Kincai Media, JAKARTA— Imam Abu Hamid al-Ghazali merupakan salah satu ulama besar dan figur terkemuka dalam sejarah Islam memberikan jasa yang sangat besar bagi Islam dan kaum Muslimin, yang tidak akan terhapus oleh pergantian zaman.
Bahkan beliau memperoleh gelar yang sangat khas dan hampir tidak diberikan kepada ulama lain, yaitu “Hujjatul Islam”.
Namun, sebagaimana para ulama dan ahli fikih lainnya, Imam al-Ghazali rahimahullah juga tidak luput dari kritik. Yang kita maksud bukanlah serangan dari para lawan Islam, karena hal semacam itu merupakan sesuatu yang wajar.
Yang dimaksud adalah kritik dan serangan yang datang dari sebagian kalangan ulama dan ilmuwan Muslim sendiri—orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap agama, mencintai dan menghormati Imam al-Ghazali, mengikuti manhajnya, serta menjadikan karya-karya dan perkataannya sebagai rujukan.
Salah satu kritik maupun pertanyaan yang paling menonjol adalah: meskipun Imam al-Ghazali memiliki keluasan ilmu, kekuatan argumentasi, keteguhan akidah, kelurusan manhaj, kezuhudan, kewaraan, serta perhatian yang sangat besar terhadap amar makruf dan nahi mungkar, kenapa al-Ghazali tampak begitu menghindari bahasan tentang jihad militer kaum Muslimin dan peperangan yang diwajibkan kepercayaan terhadap para kolonialis dan lawan umat?
Terlebih lagi, beliau hidup pada masa Perang Salib dan menyaksikan serangan besar-besaran pasukan Salib terhadap bumi Islam, beragam pembantaian yang mereka lakukan, serta kehancuran yang mereka timbulkan di kota-kota dan desa-desa Syam.
Lantas, apa yang menyebabkan beliau diam?
Bagaimana mungkin seorang ulama besar dan imam yang memiliki jabatan seperti al-Ghazali seolah-olah tidak memberikan perhatian terhadap peristiwa besar tersebut? Bagaimana mungkin beliau tidak menyerukan jihad maupun membicarakannya dalam situasi ketika umat eksis dalam kondisi “jihad defensif” (jihad ad-daf')?
Ketika Dinasti Saljuk mulai berkuasa, kesadaran tentang jihad balik tumbuh di kalangan kaum Muslimin.
Dalam rentang waktu sejak masuknya bangsa Saljuk ke Baghdad hingga tahun 490 H—tahun yang menandai dimulainya serangan Pasukan Salib terhadap Syam—mereka berhasil merebut balik seluruh daerah Syam bagiankecil utara dari tangan Bizantium.
Mereka terlebihlagi memasuki Asia Kecil dan berhasil menawan Kaisar Bizantium dalam Perang Manzikert yang terkenal. Peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah peperangan antara kaum Muslimin dan Bizantium.
Namun, sejak tahun 490 H, peperangan tersebut memasuki fase baru. Konflik itu berubah menjadi Perang Salib.