Kincai Media– Dalam ceramah Maulid Nabi 2026 berbareng Gus Baha dan Prof. M. Quraish Shihab di Pusat Studi Al-Qur’an, Gus Baha membujuk jamaah melihat Rasulullah SAW bukan sebagai sosok yang jauh dari hayat manusia, melainkan sebagai manusia (basyar) yang menjalani hayat dengan segala dinamika dan keterbatasannya.
Al-Qur’an sendiri menegaskan sisi kemanusiaan Rasulullah SAW:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ ١١٠
Artinya; Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini cuma seorang manusia seperti Anda yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah berbuat kebaikan saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Ayat ini memberitahu dua hal sekaligus: Rasulullah SAW adalah manusia, tetapi beliau menerima wahyu dari Allah. Karena itu, keteladanan Nabi justru terasa dekat dengan hayat manusia.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan para rasul sebagai manusia yang makan dan berjalan di pasar:
وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةًۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ ٢٠
Artinya; Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian Anda sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah Anda bersabar? Tuhanmu Maha Melihat.
Justru di situlah salah satu kelebihan Nabi Muhammad SAW. Beliau makan, berjalan di tengah masyarakat, berhubungan dengan keluarga, menghadapi perbedaan, terlebihlagi pernah mengalami lupa dalam salat. Semua itu memberitahu bahwa menjadi manusia bukan penghalang untuk menjadi hamba Allah yang dekat dengan-Nya.
Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan kedudukannya sebagai hamba dan utusan Allah. Dengan demikian, keteladanan Nabi tidak selalu mesti dicari dalam perkara-perkara besar. Hal-hal sederhana dalam hayat sehari-hari pun dapat menjadi jalan untuk meneladani beliau.
Gus Baha kemudian mengadopsi kisah ketika Nabi pernah lupa dalam salat. Ketika diingatkan sahabat, Nabi menyempurnakan salatnya. Dari peristiwa tersebut, para ulama membahas sepertiapa seorang Muslim menghadapi kesalahan maupun lupa dalam ibadah. Pesannya sederhana: manusia memang bisa lupa dan keliru, tetapi Islam mengajarkan metode untuk memperbaikinya.
Gagasan itu kemudian diperluas pada hayat sehari-hari. Hubungan suami-istri, perbedaan pendapat, kritik, terlebihlagi ketidaksukaan orang lain merupakan bagiankecil dari dinamika manusia. Seorang Muslim tidak perlu menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama harga dirinya. Yang lebih krusial adalah menjaga hubungan dengan Allah dan berupaya menjalani hayat sesuai tuntunan-Nya.
Di sinilah doa “Hasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl” memiliki arti penting:
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ١٧٣
alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama‘û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni‘mal-wakîl
Artinya; (yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” rupanya (ucapan) itu menambah (kuat) kepercayaan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Ayat tersebut menggambarkan sikap orang percaya ketika menghadapi tekanan dan ancaman. Bersandar kepada Allah bukan berarti mengabaikan keadaan, tetapi menempatkan Allah sebagai tempat bersandar setelah seseorang menghadapi hayat dengan sebaik-baiknya.
Gus Baha juga mengingatkan agar sikap rendah hati tidak berubah menjadi merasa diri tidak memiliki nilai. Mengutip pemikiran Imam asy-Sya’rani, ia menekankan pentingnya mengingat kesempurnaan dan nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Kesadaran atas nikmat tersebut seharusnya melahirkan syukur, bukan kesombongan.
Al-Qur’an mengingatkan kemuliaan manusia:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
Artinya; “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki kehormatan yang diberikan Allah. Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merendahkan dirinya secara berlebihan. Rendah hati (tawadhu) seharusnya berjalan berbareng rasa syukur atas karunia Allah.
Walhasil, ceramah tersebut membawa satu pesan penting: meneladani Rasulullah bukan berarti selesai menjadi manusia, tetapi belajar menjadi manusia yang tahu kepada siapa ia mesti bergantung.
Nabi memberitahu bahwa manusia boleh lupa, menghadapi masalah, salingberhadapan dengan perbedaan, dan mengalami beragam dinamika kehidupan. Namun semua itu dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah.
Maka, Maulid Nabi tidak semata-mata tentang mengagumi sosok Rasulullah SAW, tetapi juga tentang belajar menjalani hayat sebagaimana beliau mengajarkan: statis manusiawi, statis rendah hati, tetapi percaya diri karena Allah selalu menjadi tempat kembali.