Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 4 menit 506x dilihat
Seni Memaafkan: Investasi Terbaik untuk Ketenangan Jiwa

Bagikan Postingan

Dalam hayat sosial yang dinamis, perselisihan adalah sunnatullah dan suatu keniscayaan. Namun, kapasitas untuk memberi ampun bukan sekadar aksi sosial, ia adalah mekanisme kejiwaan dan spiritual untuk menjaga kesehatan mental. Memberi ampun adalah kunci utama menuju ketenangan hati.

Islam memberikan panduan komprehensif dalam berhubungan dengan sesama, terutama saat kita disakiti. Salah satu landasan utamanya adalah firman Allah Ta’ala,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Ayat ini hamil tiga pesan krusial:

Pertama, memberi maaf

Memaafkan adalah cara mula memutus rantai dendam yang membebani hati. Ketika seseorang menyakiti kita, secara naluriah hati mau membalas. Kita mau memberikan perlakuan yang sama. Kita mau memberitahu bahwa kita tidak lemah. Tetapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia.

Tidak semua luka mesti dibalas. Tidak semua kesalahan mesti dibawa sepanjang hidup. Memaafkan berarti melepaskan sesuatu yang sebenarnya bisa terus kita genggam. Bayangkan seseorang melemparkan bara api kepada kita. Jika kita terus menggenggamnya karena mau suatu hari melemparkannya kembali, siapa yang pertama kali terbakar? Tentu tangan kita sendiri!

Kita mungkin mengira sedang menghukum orang lain dengan tidak memaafkannya. Padahal sering kali, yang paling durasi tersiksa justru diri kita sendiri. Memaafkan berarti seseorang memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hatinya. Terlebih lagi jika orang tersebut telah ikhlas meminta ampun dan mencoba memperbaiki hubungan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian mau agar Allah memaafkan kalian?” (QS. An-Nur: 22)

Kita semua adalah manusia yang mengharapkan Allah Ta’ala memaafkan kesalahan kita.

Kita memohon agar Allah Ta’ala menutup aib kita, menghapus dosa kita, dan memaafkan kekurangan kita. Maka bukankah elok jika kita juga belajar menjadi manusia yang gampang memaafkan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Allah tidaklah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Kedua, membujuk kebaikan

Setelah Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk memaafkan, kemudian Allah Ta’ala mengarahkan kita kepada kebaikan. Seakan ada pesan tersirat:

“Jangan habiskan seluruh energimu untuk memikirkan orang yang menyakitimu. Gunakanlah energimu untuk berbuat dan membujuk kepada kebaikan.”

Maka, jangan biarkan satu orang yang berbuat buruk memungut seluruh ruang dalam pikiran kita. Karena hidup terlalu bermutu untuk dihabiskan cuma demi memikirkan dan memendam kesalahan orang lain.

Ketiga, mengabaikan kebodohan

Ada orang yang ketika kita jelaskan, ia semakin mencari masalah. Ketika kita diam, ia terus memancing. Ketika kita membalas, masalah justru semakin panjang.

Dalam kondisi seperti ini, beralih bukan berarti kalah. Berpaling bisa menjadi tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak ikut turun ke dalam keburukan.

Allah Ta’ala juga memuji hamba-hamba-Nya yang ketika salingberhadapan dengan orang-orang jahil, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang buruk, mereka mengucapkan perkataan yang baik.” (QS. Al-Furqan: 63)

Jika perlu menjelaskan, jelaskan dengan baik. Jika perlu menasihati, nasihati dengan hikmah. Tetapi jika rupanya yang diinginkan hanyalah pertengkaran, berpalinglah.

Hal ini bukan karena kita tidak bisa menjawab maupun membantah, tetapi karena kita tahu ketenangan jauh lebih berharga.

Teladan memaafkan dari generasi terbaik

Abdullah bin Zubair berkata mengenai ayat 199 surat Al-A’raf,

ما أنزل الله هذه الآية إلا في أخلاق الناس

“Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai adab manusia.” (HR. Al-Bukhari)

Penjelasan tersebut memberitahu bahwa menjadi seorang yang pemaaf adalah merupakan salah satu adab yang mulia dalam Islam.

Demikian pula dengan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ketika seorang lelaki disebut ‘Uyainah masuk ke dewan beliau dan memaki beliau dengan dakwaan kejam. Umar yang dikenal tegas sempat hampir terpancing amarahnya sehingga mau memukulnya. Namun, salah satu sahabat yang datang disebut Al Hurr segera mengingatkan beliau,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Amirul Mukminin! Allah berfirman kepada Nabi-Nya, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ (QS. Al-A’raf: 199). Dan ini (yaitu ‘Uyainah) termasuk orang-orang bodoh.”

Begitu mendengar ayat itu, Umar langsung melunak dan mengekang diri. (Lihat HR. Al-Bukhari no. 4642)

Ini membuktikan bahwa kemuliaan seseorang justru kelihatan saat ia bisa mengekang diri dari kemarahan.

Semoga Allah Ta’ala melapangkan hati kita untuk memaafkan, menguatkan kita untuk mengekang diri dari membalas keburukan, dan mengisi sisa umur kita dengan kebaikan.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Kincai Media

Referensi:

Al-Adab Al-Mufrad, no. 244, Bab العفو والصفح عن الناس (Memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia).

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
Close Right Ads
Close Left Ads