Inilah Kesenian Yang Dipilih Wali Songo Untuk Berdakwah

Jan 29, 2026 06:07 PM - 3 bulan yang lalu 103435

Kincai Media , JAKARTA -- Wali songo adalah sembilan orang tokoh krusial dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa. Kesuksesan dakwah yang dilakukan mereka tidak lepas dari kepiawaian dalam membaca situasi sosial dan demografis masyarakat setempat. Alhasil, syiar Islam dapat sampai kepada masyarakat sasaran dengan lebih mengakar.

Para pendakwah itu terdiri atas Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Berdasarkan penelitian sejarah, mereka tidak hidup pada masa yang persis bersamaan. Akan tetapi, satu sama lain mempunyai keterkaitan yang erat, baik dalam perihal nasab maupun relasi guru-murid.

Kelompok berilmu ustadz itu kerap menggunakan kesenian sebagai media dakwah. Di samping itu, mereka pun melalui pendekatan kepada beragam lapis masyarakat, mulai dari raja hingga kaum papa. Konsep tablig yang diterapkan Wali Songo selaras dengan tuntunan surah Ali Imran ayat 159, ialah agar seorang mubaligh “berlaku lemah lembut.”

Seni suluk

Suluk adalah sebuah istilah dalam bumi tasawuf. Suluk dapat diartikan sebagai berkhalwat alias menyendiri dari keramaian manusia untuk sementara. Tujuannya untuk mengintensifkan zikir kepada Allah SWT.

Berkat dakwah Wali Songo, suluk akhirnya masuk dalam khazanah sastra Jawa. Dalam konteks ini, suluk merupakan nyanyian dalang yang dibawakan untuk menimbulkan suasana tertentu. Karena itu, teks suluk tidak bisa dibaca secara datar-datar saja. Ia kudu menggunakan nada naik alias turun, seiring dengan emosi yang hendak diekspresikan.

Suluk sebagai sebuah karya seni dipopulerkan oleh Sunan Bonang ketika berceramah pada abad ke-15. Salah satunya adalah Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab As-Shidiq karya Abu Said al-Khayr.

Pertunjukan wayang

Kesenian wayang pada awalnya bernuansa Hindu-Buddha. Bagaimanapun, kalangan Wali Songo memandang corak kesenian itu dapat menjadi perangkat yang efektif untuk syiar Islam. Maka, sejumlah lakon wayang diubah alias dimodifikasi menjadi islami. Hasilnya, jalan ceritanya menuturkan kisah-kisah para nabi, rasul, serta orang-orang saleh dalam khazanah Islam. Pesan moralnya pun sarat bakal rekomendasi tentang tauhid, tasawuf, adab dan sebagainya.

Dulu, wayang dipertunjukkan di masjid. Masyarakat non-Muslim bebas untuk menyaksikan, tetapi dengan syarat. Misalnya, mereka kudu berwudhu terlebih dulu dan mengucapkan syahadat sebelum memasuki masjid. Dengan begitu, mereka mengenal amalan-amalan Islam.

Tembang permainan

Salah seorang Wali Songo, Sunan Giri, menggunakan permainan sebagai medium berdakwah. Beberapa permainan anak-anak yang diciptakannya adalah jemblongan, jelungan, dan juga tembang-tembang syair. Nyanyian liris itu apalagi terkenal hingga saat ini, semisal Ilir-ilir alias Padang Bulan. Liriknya sarat bakal pesan keislaman.

Adapun prinsip permainan jelungan adalah si pemenang bersembunyi, sementara pemain yang kalah berupaya mencari pemain lain tanpa kudu berada terlalu jauh dari pangkalan alias pokok pohon yang sudah ditentukan. Filosofinya, seorang yang berpegang teguh pada tauhid bakal selamat dari rayuan setan alias setan yang dilambangkan sebagai pemburu.

Selengkapnya