Keren! Siswa-Siswa SD Islam Al Azhar 8 Kembangan Luncurkan Buku Antologi Cerpen dan Komik

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 77x dilihat
Keren! Siswa-Siswa SD Islam Al Azhar 8 Kembangan Luncurkan Buku Antologi Cerpen dan Komik

Bagikan Postingan

Bulan Oktober merupakan bulan peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus Bulan Bahasa dan Sastra. Pada momen ini, SD Islam Al Azhar 8 Kembangan menghadirkan serangkaian aktivitas untuk menumbuhkan minat para murid terhadap literasi, sekaligus peluncuran buku yang ditulis oleh para murid sekolah ini.

Diselenggarakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, rangkaian Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa diawali dengan upacara peringatan Sumpah Pemuda. Dilanjutkan dengan peluncuran buku hasil karya murid SD Al Azhar 8 Kembangan. Selain itu, ada pula sesi workshop pembekalan penulisan buku. Kegiatan ini merupakan kesempatan yang diberikan sekolah kepada para murid agar mereka mengenal tentang penulisan buku.

"Hari ini kita ada dua aktivitas yaitu peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa dan Sastra. Tadi pagi kita awali dengan upacara peringatan Sumpah Pemuda. Kemudian dilanjutkan dengan launching buku yang semua penulisnya itu berasal dari anak-anak SD Islam Al Azhar 8 Kembangan," ucap Enden Daenuri, M. Pd. selaku Kepala SD Islam Al Azhar 8 Kembangan kepada Kincai Media.


Peluncuran 3 buku karya murid SD Al Azhar 8 Kembangan

Pada peringatan Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa dan Sastra tahun 2026 ini, ada tiga buku karya murid SD Islam Al Azhar 8 Kembangan yang diterbitkan. Dua buku antologi cerpen berjudul Jejak Imajinasi dan Cerita Kecil Mimpi Besar, serta satu komik berjudul Robot AI Pertamaku.

Komik Robot AI Pertamaku yang diterbitkan Mizan menghadirkan lima kisah bernuansa fantasi, teknologi, dan persahabatan. Terdapat ilustrasi komik yang mendukung pemahaman alur cerita.

Penerbitan Komik Robot AI Pertamaku merupakan bentuk kerja sama sekolah dengan Penerbit Mizan, melalui imbang Kecil Kecil Punya Karya (KKPK). Kecil Kecil Punya Karya telah durasi dikenal sebagai media literasi yang rutin meluncurkan novel, kumpulan cerpen, dan komik yang ditulis anak-anak.

Sementara itu, antologi cerpen Cerita Kecil Mimpi Besar yang diterbitkan Exupery Project menyajikan kumpulan kisah tentang cita-cita, perjuangan, prestasi, dan pengalaman. Sementara Jejak Imajinasi penerbit Yayasan Nurummubin bercerita tentang imajinasi, mimpi, dan petualangan.

Ketiga buku yang diluncurkan ini bisa dibaca oleh para siswa. Bagi murid yang mau membeli, pihak sekolah juga akan memfasilitasi. Selain itu, salah satu bukunya tersedia di toko buku, sehingga bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas.

Sebagai bentuk kelanjutan, sekolah berencana untuk mengeksplorasi potensi murid dalam berkarya. Tidak cuma terbendung pada karya fiksi, tetapi juga karya nonfiksi.

“Kami memang statis mengarahkan anak-anak untuk menulis karya fiksi yang pas dengan usia SD. Selain karya fiksi, mungkin selanjutnya anak-anak bisa menulis karya sastra seperti kumpulan puisi maupun pantun,” tutur Enden.

SD AL azhar 8 KembanganSD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim Kincai Media

Proses seleksi penerbitan antologi cerpen dan komik

Di balik peluncuran tiga buku oleh para siswa, ada proses seleksi penerbitan yang cukup panjang, Bunda. Prosesnya dimulai dari pelatihan menulis, kemudian anak-anak membikin karya mereka sendiri. 

Untuk buku yang diterbitkan sendiri oleh sekolah, seleksi dilakukan oleh tim dari sekolah. Setelah itu, karya yang terpilih diterbitkan lewat penerbit yang menjadi mitra kerja sama sekolah. Untuk buku yang bekerja sama dengan Mizan, hasil artikel anak-anak diseleksi oleh tim Mizan.

Sebelum penulisan cerpen dilakukan oleh siswa, para pendidik terlebih dahulu memberikan pembekalan. Pembekalan dimulai pada Agustus 2026 melalui pengenalan penulisan cerpen oleh pendidik bahasa Indonesia.

Pertama, murid dikenalkan pengertian cerpen beserta unsur-unsurnya, kemudian mempelajari materi dan contoh cerpen. Guru kemudian menerangkan tokoh, alur, dan akhir cerita. 

“Jadi pendidik mesti mengenalkan nih, cerpen itu ada unsurnya apa aja sih? Kamu bisa membikin jadi antagonis, menjadi protagonis, imajinasinya dia keluarkan, dan yang krusial ada perselisihan di situ, karena jika enggak ada perselisihan itu nantinya enggak seru," jelas Abdul Aziz, M.Pd., selaku Guru Pendidikan Agama Islam.

Dari tahap ini terjaring sekitar 42 murid berbakat. Memasuki bulan September, mereka mulai menyusun ide dan menulis cerpen dengan bimbingan intensif pendidik Bahasa Indonesia selama satu bulan.

Sekolah juga bekerja sama dengan dua penerbit untuk keperluan layout dan rancangan sampul. Kerja sama juga dilakukan dengan percetakan.

SD AL azhar 8 KembanganSD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim Kincai Media

Selain pembekalan menulis yang dilakukan oleh para guru, sekolah juga mengadakan workshop kepenulisan bekerja sama dengan Mizan. Kegiatan workshop ini dihadiri 50 peserta yang terdiri atas perwakilan kelas 3 hingga kelas 6, serta 40 penulis yang sebelumnya terpilih seleksi untuk menerbitkan buku.

“Nah, ada 50 murid yang menjadi garda terdepan dalam penulisan antologi selanjutnya, maupun mereka akan menjadi penulis-penulis selanjutnya. Ini kerja sama yang lumayan simbiosis mutualisme dengan Mizan. Diharapkan tidak cuma berakhir pada saat workshop, tapi mereka anak-anak yang setelah workshop ini mendapatkan insight baru dari penerbit Mizan yang sudah populer dan bisa menerbitkan sebuah buku. Harapannya tidak antologi lagi, tapi memang sudah buku cerita,” kata Aziz.

Selama workshop dari Mizan berlangsung, seluruh peserta diberi materi perkenalan tentang unsur-unsur cerita. Sebagai bentuk implementasi materi, murid diberikan selembar kertas untuk praktek secara langsung. Mereka diajak menentukan topik, menentukan figur cerita, membikin premis, dan menyusun judul.

Setelah praktek selesai, beberapa perwakilan murid tampil di depan aula untuk mempresentasikan hasil tulisan. Pada momen yang sama, mereka juga menyampaikan kesan selama aktivitas workshop berlangsung.

SD AL azhar 8 KembanganSD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim Kincai Media

Tantangan penggunaan AI dalam pembuatan karya

Hal yang paling utama dari penulisan cerpen adalah orisinalitas ide dari para siswa. Di tengah maraknya penggunaan AI, para pendidik SD Al Azhar ini memiliki siasat untuk mencegah penggunaan kecerdasan buatan dalam artikel anak-anak. 

Untuk mencegah penggunaan AI dan menjaga keaslian karya, murid diminta menulis secara manual dengan kertas dan pena.

"Nah, untuk menyiasati itu, agar karya ini statis original, salah satu yang kita upayakan adalah mereka menulis manual maupun menulis menggunakan kertas dan penanya,” kata Aziz.

Tulisan itu kemudian disortir oleh para pendidik dan ditandatangani. Karena sekitar 40 murid menyetor naskah berbentuk kertas, menyalin semuanya akan memakan waktu lama. Maka setelah ditandatangani, para murid mengetik ulang karya mereka di Microsoft Word agar menjadi file. 

File itu kemudian dikirim ke para pendidik lewat tautan Google Drive. Sehingga, pendidik bisa memetakan karya berdasarkan kelas dan isi ceritanya.

Melalui aktivitas ini, Aziz mengharapkan murid dapat mulai mengurangi penggunaan gawai dan membiasakan diri membaca buku. 

 "Dan ketika kita mulai membaca buku, literasi kita bertambah dan kosakata kita juga bertambah, sehingga tidak cuma pandai dalam bumi berselancar di bumi maya, tetapi mereka bisa balik kepada fitrahnya yaitu membaca dan mengekspresikannya dalam sebuah bentuk tulisan.”

Kegiatan pembekalan dan penerbitan buku ini mendapat sambutan baik dari orang tua murid. Adanya aktivitas ini dapat menjadi sarana untuk mengembangkan ide murid hingga nantinya terbit dalam bentuk buku.

“Terima kasih yang sangat besar kepada pihak sekolah karena telah menyediakan wadah bagi murid melatih mengembangkan ide, menyusun alur cerita, membangun karakter, memperkaya kosakata, dan menyampaikan pesan moral. Menerbitkan hasil karya mereka menjadi buku dalam bentuk jasmani adalah sebuah apresiasi besar bagi proses berkarya mereka, dan menjadi dokumentasi perjalanan daya cipta siswa,” tutur Bunda Anin salah satu orang tua murid.

Sebagai penutup, Enden menyampaikan bahwa sekolah mengharapkan anak-anak memiliki kompetensi yang sesuai dengan usia perkembangannya. Ia mau menanamkan alas bahwa menulis dan menuangkan ide itu penting, karena ide yang dituliskan lebih abadi dan bisa dikenal lebih banyak orang.

"Kami mau membangun satu paradigma kepada anak-anak bahwa ide yang dituliskan, pikiran yang dituliskan itu dapat diwariskan dan itu abadi selama buku itu ada dan dibaca, punya kisah,” tuturnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads