Ketika Allah mengutus seseorang untuk menjadi Nabi dan Rasul, Allah berikan kepada mereka juga mukjizat dan keistimewaan sebagai bekal berceramah dan sebagai bukti kenabian mereka. Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Sulaiman untuk bisa berbincang dengan hewan, Allah berikan keistimewaan kepada Nabi Nuh yang bisa membelah lautan dengan izin Allah, dan para Nabi lainnya juga demikian.
Tentunya, utusan terakhir yang Allah utus sebagai Nabi dan Rasul juga Allah berikan keistimewaan. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allah berikan kepada beliau jawamiul kalim. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُعْطِيتُ جَوامِعَ الكَلِمِ، ونُصِرْتُ بالرعْبِ، وأُحِلتْ لِيَ الغَنائِمُ، وجُعِلَتْ لِيَ الأرْضُ طَهُورًا ومَسْجِدًا، وأُرْسِلْتُ إلى الخَلْقِ كافةً، وخُتِمَ بيَ النبِيونَ
“Aku dianugerahi dengan jawamiul kalim, saya ditolong dengan rasa gentar (pada hati musuh), dihalalkan bagiku kekayaan rampasan perang (ghanimah), dan dijadikan bagiku bumi ini suci dan tempat bersujud (masjid). Aku diutus kepada seluruh makhluk secara keseluruhan, dan para nabi ditutup dengan diutusnya diriku.” (HR. Muslim)
Pada sabda di atas, Rasulullah sedang menjelaskan bahwa para Nabi diberikan oleh Allah beragam keistimewaan. Rasulullah menyampaikan ada 6 keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu:
– Allah membikin musuh Rasulullah merasa gentar;
– Halalnya kekayaan rampasan perang;
– Bumi/tanah adalah suci dan bisa manjadi tempat salat (ibadah);
– Rasulullah diutus untuk seluruh makhluk;
– Rasulullah merupakan penutup para utusan Allah;
– Jawamiul kalim.
Salah satu dari 6 keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau adalah Allah anugerahkan kepada Rasulullah jawamiul kalim.
Apa itu jawamiul kalim?
Jawamiul kalim merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasulullah. Lalu apa itu sebenarnya jawamiul kalim? Jawamiul kalim bisa didefinisikan sebagai berikut:
قليلة ويسيرة الألفاظ، ولكنها تحتوي وتشتمل المعاني الكبيرة الكثيرة
“Sedikit dan ringannya lafaz, bakal tetapi terkandung makna-makna yang agung dan luas.”
Begitulah Allah berikan keistimewaan kepada Rasulullah sehingga perkataan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bisa ringkas dan padat, bakal tetapi mempunyai makna yang luar biasa, juga terkandung banyak faidah dan pelajaran yang bisa diambil. Efeknya apa? Perkataan beliau yang ringkas tersebut menjadi mudah untuk ditangkap oleh banyak kalangan lantaran ringkasnya. Juga mudah bagi kaum muslimin untuk menghafalnya.
Kemudahan tersebut tentunya tidak lain merupakan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kepercayaan ini dan salah satu langkah dari Allah untuk menjaga kemurnian kepercayaan ini hingga akhir zaman.
Perkataan Rasulullah sejatinya adalah wahyu Allah
Mengapa Rasulullah bisa mengucapkan perkataan-perkataan berupa jawamiul kalim ini? Kata-kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa ringkas, bakal tetapi memliki banyak pelajaran krusial dan relevan hingga sekarang. Jawabannya adalah sejatinya, perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Hal tersebut sebagaimana firman Allah,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى
“Tidaklah dia (Rasulullah) berbicara dari hawa nafsunya, melainkan adalah wahyu yang turun kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,
مَا يَقُولُ قَوْلًا عَنْ هَوًى وَغَرَضٍ، إِنمَا يَقُولُ مَا أُمِرَ بِهِ، يُبَلغُهُ إِلَى الناسِ كَامِلًا موفرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ
“Tidaklah beliau (Rasulullah) mengucapkan sebuah ucapan berasas dari hawa nafsu dan maksud pribadinya. Sesungguhnya beliau mengucapkan apa yang diperintahkan kepada beliau. Beliau pun menyampaikannya kepada manusia secara komplit dan utuh tanpa ada penambahan maupun pengurangan.”
Oleh lantaran itu, ucapan-ucapan beliau seringkali mengandung makna yang luar biasa dan selalu relevan sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ucapan beliau bukan datang dari diri pribadi beliau, melainkan merupakan wahyu dari Allah yang sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Contoh-contoh jawamiul kalim
Setelah kita membahas tentang jawamiul kalim, selanjutnya kita bakal lihat contoh-contoh dari jawamiul kalim tersebut. Di antara contohnya adalah:
Pertama
إنما الأعمال بالنيات، ولِكُل امْرِئٍ ما نَوى
“Sesungguhnya ibadah itu berjuntai pada niatnya dan setiap perbuatan tergantung apa yang diniatkan darinya.” (HR. Muslim)
Contoh pertama dari jawamiul kalim adalah hadis tentang niat di atas. Hadis tersebut bisa dikatakan merupakan pondasi bagi ibadah seseorang. Hal tersebut dikarenakan sejatinya ibadah dalam Islam semuanya berangkaian dengan niat.
Niat merupakan perihal yang membedakan suatu kegiatan merupakan ibadah alias bukan. Niat juga merupakan pembeda satu ibadah dengan ibadah lainnya. Niat jugalah yang membikin ibadah harian bisa diganjar pahala dan sebaliknya, membikin ibadah ibadah malah menjadi penyebab datangnya api neraka. Semuanya berputar seputar niat.
Kedua
لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين
“Tidaklah seorang mukmin tersengat dari lubang (sarang hewan) yang sama dua kali.” (HR. Bukhari)
Contoh selanjutnya adalah sabda di atas. Hadis tersebut merupakan nasihat agung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sejatinya seorang muslim tidaklah patut untuk mengulangi kesalahan yang sama terus-menerus. Seseorang tentu bisa melakukan salah lantaran lalai alias semisalnya. Akan tetapi, seorang yang beragama tentunya sadar atas kesalahannya dan berupaya untuk tidak mengulanginya kembali.
Ketiga
دعْ ما يُريبُك إلى ما لا يُريبُك
“Tinggalkan yang meragukanmu kepada perihal yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)
Hadis selanjutnya adalah sabda di atas yang merupakan nasihat dari Rasulullah untuk meninggalkan segala perihal yang membikin kita ragu. Hal tersebut bisa berupa perkataan alias perbuatan yang kita tidak tahu itu perihal yang boleh alias tidak. Jika kita tetap ragu, sebaiknya kita tinggalkan.
Hadis ini mempunyai pelajaran krusial bagi kita semua yang bisa kita aplikasikan pada banyak perkara dalam perkara agama. Hadis ini mengajarkan agar kita senantiasa berhati-hati dan tidak bermudah-mudahan menerjang perihal yang tetap kita ragu mengenai hukumnya.
Keempat
لا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتى يُحِب لأخِيهِ ما يُحِب لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beragama seseorang di antara kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim)
Contoh keempat adalah pada sabda di atas. Sebuah sabda bagus yang mengajarkan kita standar untuk memperlakukan orang lain. Hendaknya kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita mau diperlakukan sehingga kita bisa melakukan baik pada mereka dan juga mengajarkan kita untuk beradab dan memperlakukan orang lain dengan benar.
Kelima
لا ضرر ولا ضرار
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Contoh terakhir adalah sabda di atas. Hadis yang agung ini merupakan landasan kepercayaan Islam dalam mengharamkan suatu perbuatan. Hadis ini juga menjadi norma fikih yang menentukan apakah suatu perbuatan itu boleh alias tidak. Sejatinya, Islam melarang setiap perbuatan yang membahayakan, entah bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Bahkan, Islam mengangkat beban hukum bagi orang yang bakal mengalami ancaman jika dia memaksakan diri untuk melakukan ibadah.
Baca juga: Keistimewaan Para Rasul
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Kincai Media
Referensi:
Alukah.net
Islamweb.net
English (US) ·
Indonesian (ID) ·