Bertaubat. Ilustrasi
Kincai Media,Maksiat bukan hanya berakibat pada perilaku seseorang, tetapi juga dapat merusak logika dan hati. Ketika seseorang terus-menerus melakukan kemaksiatan, sinar akalnya semakin redup hingga melemahkan keahlian untuk menolak dosa, lantaran logika sehat telah rusak.
Pada saat yang sama, dosa demi dosa yang dilakukan membikin hati berkarat, menutupinya dari petunjuk, dan pada akhirnya dapat menyeret seseorang dalam kendali setan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ad-Da' wa ad-Dawa menerangkan bahwa kemaksiatan merusak akal. Akal adalah cahaya, dan kemaksiatan mematikan sinar tersebut. Jika sinar sinar padam, lemahlah kalbu manusia. Sebagian orang salaf berkata, "Tiada seorang pun yang melanggar perintah Allah selain lantaran akalnya berkurang."
Jika akalnya sempurna, pada saat berhadapan dengan maksiat, tentulah dia bakal meninggalkan maksiat tersebut. Ia berada dalam genggaman Allah Yang Maha Memelihara. Allah selalu memandang dan memantaunya saat dia berada dalam rumah alias dalam setiap aktivitasnya. Malaikat pun ikut menyaksikan.
Alquran menasihati dengan melarangnya, kematian menasihati dan melarangnya, neraka menasihati dan melarangnya. Yang banyak menghapus kebaikan bumi dan alambaka adalah kenikmatan dan kesenangan dengan melakukan maksiat. Apakah orang yang berakal sehat bakal mendatangi kehinaan ini?
Jika perihal seperti ini terjadi, seseorang bakal menjadi orang yang lalai dan lupa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Kallā bal…rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn(a).
Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (QS Al-Muṭaffifin Ayat 14).