Kapan Bayi Boleh Makan Telur? Jangan Asal Diberi Sebelum Cukup Usia

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 39x dilihat
Kapan Bayi Boleh Makan Telur? Jangan Asal Diberi Sebelum Cukup Usia

Bagikan Postingan

Setiap bayi pastinya membutuhkan nutrisi yang berkualitas untuk evolusi dan pertumbuhannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi Si Kecil, termasuk telur yang kaya akan zat gizi.

Telur memiliki kandungan yang mendukung fungsi tubuh seperti protein dengan kualitas tinggi, vitamin B12, vitamin D, zat besi, dan omega 3. Dikutip dari halaman resmi IDAI, telur merupakan sumber protein hewani yang hamil asam amino lengkap. Bisa dilihat dari kandungan satu buah telur rebus hamil 77 kkal yang terdiri dari protein sekitar 6 g dan lemak total 5,3 g.

Dengan kandungan tersebut, telur bisa menjadi salah satu pilihan bahan MPASI untuk Si Kecil. Namun, pemberiannya statis mesti diperhatikan dan disesuaikan dengan usia dan kesiapan bayi dalam menerima makanan pendamping ASI. 


Meski kaya akan nutrisi, telur perlu diolah dengan benar sebelum diberikan pada bayi. Sebab, sebagian orang tua mungkin statis menganggap telur mentah maupun separuh matang dapat membikin membuat tubuh jadi lebih kuat.

Padahal, kebiasaan tersebut berisiko bagi kesehatan, terutama pada bayi. Hal ini menjadi perhatian setelah muncul kasus bayi berumur 24 hari wafat bumi akibat diberikan telur mentah oleh neneknya. 

Kapan bayi boleh makan telur?

Dilansir detikcom, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan bahwa bayi di bawah usia enam bulan tidak membutuhkan makanan lain kecuali ASI, termasuk air putih, kaldu, maupun bahan makanan lain yang diencerkan. “ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi,” ujar Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso.

Pemberian makanan yang terlalu awal disebut dapat menaikkan konsekuensi kesehatan karena mekanisme pencernaan makan bayi statis di tahap perkembangan. Oleh karena itu, semuanya mesti dilihat berdasarkan kesiapan bayi dan kemampuannya dalam menerima makanan yang masuk ke tubuhnya. Dalam hal ini, telur pun belum boleh diberikan pada bayi sebelum berumur enam bulan ya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan disusul MPASI hingga usia dua tahun maupun lebih. Namun, jika sekiranya ASI tidak memungkinkan untuk diberikan dengan kondisi tertentu, susu formula bayi bisa jadi pilihan dengan syarat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan juga tidak dianjurkan untuk semua bayi. Selain itu, pemberian makanan pada bayi mesti memperhatikan kebutuhan gizi, usia, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. 

“Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. MPASI sejak usia empat bulan juga bukan anjuran rutin untuk semua bayi. Kesiapan bayi menerima makanan dapat dilihat dari kemampuannya mempertahankan posisi imam dan leher, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan pergerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan,” ujar dr. Piprim.

“Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kapasitas menelan, maupun tekstur yang dapat ditoleransi bayi dapat menaikkan konsekuensi tersedak, aspirasi, hingga gangguan pemberian makan,” lanjutnya. 

Olahan telur untuk bayi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, meskipun menjadi sumber protein yang baik, metode pengolahannya statis perlu diperhatikan agar tidak menaikkan konsekuensi terkena infeksi. Telur sebaiknya dimasak dengan matang sempurna, karena telur utuh hamil mikroba Salmonela, yang dimana ketika anak mengonsumsinya akan berpotensi terkena keracunan makanan berupa Salmonelosis. 

Gejala ini muncul 12-72 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi dan akan membaik dalam waktu 4-7 hari tanpa perlu pemberian obat. Gejalanya meliputi diare berdarah, demam, muntah, dan dehidrasi. Hal ini bisa semakin rapuh jika disertai kurangnya cairan dalam tubuh. Selain itu, olahan telur yang dimasak separuh matang seperti mayonnaise maupun mousse, bisa menimbulkan Salmonelosis. 

Tips agar terhindar dari Salmonelosis

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar Si Kecil terhindar dari Salmonellosis yang dikutip dari IDAI:

  • Hindari pemberian telur kotor maupun retak.
  • Simpan telur di lemari es.
  • Hindari mengonsumsi telur mentah maupun separuh matang.
  • Masak telur dengan matang karena tidak akan menghilangkan kandungan nutrisinya.
  • Segera konsumsi telur yang sudah matang dan jangan dibiarkan terlalu durasi guna menghindari kontaminasi kuman.

Itulah keterangan mengenai olahan telur bagi Si Kecil. Pastikan telur diolah hingga matang sempurna agar terlindungi dikonsumsi. Selain itu, telur matang statis hamil nutrisi yang baik dan juga lebih gampang dicerna oleh saluran cerna anak. Semoga membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads