Jawaban Untuk Dalih-dalih Kaum Ekstremis

Jan 14, 2026 01:16 PM - 4 bulan yang lalu 124134

Kincai Media , JAKARTA -- Abdullah bin Abbas alias Ibnu Abbas merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang "junior" jika diukur dari perspektif usia. Ia lahir tiga tahun sebelum hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Saat beliau wafat, Ibnu Abbas tetap berumur 13 tahun.

"Ya Allah, ajarilah anak ini hikmah," demikian angan Nabi SAW sembari memeluk sepupunya itu. Ibnu Abbas mini pernah diusap kepalanya dan didoakan oleh beliau. "Ya Allah, anugerahilah pemahaman kepercayaan kepadanya," kata Rasulullah SAW mendoakannya.

Ketekunan Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu-ilmu kepercayaan diakui banyak pihak. Bahkan, dia dijuluki sebagai “tinta umat” oleh para sahabat yang senior. Khalifah Umar bin Khattab nyaris selalu mengundang pemuda tersebut untuk ikut berbincang berbareng para penasihatnya yang lain dalam membahas persoalan kepercayaan dan umat.

Khalifah Umar wafat beberapa saat sesudah ditusuk oleh seorang Majusi. Kepemimpinannya digantikan oleh Utsman bin Affan.

Namun, prahara terjadi di ujung masa pemerintahan sang Dzun Nurain. Bahkan, Khalifah Utsman kemudian syahid lantaran dibunuh golongan pemberontak.

Sesudah itu, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Di antara kebijakannya adalah memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kufah (Irak). Sebab, dia mau menjauhkan bara bentrok politik dari kota suci.

Di Irak, muncul golongan yang mempunyai ideologi ekstremis. Mereka pada awalnya sangat ekstrem mendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib, sampai-sampai secara total memusuhi kubu Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Gubernur Syam tersebut menolak pemerintahan Ali.

Kemudian, arbitrase (tahkim) terjadi antara pihak Ali dan Mu’awiyah. Ternyata, perwakilan Mu’awiyah dapat mengatasi argumentasi utusan sang khalifah. “Kegagalan” di tahkim membikin para fanatikus pro-Ali bin Abi Thalib keluar (kharaja) dari sikap awalnya. Kini, mereka justru banget memusuhi Ali--dan Mu'awiyah sekaligus. Orang-orang inilah yang kemudian dinamakan sebagai kaum Khawarij.

Seperti diceritakan Ibnu al-Jauzi dalam sebuah bukunya, terjadilah perbincangan antara Ibnu Abbas dan kaum Khawarij. Sepupu Rasulullah SAW ini beranggapan mengenai golongan ekstremis tersebut.

Katanya, “Belum pernah kujumpai orang yang sangat antusias beragama seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh jejak sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi lantaran kurang tidur lantaran menghabiskan malam untuk shalat.”

Semula, orang-orang Khawarij menyambut Ibnu Abbas dengan sangat ramah lantaran berambisi dirinya mau berasosiasi dengan mereka dalam memusuhi Ali.

Namun, sikap ramah itu lenyap begitu sepupu Rasul SAW tersebut menegaskan maksud kedatangannya: menasihati mereka agar tidak memusuhi Ali.

Akhirnya, tiga orang Khawarij bersedia maju untuk mendebat Ibnu Abbas.

“Wahai kalian, sampaikan kepadaku argumen kebencian kalian kepada menantu Rasul SAW beserta sahabat Muhajirin dan Anshar! Ketahuilah, Alquran pertama-tama turun kepada mereka. Dan tidak ada seorang sahabat Nabi yang berbareng dengan kalian kini,” ucap Ibnu Abbas.

“Kami punya tiga alasan,” kata pendebat dari kaum Khawarij.

Ibnu Abbas lampau mempersilakan mereka mengutarakannya. Tidak sekalipun sang “tinta umat” menyela hingga orang-orang itu selesai menyampaikan pokok pikirannya. Dan, inilah dalih-dalih Khawarij.

Pertama, Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim—yakni dalam momen tahkim. Padahal, lanjut Khawarij, Allah berfirman dalam surah Yusuf ayat 40, yang artinya, “Keputusan itu hanyalah milik Allah.”

Kedua, Ali telah memerangi musuh, ialah kubu ‘Aisyah binti Abu Bakar, dalam Perang Unta. Namun, setelah menang, Ali tidak mengambil kekayaan rampasan. Mereka mengecap, jika ‘Aisyah adalah Mukmin, tentu haram bagi kami bertempur terhadapnya.

Selengkapnya