Kincai Media , JAKARTA -- Dalam hukum Islam, tanggungjawab yang belum tertunaikan hingga ajal menjemput dianggap sebagai utang kepada Allah SWT. Karena itu, pihak mahir waris mesti memerhatikan, adakah hal-hal yang kudu diselesaikan sebagai amanah dari orang yang sudah wafat.
Di antaranya adalah, tanggungjawab seorang anak alias wali untuk menggantikan puasa orang tua yang sudah meninggal dunia. Dalilnya adalah sebagai berikut.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Dari Aisyah RA, (diriwayatkan) bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa meninggal dunia, padahal dia berutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya'” (Muttafaq 'alaih).
عَنِ اْبنِ عَبَّاٍس رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ قاَلَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَقْضِيَهُ عَنْهَا؟ قاَلَ: لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قاَضِيَهُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقٌ أَنْ يُقْضَى [رواه البخاري].
“Dari Ibnu Abbas RA, (diriwayatkan) dia berkata, 'Seorang laki-laki datang menghadap Nabi SAW, kemudian berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh ibuku telah wafat, padahal dia punya tanggungjawab puasa satu bulan, apakah saya dapat berpuasa menggantikannya?'
Nabi menjawab, 'Jika seandainya ibumu mempunyai utang, apakah engkau bakal membayarkannya?'
Laki-laki itu menjawab, 'Iya.' Selanjutnya Nabi bersabda, 'Utang kepada Allah lebih berkuasa untuk ditunaikan'” (HR al-Bukhari).
عَنِ بْنِ عَباَّسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ اِمْرَاَةً أَتَتْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ.فَقَالَ: أَ فَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِيْنَهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ : فَدَيْنُ اللهِ أَحَقٌّ بالْقَضَاءِ [رواه مسلم]
“Dari Ibnu Abbas RA, (diriwayatkan) bahwa seorang wanita datang menghadap Rasulullah SAW, lampau berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh ibu saya telah meninggal, padahal dia punya tanggungjawab puasa satu bulan.'
Kemudian, Nabi bersabda, 'Bagaimana pendapatmu jika ibumu mempunyai utang, apakah Anda bakal membayarnya?'
Perempuan itu menjawab, 'Ya.' Kemudian, Nabi SAW bersabda, 'Utang kepada Allah lebih berkuasa untuk dilaksanakan'” (HR Muslim).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً رَكِبَتْ الْبَحْرَ فَنَذَرَتْ إِنْ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْجَاهَا أَنْ تَصُومَ شَهْرًا فَأَنْجَاهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلَمْ تَصُمْ حَتَّى مَاتَتْ فَجَاءَتْ قَرَابَةٌ لَهَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ صُومِي [أخرجه أحمد]
“Dari Ibnu Abbas RA, (diriwayatkan) bahwa ada seorang wanita berlayar mengarungi lautan, lampau dia bernazar. seandainya Allah menyelamatkannya, dia bakal berpuasa selama satu bulan. Kemudian, Allah menyelamatkannya, tetapi dia tidak berpuasa sampai dia meninggal. Keluarganya datang menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan perihal tersebut. Beliau bersabda, 'Berpuasalah untuknya'” (HR Ahmad).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·