

“Yang namanya karamah dan khawariqul kebiasaan itu terbendung oleh waktu, zaman, dan komunitas. Sementara istinbath masalah yang dilandasi dengan pemahaman terhadap nash itu manfaatnya terus meluas,” ujar Gus Faiz.

Dari situlah ia semakin memahami bahwa aktivitas mengaji yang kelihatan sederhana sebenarnya memiliki jabatan yang sangat besar dalam hayat umat Islam.

Seorang santri duduk mempelajari nahwu, sharaf, fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, dan beragam disiplin ilmu keislaman. Tidak ada sesuatu yang tampak spektakuler dalam aktivitas tersebut. Tidak ada insiden dahsyat yang membikin orang berdecak kagum.

Namun, dari proses sederhana itulah ilmu kepercayaan dapat bertetap dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tradisi Ngaji dan Mata Rantai Keilmuan

Menurut Gus Faiz, kekuatan pesantren justru terletak pada proses pewarisan ilmu yang terjadi secara terus-menerus. Seorang pendidik mengajarkan buku kepada santri. Santri mempelajarinya, menghafalnya, memahami kandungannya, kemudian suatu hari mengajarkannya balik kepada orang lain.

Proses tersebut terus berulang. Karena itu, ketika seorang santri membuka buku di pesantren, ia sebenarnya tidak sedang salingberhadapan dengan sebuah buku biasa. Ia sedang memasuki mata rantai panjang perjalanan ilmu Islam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kitab yang dibaca oleh anak-anakku kini itu adalah kitab-kitab yang penuh barokah, buku yang bisa mengantarkan banyak orang untuk melihat bumi yang lebih luas,” kata Gus Faiz.

Ilmu yang dipelajari santri bukanlah ilmu yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan bagiankecil dari perjalanan panjang transmisi ilmu Islam. Dari Rasulullah SAW, ilmu diwariskan kepada para sahabat, kemudian kepada tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama, para guru, hingga akhirnya sampai kepada para ulama yang mengajarkannya kepada santri hari ini.

Dengan demikian, tradisi mengaji di pesantren bukan sekadar aktivitas belajar mengajar. Ia merupakan salah satu metode menjaga kesinambungan ilmu agama.

Atas alas itu, Gus Faiz mengingatkan para santri agar tidak meremehkan kitab-kitab yang mereka pelajari. Kitab yang tipis tidak berarti memiliki ilmu yang sedikit.

Pelajaran nahwu yang tampak sederhana dapat menjadi alas untuk memahami bahasa Al-Qur’an. Fikih yang dipelajari dari kitab-kitab alas dapat menjadi fondasi untuk memahami permasalahan aturan yang lebih kompleks. Demikian pula ushul fikih mengajarkan metode berpikir dalam memahami dalil dan menggali hukum.

Semua itu membutuhkan proses yang panjang. Tidak ada pemahaman mendalam yang lahir secara instan. Seorang santri mesti membaca, mengulang, menghafal, berdiskusi, dan terus belajar. Dari ketekunan itulah perlahan-lahan terbentuk kapasitas untuk memahami permasalahan kepercayaan dan kehidupan.

Gus Faiz juga mengaitkan kapasitas dirinya dalam membaca beragam permasalahan dengan pengalaman belajar di pesantren. Berbagai ilmu yang dahulu dipelajari dari kitab-kitab klasik rupanya menjadi bekal ketika ia salingberhadapan dengan permasalahan hayat yang lebih luas.

“Saya bisa seperti ini, anak-anakku. Itu semua berkah jasa pesantren.”

Pernyataan tersebut memberitahu bahwa apa yang tampak sebagai kapasitas seseorang pada hari ini sering kali merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilaluinya sejak eksis di pesantren.

Pada titik inilah Gus Faiz membujuk para santri memahami balik arti warisan seorang ulama. Popularitas dapat berakhir ketika seseorang tidak lagi tampil di depan publik. Jabatan juga akan berakhir ketika masa tugas selesai. Harta pun pada akhirnya akan bergeser kepada orang lain.

Namun, ilmu yang berguna memiliki kemungkinan untuk terus hidup. Seorang ulama mungkin telah wafat puluhan tahun lalu. Tetapi ketika buku yang pernah diajarkannya statis dibaca, ketika pelajaran yang disampaikannya statis dipahami, dan ketika murid-muridnya statis mengajarkan ilmu tersebut kepada generasi berikutnya, maka manfaatnya belum berakhir.

Inilah yang mau ditekankan Gus Faiz ketika berbicara tentang karamah. Karamah tidak selalu mesti berupa sesuatu yang membikin manusia kagum karena eksis di luar kebiasaan. Ada karamah dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, tetapi manfaatnya jauh lebih panjang: ilmu yang terus memberi instruksi kepada manusia.

Pesantren Menjaga Warisan Ilmu Islam

Bagi Gus Faiz, pesantren memiliki peran krusial dalam menjaga mata rantai tersebut. Di pesantren, ilmu tidak cuma disampaikan melalui buku, tetapi juga melalui hubungan antara pendidik dan murid.

Ada keteladanan yang dilihat santri. Ada adab yang dipelajari. Ada metode membaca buku yang diwariskan. Ada metode memahami permasalahan kepercayaan yang diteruskan dari pendidik kepada murid.

Karena itu, tradisi ngaji tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang antik maupun tidak relevan. Justru melalui tradisi itulah ilmu keislaman terus memiliki kesinambungan.

Gus Faiz mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh santri di pesantren merupakan bagiankecil dari perjalanan panjang yang menghubungkan mereka dengan para ulama terdahulu.

“Ilmu yang ada di Ploso itu adalah mata rantai yang paling kokoh. Dia tidak terlihat. Tapi cuma dengan itulah sejatinya kepercayaan Islam statis ada sampai hari ini.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan ilmu kepercayaan sering kali dijaga melalui aktivitas yang sangat sederhana: pendidik duduk mengajar dan santri duduk belajar.

Dari ruang-ruang pengajian yang sederhana itulah lahir generasi yang kelak meneruskan ilmu kepada masyarakat.

Pada akhirnya, ceramah Gus Faiz membujuk kita balik kepada sesuatu yang mungkin kelihatan biasa: mengaji. Di tengah hayat yang sering mengukur keberhasilan melalui popularitas, jabatan, kekayaan, maupun banyaknya pengikut, pesantren mempertahankan ukuran yang berbeda. Seorang santri diajak untuk bersabar dalam belajar, tekun membaca, menghormati guru, dan menjaga ilmu yang telah diterimanya.

Proses itu memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat secara langsung. Namun, akibatnya dapat bertetap jauh lebih lama.

Seorang pendidik wafat, tetapi ilmunya statis diajarkan. Sebuah buku telah ditulis ratusan tahun lalu, tetapi statis dibaca hingga hari ini. Seorang ulama telah durasi meninggalkan dunia, tetapi nasihatnya statis membimbing hayat umat.

Di situlah ilmu memberitahu kekuatannya. Maka, ketika KH Nurul Huda Jazuli mengatakan bahwa “karamah Mbah Jazuli itu ngaji”, pesan tersebut sesungguhnya tidak cuma berbicara tentang satu sosok ulama. Pesan itu juga berbicara tentang sepertiapa ilmu Islam dapat bertetap dan terus memberi manfaat.

Karamah seorang ulama bukan cuma tentang apa yang terjadi ketika ia statis hidup, tetapi juga tentang apa yang statis hidup setelah ia wafat.

Selama buku statis dibuka, pengajian statis berlangsung, pendidik statis mengajar, dan santri statis tekun belajar, mata rantai ilmu itu belum terputus.

Karena itu, pesan Gus Faiz sangat sederhana: jaga pesantren, jaga pengajian, dan teruslah mengaji.

Sebab, bisa jadi, dari aktivitas yang tampak biasa itulah lahir karamah yang paling panjang umurnya: ilmu yang terus memberi khasiat kepada manusia, terlebihlagi ketika pemilik ilmu itu telah durasi meninggalkan dunia.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads