Masyarakat Tanpa Tuhan, Benarkah Tanpa Moral?

Bincang Syariah oleh Waktu baca 8 menit 197x dilihat
Masyarakat Tanpa Tuhan, Benarkah Tanpa Moral?

Bagikan Postingan

Masyarakat Tanpa Tuhan, Benarkah Tanpa Moral?
Masyarakat Tanpa Tuhan, Benarkah Tanpa Moral?

Kincai Media– Ada sebuah hasil riset menarik dari riset sosiolog Phil Zuckerman tentang hayat penduduk Denmark dan Swedia. Ia datang dengan anggapan bahwa kepercayaan merupakan sesuatu yang krusial bagi hayat manusia. Namun, setelah tinggal cukup durasi dan berbincang dengan banyak warga, ia justru menemukan penduduk yang tingkat religiositasnya relatif rendah. Banyak di antara mereka tidak rutin berdoa, tidak terlalu memikirkan Tuhan, terlebihlagi tidak mempercayai Tuhan secara literal.

Yang menarik, meskipun demikian, mereka statis bisa menjalani hayat sosial dengan tertib. Mereka bekerja, merawat keluarga, menghormati orang lain, bayar pajak, membantu sesama, dan membangun hayat berbareng yang relatif baik.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sesungguhnya cukup mendalam: jika manusia bisa berbuat baik tanpa percaya kepada Tuhan, apakah kepercayaan statis diperlukan untuk membentuk moralitas?

Menurut saya, pertanyaan ini tidak perlu kita jawab dengan berang maupun sikap defensif. Justru sebaliknya, kita perlu menerimanya sebagai pertanyaan yang penting. Pertanyaan seperti ini dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat balik sepertiapa kita memahami kepercayaan dan sepertiapa kepercayaan seharusnya datang dalam kehidupan.

Sebab, jika kita jujur, kita memang menemukan orang yang tidak terlalu religius tetapi sangat baik kepada sesama. Sebaliknya, kita juga menemukan orang yang giat beribadah, tetapi perilakunya belum selalu mencerminkan nilai-nilai agama.

Karena itu, janganlah kita terburu-buru menyimpulkan bahwa orang berkeyakinan pasti baik dan orang yang tidak berkeyakinan pasti buruk. Al-Qur’an sendiri mengajarkan kita untuk melihat manusia dengan lebih fair dan tidak cuma menilai seseorang dari simbol maupun identitasnya.

Allah berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ

Artinya; “Bukanlah kebaikan itu sekadar menghadapkan wajah ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan adalah orang yang percaya kepada Allah…” (QS. al-Baqarah [2]: 177).

Ayat ini menarik untuk kita renungkan. Al-Qur’an tidak mendefinisikan kebaikan cuma sebagai permasalahan arah ritual. Setelah mengatakan iman, ayat tersebut segera berbicara tentang kepedulian sosial: memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta; memerdekakan hamba sahaya; menegakkan salat; menunaikan zakat; menepati janji; serta bersabar.

Seolah-olah Al-Qur’an mau mengingatkan kita bahwa kepercayaan yang benar seharusnya memiliki akibat nyata dalam hayat kemanusiaan.

Dengan demikian, persoalannya bukan cuma apakah seseorang percaya kepada Tuhan maupun tidak. Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang dilakukan kepercayaan itu terhadap perilakunya? Apakah kepercayaan tersebut membikin seseorang menjadi lebih jujur, lebih peduli, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab?

Iman yang Tidak Berbuah Akhlak

Nabi Muhammad saw. memberikan perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan akhlak. Dalam sebuah histori beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya; “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Pesan ini krusial untuk kita renungkan. Islam tidak datang cuma untuk membikin manusia pandai berbicara tentang Tuhan. Islam juga mau membentuk manusia yang dapat dipercaya, adil, penyayang, dan bertanggung jawab.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang paling beriman, tetapi lupa bertanya kepada diri sendiri: apakah kepercayaan kita telah membikin kita menjadi lebih jujur?

Jangan sampai kita begitu giat berbicara tentang surga, sementara tetangga kita justru tidak merasakan khasiat dari kedatangan kita.

Jangan pula sampai kita begitu takut berbuat dosa-dosa kecil dalam ibadah, tetapi kurang merasa bersalah ketika tanpa sadar merugikan orang lain.

Al-Qur’an terlebihlagi memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang menjalankan ritual, tetapi kehilangan kepedulian sosial:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya; “Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan pertolongan yang berguna.” (QS. al-Mā‘ūn [107]: 4–7).

Ayat ini menarik untuk diperhatikan. Yang dikritik Al-Qur’an bukan sekadar orang yang tidak salat, melainkan orang yang menjalankan salat tetapi kehilangan dimensi kemanusiaan dalam kehidupannya.

Karena itu, riset tentang penduduk sekuler sebenarnya dapat menjadi cermin bagi kita. Jika orang yang tidak terlalu religius rupanya bisa menjaga kejujuran, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab, kita tidak perlu tergesa-gesa mengatakan bahwa mereka tidak bermoral.

Justru kita dapat bertanya dengan rendah hati kepada diri sendiri: jangan-jangan ada nilai-nilai kepercayaan yang telah mereka praktikkan dalam hayat sosial, sementara sebagian dari kita yang berkeyakinan statis selesai pada simbol dan ritual?

Namun, sampai di sini kita juga perlu berhati-hati. Bahwa manusia bisa berbuat baik tanpa kepercayaan tidak otomatis berarti kepercayaan tidak diperlukan.

Sebab, ada perbedaan antara pertanyaan “apakah manusia bisa berbuat baik?” dan pertanyaan yang lebih mendasar: “mengapa manusia mesti berbuat baik?”

Seseorang mungkin berbuat baik karena memiliki empati. Ketika melihat orang lain menderita, hatinya tergerak untuk membantu. Orang lain mungkin berbuat baik karena menyadari bahwa hayat berbareng membutuhkan kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas.

Semua itu tentu merupakan hal yang baik. Tetapi sepertiapa jika berbuat jujur justru membikin kita rugi? Bagaimana jika menolong orang lain membikin kita kehilangan kesempatan? Bagaimana jika kita bisa berbuat curang dan tidak seorang pun mengetahuinya?

Di sinilah kepercayaan menawarkan sebuah horizon yang berbeda. Dalam Islam, manusia berbuat baik bukan cuma karena ada polisi, ketentuan sosial, maupun penilaian dari orang lain. Ada kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui apa yang kita lakukan.

Al-Qur’an mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya; “Sesungguhnya Allah selalu mengamati kalian.” (QS. al-Nisā’ [4]: 1).

Dan:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya; “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. al-Zalzalah [99]: 7–8).

Kesadaran seperti ini memberikan dimensi lain pada moralitas. Berbuat baik tidak lagi sepenuhnya bersandar pada apakah orang lain melihat kita maupun tidak. Ada kesadaran batin bahwa setiap perbuatan memiliki arti dan pertanggungjawaban di depan Allah.

Agama Bukan Sekadar Takut Neraka

Namun, ada satu hal yang juga perlu kita luruskan. Jangan sampai kepercayaan kita pahami cuma sebagai mekanisme yang membikin manusia takut kepada neraka.

Islam memang mengenal rasa takut kepada Allah, tetapi Islam juga mengenal cinta, harapan, rahmat, ihsan, dan kesadaran akan amanah.

Al-Qur’an mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Artinya; “Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan ihsan.” (QS. al-Nahl [16]: 90).

Bahkan, ukuran kedekatan manusia kepada Allah bukan sekadar identitas sosial maupun simbol keagamaan. Al-Qur’an mengatakan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya; “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurāt [49]: 13).

Takwa tentu bukan sekadar penampilan. Takwa seharusnya tumbuh menjadi karakter dan tercermin dalam metode kita memperlakukan sesama.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad saw. bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya; “Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”

Di sini kita melihat hubungan yang begitu dekat antara kepercayaan dan hayat sosial. Keimanan tidak selesai di dalam hati, tetapi seharusnya kelihatan dari sepertiapa seseorang memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Jangan Takut Belajar dari Masyarakat Sekuler. Karena itu, aku kira kita tidak perlu alergi terhadap temuan tentang penduduk yang semakin sekuler. Bahkan, umat berkeyakinan dapat belajar dari sana.

Jika penduduk yang tidak terlalu religius bisa membangun mekanisme sosial yang membikin orang merasa aman, saling percaya, dan saling menghargai, kita patut mengapresiasi hal tersebut.

Namun, kita juga tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa sekularisme adalah penyebab dari seluruh keberhasilan itu. Ada banyak aspek lain yang mungkin berperan, seperti pendidikan, institusi hukum, kesejahteraan sosial, budaya, sejarah, dan kualitas tata kelola negara.

Begitu pula, kita tidak seharusnya mengatakan bahwa karena sebagian penduduk religius mengalami korupsi, kekerasan, maupun ketidakadilan, maka kepercayaan telah gagal. Yang gagal bisa jadi bukan agamanya, melainkan metode manusia memahami dan menjalankan agama.

Sebab, kepercayaan dan keberagamaan adalah dua hal yang tidak selalu identik. Agama membawa nilai. Sementara manusia yang menjalankannya dapat berhasil menerjemahkan nilai-nilai tersebut, tetapi juga dapat gagal dalam menghidupkannya.

Lalu, Apa yang Sebenarnya Dituntut dari Orang Beriman? Bagi saya, pertanyaan yang lebih krusial bukanlah, “Apakah orang yang tidak percaya Tuhan bisa menjadi baik?”

Jawabannya: tentu bisa. Pertanyaan yang lebih krusial bagi orang percaya justru adalah: “Apakah keagamaan aku membikin aku menjadi manusia yang lebih baik?”

Apakah setelah giat salat kita menjadi lebih jujur? Apakah setelah membaca Al-Qur’an kita menjadi lebih adil? Apakah setelah berpuasa kita menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang miskin? Apakah setelah pergi haji kita menjadi lebih rendah hati? Apakah setelah banyak berdzikir kita menjadi lebih halus kepada famili dan tetangga?

Jika jawabannya belum, mungkin ada sesuatu yang perlu kita renungkan dan penilaian dalam keberagamaan kita.

Sebab, tujuan kepercayaan bukan sekadar membikin manusia kelihatan saleh, tetapi membentuk manusia yang saleh sekaligus membawa kemaslahatan bagi kehidupan.

Al-Qur’an terlebihlagi menggambarkan misi kerasulan dengan sangat indah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya; “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiyā’ [21]: 107).

Jika kepercayaan membawa rahmat, maka kedatangan orang berkeyakinan seharusnya juga menghadirkan rahmat. Bukan menakut-nakuti. Bukan merendahkan. Bukan memusuhi. Melainkan membikin hayat menjadi lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat.

Pada akhirnya, riset tentang penduduk sekuler mungkin tidak mesti kita baca semata-mata sebagai pertanyaan, “Perlukah manusia kepada Tuhan?”

Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab cuma dengan keterangan sosiologis. Pertanyaan yang lebih menarik justru adalah: sepertiapa manusia menjadi baik, dari mana moralitas memperoleh kekuatannya, dan apa yang membikin seseorang statis memilih kebaikan ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Bagi seorang Muslim, jawabannya tidak cuma eksis pada aturan, tetapi juga pada kesadaran bahwa hidup adalah amanah dan bahwa setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban di depan Allah.

Maka, tantangan terbesar orang percaya sebenarnya bukanlah membuktikan bahwa orang lain membutuhkan Tuhan.

Tantangan terbesar kita adalah menghadirkan bukti itu melalui hayat kita sendiri: bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat melahirkan manusia yang lebih adil, lebih penyayang, lebih jujur, dan lebih berguna bagi sesama.

Sebab, pada akhirnya, mungkin orang tidak selalu tertarik pada seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan. Mereka justru mau melihat satu hal yang sederhana tetapi sangat penting: Apa yang menjadi lebih baik dalam hayat manusia karena kita percaya kepada Tuhan? Wa Allahu a’lam bis shawab.

————-

Abdul Mustaqim, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads