Ketika Ibadah Terasa Hampa

Islami Muslimah oleh Waktu baca 8 menit 147x dilihat
Ketika Ibadah Terasa Hampa

Bagikan Postingan

Salah satu bentuk nikmat Allah Tabaraka wa Ta’ala yang dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya yang percaya adalah kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Kenikmatan berupa rasa manis dan kelapangan yang dirasakan di dalam dada. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an,

‎ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang percaya dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, cuma dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

‎إنَّ في الدنيا جنةً من لم يدخلها، لم يدخل جنَّة الآخرة

“Sesungguhnya di bumi terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, tidak akan memasuki surga di akhirat.” (al-Wabil as-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, hal. 69)

Yang dimaksud surga bumi adalah ketika hati merasakan lezatnya beribadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Renungkanlah: Sudahkah amalan menjadi penyejuk bagi hati?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berfirman kepada sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhu,

يا بلالُ أقمِ الصلاةَ، أرِحْنا بها

 “Wahai Bilal, tegakkanlah salat, sejukkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud no. 4985)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‎وجُعِلَت قُرَّةُ عَيني في الصَّلاةِ

“Dan dijadikanlah salat sebagai penyejuk mataku.” (HR. An-Nasa’i no. 3939)

Tanyakan pada diri: Masihkah amalan menjadi oasis bagi jiwa, yang menghidupkan dan menenangkan di tengah gersangnya kehidupan. Ataukah, ia cuma menjadi rutinitas kosong yang sekadar menggugurkan tanggung jawab tanpa rasa?

Lihatlah sepertiapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikmati ibadahnya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan salat, beliau berdiri hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Lalu, ‘Aisyah bertanya, “Mengapa engkau berbuat semua ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pemaafan bagimu atas dosa-dosamu yang telah kemudian dan yang akan datang?” Lalu, beliau menjawab,

أَفَلاَ أَكُونَ عَبدًا شَكُورًا

“Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur.” (HR. Bukhari no. 4836 dan Muslim no. 2819)

Demikian pula keadaan para salaf as-shalih. Mereka merasakan kelezatan dalam beribadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Sebagian menikmati kelezatan dalam salat, sebagian lain larut dalam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagian lagi merasakan manisnya menuntut ilmu, dan ada pula yang antusias dalam berpuasa, bersedekah, maupun berjihad.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

‎إذا لم تجد للعمل حلاوة في قلبك وانشراحا، فاتهمه، فإن الرب تعالى شكور

“Jika engkau tidak mendapati kelezatan dan kelapangan di hatimu saat beramal, maka salahkanlah dirimu, karena sesungguhnya Rabb Ta’ala itu Maha Mensyukuri.” (Madarij as-Salikin, 2: 68)

Pastikan dua rukun ini terpenuhi!

Ketika amalan terasa hampa, periksalah dua hal ini: Apakah telah ikhlas karena Allah? Dan apakah telah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Hal ini karena keduanya merupakan rukun diterimanya amal. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebaikan yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

 Ibnu Katsir rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وهو ما كان موافقًا لشرعِ اللهِ ﴿وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ وهو الذي يُراد به وجه الله وحده لا شريك له، وهذان ركنا العمل المتقبل. لابد أن يكون خالصاً لله، صواباً على شريعة رسول الله صلى الله عليه وسلم

“(Maka hendaklah ia mengerjakan kebaikan yang saleh), (maksud) kebaikan saleh itu adalah apa yang sesuai dengan hukum Allah (yaitu, tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ed.). (Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya) dan apa yang mengharap wajah Allah semata tanpa sekutu apapun. Kedua hal ini adalah dua rukun kebaikan amalan yang diterima. Harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan hukum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 5: 205)

Allah Ta’ala juga berfirman,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara Anda yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

 Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata berhubungan dengan ayat di atas,

‎أخلصه وأصوبه

“Yang paling ikhlas dan paling benar.”

Lalu dikatakan kepada beliau,

‎يا أبا علي ما أخلصه وأصوبه؟

“Wahai Abu ‘Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?”

Beliau menjawab,

‎إذا كان العمل خالصًا ولم يكن صوابًا لم يقبل، وإذا كان صوابًا ولم يكن خالصًا لم يقبل، حتى يكون خالصًا صوابًا، والخالص أن يكون لله، والصواب أن يكون على السُّنَّة

“Apabila suatu kebaikan telah ikhlas tapi belum benar, maka tidak akan diterima; dan jika suatu kebaikan telah benar tapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima, sampai kebaikan tersebut dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Amalan yang ikhlas adalah kebaikan yang ditujukan kepada Allah dan amalan yang benar adalah yang eksis di atas sunah.” (Majmu’ al-Fatawa, 10: 172-174)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

:‎وَلِلْعِبَادَةِ شَرْطَانِ

‎أَحَدُهُمَا: الْإِخْلَاصُ للهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَلَّا يُرِيدَ بِهَا سِوَى وَجْهِ اللهِ وَالْوُصُولِ إِلَى دَارِ كَرَامَتِهِ، وَهَذَا مِنْ تَحْقِيقِ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

‎الثَّانِي: الْمُتَابَعَةُ لِرَسُولِ اللهِ ﷺ بِأَلَّا يَتَعَبَّدَ للهِ تَعَالَى بِغَيْرِ مَا شَرَعَهُ، وَهَذَا مِنْ تَحْقِيقِ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Ibadah memiliki dua syarat: Pertama, ikhlas untuk Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu dengan tidak menginginkan dengan amalan tersebut kecuali Wajah Allah dan untuk sampai ke Darul Karamah (surga-Nya). Ini merupakan realisasi dari syahadat (persaksian) bahwa tidak ada tuhan yang berkuasa untuk disembah dengan benar kecuali Allah. Kedua, mengikuti instruksi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu agar tidak beribadah kepada Allah Ta’ala dengan kecuali apa yang Nabi syariatkan. Ini merupakan realisasi dari syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (Syarah Taqrib at-Tadmuriyyah, hal. 526)

Ketauhilah bahwa Allah adalah Asy–Syakur (Maha Mensyukuri), Dia tidak akan menyia-nyiakan kebaikan amalan hamba-Nya. Salah satu tanda diterimanya amalan adalah ketenangan yang dirasakan di dalam hati serta ketentraman pada jiwa. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan saleh, baik lelaki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya hayat yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat di atas,

‎هذا وعد من الله تعالى لمن عمل صالحا – وهو العمل التابع لكتاب الله تعالى وسنة نبيه, من ذكر أو أنثى من بني آدم، وقلبه مؤمن بالله ورسوله, وأن هذا العمل المأمور به مشروع من عند الله – بأن يحييه الله حياة طيبة في الدنيا وأن يجزيه بأحسن ما عمله في الدار الآخرة

“Inilah ikrar dari Allah bagi orang yang beramal saleh, yaitu kebaikan yang mengikuti al-Qur’an dan sunah Nabi-Nya, dari kalangan lelaki dan perempuan dari anak keturunan Nabi Adam, yang hatinya percaya kepada Allah dan utusan-Nya. Dan bahwa kebaikan yang diperintahkan tersebut disyariatkan oleh Allah agar Allah memberikannya hayat yang baik di bumi dan agar Allah memberikan balasan terbaik kepadanya di akhirat kelak.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 4: 601)

Adh-Dhahhak rahimahullah berkata tentang ayat di atas,

هي العمل بالطاعة ولانشراح به  

“Kehidupan yang baik adalah beramal dengan kepatuhan dan merasa lapang dengannya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 4: 601)

Sehingga patut diwaspadai, jika setelah beramal batin malah merasa hampa, mungkin hal itu merupakan gejala bahwa kebaikan tersebut tidaklah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kiat meraih manisnya iman

Kenikmatan dalam beribadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala, juga rasa manisnya kepercayaan secara umum, dapat diraih dengan beberapa kiat, di antaranya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎ثلاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وجَدَ حلاوَةَ الإيمانِ: أنْ يكونَ اللهُ ورسولُهُ أحبَّ إليه مِمَّا سِواهُما، وأنْ يُحِبَّ المرْءَ لا يُحبُّهُ إلَّا للهِ، وأنْ يَكْرَهَ أنْ يَعودَ في الكُفرِ بعدَ إذْ أنقذَهُ اللهُ مِنْهُ؛ كَما يَكرَهُ أنْ يُلْقى في النارِ

“Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, agar Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibandingkan kecuali keduanya. Kedua, agar ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintai seseorang tersebut kecuali karena Allah. Ketiga, agar ia membenci balik kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dirinya dari kekufuran tersebut sebagaimana ia membenci untuk dicelupkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16)

Pepatah mengatakan: tak kenal, maka tak sayang; tak tahu, maka tak cinta. Demikianlah, rasa cinta lahir dari pengenalan. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak akan tumbuh tanpa ilmu yang menyiraminya. Oleh karena itu, menuntut ilmu merupakan tanggung jawab bagi setiap muslim.

Bertobat dan menjauhi maksiat

Sebagaimana disebutkan di dalam hadis,

‎ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Dan ia membenci balik kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dirinya dari kekufuran tersebut sebagaimana ia membenci untuk dicelupkan kedalam api neraka.” (HR. Bukhari no. 16)

Hati yang bergelimang dosa dan maksiat tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah. Karena dosa ibarat karat yang mengotori dan mengunci hati. Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

 Maka, sucikanlah hati tersebut dengan bertobat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Berdoa

Beribadah dan merasa lapang dengannya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

‎أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Al-Insyirah: 1)

Menyadari bahwa semua ini berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya bagi siapa saja yang menginginkan nikmat ini untuk memperbanyak doa dan munajat kepada-Nya.

Ya Allah, hiasilah hati kami dengan perhiasan kepercayaan dan jadikanlah kami pemberi instruksi kepada orang yang mendapat petunjuk. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk kekasih tercinta, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, famili beliau, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Ibnu Katsir, Isma’il bin ‘Umar. (2011). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [Cet. ke-2]. Riyadh: Dar Taybah li an-Nasyr wa at-Tawzi’.
  • al-’Utsaimin, Muhammad bin Shalih. (1437 H). Syarah Taqrib at-Tadmuriyyah [Cet. 1]. ‘Unaizah: Muassasah Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin al-Khairiyyah.
  • Ibnu Qayim al-Jauziyah, Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr. (1408 H). al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib [Cet. 1]. Kairo: Dar ar-Rayyan li at-Turats.
  • Ibnu Taimiyah, al-Mustadrak ‘ala Majmu’ al-Fatawa, al-Maktabah asy-Syamilah.
  • al-Jizani, Muhammad Husain. Dirasah wa Tahqiq Qaidah al-Ashlu fi al-’Ibadat al-Man’u. al-Maktabah asy-Syamilah.
Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads