JAKARTA— Mengetahui kunci-kunci kebaikan merupakan bagiankecil dari ilmu yang sangat krusial dan bukan sekadar ilmu tambahan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحًا لِلْخَيْرِ مَغَالِيقًا لِلشَّرِّ، وَمِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحًا لِلشَّرِّ مَغَالِيقًا لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مِفْتَاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ مِفْتَاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan epilog pintu keburukan. Sebaliknya, ada pula orang-orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan epilog pintu kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan melalui kedua tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu keburukan melalui kedua tangannya.” (HR Ibnu Abi Ashim dari Anas RA dengan sanad hasan).
Dalam histori lainnya, Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَزَائِنَ مِنَ الْخَيْرِ مَفَاتِيحُهَا الرِّجَالُ...
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala memiliki perbendaharaan kebaikan yang kunci-kuncinya eksis di tangan manusia....” (HR Ibnu Abi Ashim dari Sahl bin Sa'ad RA dengan sanad hasan li ghairihi).
Ibnu Qayyim dalam Hadi al-Irwah Ila Bilad al-Afrah, menerangkan Allah SWT telah menjadikan setiap tujuan memiliki kunci untuk membukanya. Dia menjadikan bersuci sebagai kunci shalat, ihram sebagai kunci haji, kejujuran sebagai kunci kebajikan, tauhid sebagai kunci surga, pertanyaan yang baik sebagai kunci ilmu, kesabaran sebagai kunci kemenangan dan keberhasilan.
Sementara itu, syukur sebagai kunci bertambahnya nikmat, cinta sebagai kunci kewalian, takwa sebagai kunci keberuntungan, doa sebagai kunci terkabulnya permohonan, zuhud terhadap bumi sebagai kunci tumbuhnya keinginan terhadap akhirat, serta perenungan terhadap segala hal yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya untuk direnungkan sebagai kunci keimanan.
Allah juga menjadikan tadabur Alquran, merendahkan diri dan memohon kepada-Nya pada waktu sahur, serta meninggalkan dosa sebagai kunci hidupnya hati. Berusaha disertai istigfar dan takwa menjadi kunci rezeki. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi kunci kemuliaan, sedangkan pendeknya imajinasi menjadi kunci mempersiapkan diri menghadapi hayat akhirat.
Ibnu Qayyim menegaskan ini merupakan bahasan yang sangat luas dan termasuk salah satu cabang ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan.
Tidak ada yang diberi taufik untuk mengetahui dan memperhatikannya kecuali orang yang memiliki keberuntungan dan taufik yang besar. Sebab, Allah SWT telah menjadikan setiap kebaikan dan keburukan memiliki kunci dan pintu untuk memasukinya.
Menurut dia, sebagaimana Allah menjadikan khamar sebagai kunci segala perbuatan dosa, harta sebagai kunci perzinaan, membebaskan pandangan mata tanpa kendali sebagai kunci munculnya keinginan dan kecintaan yang berlebihan, kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, ketidakjujuran sebagai kunci kemunafikan, serta sifat kikir dan serakah sebagai kunci kebakhilan. “Demikian pula, beralih dari doktrin yang dibawa Rasulullah SAW menjadi kunci segala bidah dan kesesatan,” tulis dia.