Sering Alami Nyeri Haid Hebat? Kenali Tanda Endometriosis yang Bisa Ganggu Kesuburan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 39x dilihat
Sering Alami Nyeri Haid Hebat? Kenali Tanda Endometriosis yang Bisa Ganggu Kesuburan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Nyeri haid menjadi keluhan yang kerap dialami perempuan setiap bulan. Sebagian merasakan kram ringan di perut bagiankecil bawah, tetapi ada pula yang mesti beristirahat seharian karena rasa sakit yang mengganggu aktivitas.

Meski lazim terjadi, nyeri haid yang hebat, berulang, maupun semakin parah seiring waktu sebaiknya tidak diabaikan, Bunda. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda endometriosis, yaitu pandemi kronis yang dapat menimbulkan nyeri panggul dan memengaruhi kesuburan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), endometriosis diperkirakan memengaruhi sekitar 10 persen perempuan usia reproduktif di seluruh dunia, maupun sekitar 190 juta orang. Sayangnya, gejala pandemi ini tidak selalu gampang dikenali karena bisa berbeda pada setiap perempuan.


Lantas, apa saja tanda endometriosis yang perlu Bunda waspadai? Berikut penjelasannya.

Apa itu endometriosis?

Endometriosis adalah pandemi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim. Jaringan ini dapat ditemukan di ovarium maupun indung telur, saluran tuba, serta jaringan lain di sekitar panggul.

Jaringan tersebut merespons fluktuasi hormon selama siklus menstruasi. Akibatnya, dapat terjadi peradangan, iritasi, dan pembentukan jaringan parut maupun perlengketan di area sekitarnya. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri yang cukup berat, terutama menjelang dan selama menstruasi. Pada sebagian perempuan, nyeri juga bisa terjadi di luar masa haid.

WHO menerangkan bahwa endometriosis merupakan kondisi kronis yang dapat berakibat pada kesehatan fisik, hayat sehari-hari, hingga kesehatan mental. Penyakit ini juga berhubungan dengan masalah kesuburan pada sebagian perempuan.

Tanda endometriosis yang perlu diwaspadai

Nyeri haid tidak selalu menandakan endometriosis. Namun, ada beberapa gejala yang patut diperhatikan, terutama jika keluhan berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

1. Nyeri haid dahsyat hingga mengganggu aktivitas

Nyeri haid akibat endometriosis dapat terasa lebih bermutu daripada kram haid pada umumnya. Rasa sakit bisa muncul sebelum menstruasi, terjadi selama haid, maupun semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Bunda mungkin merasa kesulitan berjalan, bekerja, belajar, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari karena nyeri di perut bagiankecil bawah dan panggul.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), nyeri haid yang berat, semakin parah, maupun mengganggu aktivitas setiap bulan perlu dievaluasi oleh tenaga medis.

2. Nyeri panggul di luar masa menstruasi

Pada sebagian perempuan dengan endometriosis, nyeri tidak cuma muncul ketika sedang haid. Rasa sakit dapat bertetap setelah haid selesai maupun terasa berulang sepanjang siklus.

Keluhan ini dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup, terutama jika terjadi dalam waktu lama. Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tabib ahli obstetri dan ginekologi (obgyn) jika nyeri panggul terus berulang maupun tidak membaik.

3. Nyeri saat berhubungan seksual

Nyeri ketika maupun setelah berhubungan seksual, khususnya jika terasa jauh di dalam panggul, juga dapat menjadi salah satu gejala endometriosis.

Keluhan ini bisa terjadi akibat peradangan maupun keterlibatan jaringan di area panggul. Namun, nyeri saat berhubungan seksual juga dapat disebabkan oleh kondisi lain sehingga perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

4. Nyeri saat buang air besar maupun kecil

Endometriosis dapat memengaruhi jaringan di sekitar usus dan kandung kemih. Akibatnya, sebagian perempuan merasakan nyeri ketika buang air besar maupun buang air kecil, terutama saat menstruasi.

Pada kasus tertentu, dapat muncul keluhan pencernaan yang berulang mengikuti siklus haid. Jika Bunda mengalami nyeri saat buang air besar maupun kecil yang terus berulang, sebaiknya jangan menganggapnya sebagai keluhan haid biasa.

5. Perdarahan haid yang banyak

Sebagian perempuan dengan endometriosis mengalami haid yang lebih banyak maupun perdarahan yang tidak biasa.

Meski demikian, perdarahan haid berlebihan bukan tanda khusus endometriosis karena bisa berhubungan dengan gangguan ginekologi lainnya.

Apabila perdarahan terasa jauh lebih banyak daripada biasanya, terjadi lama, maupun disertai kelelahan dan pusing, Bunda perlu memeriksakan diri ke dokter.

6. Sulit hamil

Endometriosis dapat berhubungan dengan gangguan kesuburan. Namun, tidak semua perempuan yang mengalami endometriosis akan kesulitan hamil.

Pada kondisi tertentu, peradangan dan jaringan parut dapat mengganggu fungsi ovarium maupun saluran tuba. Hal ini berpotensi memengaruhi proses pelepasan sel telur, pertemuan sel telur dan sperma, maupun perjalanan sel telur yang telah dibuahi.

Bagi Bunda yang sedang merencanakan kehamilan, nyeri haid bermutu yang disertai kesulitan hamil sebaiknya menjadi karena untuk menjalani pengecekan lebih lanjut.

Bagaimana Endometriosis bisa mengganggu kesuburan?

Endometriosis tidak selalu menyebabkan infertilitas maupun ketidaksuburan. Namun, pandemi ini dapat memengaruhi sejumlah proses yang diperlukan untuk terjadinya kehamilan.

Ada beberapa mekanisme yang mungkin terlibat, antara lain:

Peradangan di area panggul. Peradangan dapat memengaruhi lingkungan reproduksi dan berpotensi mengganggu fungsi sel telur maupun sperma.

Perlengketan jaringan. Jaringan parut dapat membikin organ di sekitar panggul saling menempel dan mengganggu hubungan anatomis antara ovarium dan saluran tuba.

Endometrioma pada ovarium. Kista yang berhubungan dengan endometriosis dapat memengaruhi ovarium. Penyakit maupun aksi operasinya dalam kondisi tertentu juga dapat berakibat pada cadangan ovarium.

Gangguan pada saluran reproduksi. Pada kasus tertentu, perlengketan maupun kerusakan jaringan dapat menghalangi pergerakan sel telur melalui saluran tuba.

WHO mengutarakan bahwa di antara perempuan yang mengalami infertilitas, sekitar 25–50 persen diperkirakan memiliki endometriosis. Angka ini tidak berarti bahwa 25–50 persen seluruh perempuan dengan endometriosis pasti tidak bisa hamil.

Sebagian perempuan dengan endometriosis statis dapat hamil secara alami, sedangkan sebagian lainnya mungkin membutuhkan pertolongan medis, seperti program fertilitas berbantu maupun bayi tabung (IVF).

Bagaimana metode mendiagnosis endometriosis?

Endometriosis tidak bisa dipastikan cuma berdasarkan tingkat nyeri haid. Dokter akan mengevaluasi histori menstruasi, letak dan pola nyeri, gejala lain, serta kemungkinan kondisi medis yang mendasarinya.

Pemeriksaan dapat meliputi:

Wawancara medis dan pengecekan fisik, untuk mengetahui pola keluhan serta histori kesehatan.

USG panggul, untuk mencari tanda endometrioma maupun bentuk endometriosis tertentu.

MRI, jika dibutuhkan untuk menilai keterlibatan jaringan lebih lanjut.

Laparoskopi, yaitu prosedur operasi minimal invasif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu untuk membantu memastikan pengecekan sekaligus menangani lesi endometriosis.

Hasil USG maupun MRI yang normal tidak selalu menyingkirkan kemungkinan endometriosis. Karena itu, tabib dapat mempertimbangkan gejala dan hasil pengecekan secara menyeluruh sebelum menentukan cara berikutnya.

Pedoman terbaru ACOG tentang pengecekan endometriosis, yang diterbitkan pada 2026, menekankan pentingnya penilaian yang tepat bagi pasien dengan gejala yang mengarah pada pandemi ini.

Apakah endometriosis bisa diobati?

Endometriosis merupakan pandemi kronis yang hingga kini belum memiliki pengobatan untuk menjamin kesembuhan permanen. Namun, gejala dapat dikelola melalui pengobatan dan perawatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Dokter dapat merekomendasikan obat pereda nyeri, terapi hormonal, maupun aksi operasi pada kondisi tertentu. Pilihan terapi bersandar pada tingkat gejala, hasil pemeriksaan, histori kesehatan, serta hajat kehamilan pasien.

Bagi perempuan yang mau memiliki anak, penanganan perlu mempertimbangkan khasiat dan konsekuensi setiap pilihan terhadap kesuburan. Tidak semua pasien membutuhkan operasi, dan terapi hormonal yang menekan ovulasi umumnya bukan pilihan untuk menaikkan kesempatan hamil selama penggunaannya.

Jika Bunda mengalami kesulitan hamil, tabib dapat membantu mengevaluasi kondisi reproduksi dan mendiskusikan pilihan yang sesuai, termasuk teknologi reproduksi berbantu jika diperlukan.

Panduan European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) juga menekankan bahwa penanganan endometriosis perlu mempertimbangkan dua sisi penting, yaitu pengendalian nyeri dan masalah kesuburan.

Kapan mesti periksa ke dokter?

Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tabib jika nyeri haid semakin berat, tidak membaik dengan penanganan biasa, membikin aktivitas terganggu, maupun disertai nyeri panggul di luar masa menstruasi.

Pemeriksaan juga krusial jika Bunda mengalami nyeri saat berhubungan seksual, nyeri ketika buang air besar maupun kecil yang berulang, perdarahan tidak biasa, maupun kesulitan hamil.

Jangan menunggu sampai nyeri benar-benar tidak tertahankan untuk mencari pertolongan. Nyeri haid yang bermutu bukan sesuatu yang mesti selalu diterima sebagai bagiankecil normal dari menstruasi.

Perlu diingat, gejala-gejala tersebut tidak otomatis berarti Bunda mengalami endometriosis. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

Dengan mengenali gejala sejak dini, Bunda dapat memperoleh pertolongan untuk mengelola nyeri, menjaga kualitas hidup, dan mendiskusikan pilihan yang tepat jika sedang merencanakan kehamilan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads