Kesibukan Yang Menipu Prioritas: Terjerat Aktivitas, Terlupa Kewajiban

May 31, 2026 11:00 AM - 1 minggu yang lalu 7816

Dalam hidup ini, semua orang pasti mempunyai kesibukan. Namun, tidak semua kesibukan itu berbobot di sisi Allah Ta’ala. Seorang muslim mempunyai karakter unik yang membedakannya. Ia tidak hanya sibuk, tetapi sibuk dengan arah, sibuk dengan panduan, serta sibuk dengan sesuatu yang berbobot untuk akhiratnya. Ia memahami bahwa hidup di bumi bukan sekadar kegiatan tanpa tujuan, tetapi perjalanan yang kudu ditata prioritasnya.

Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ

“Dia-lah yang menciptakan meninggal dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa Allah itu tidak hanya meminta kita untuk beramal dan mencari kesibukan, namun juga beramal dengan ibadah yang terbaik dan kesibukan yang terarah.

Fudhail bin ’Iyadh rahimahullah mengatakan,

أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة

“Ahsanu ’amalan adalah yang paling tulus dan yang paling benar. Suatu ibadah tidak bakal diterima hingga kebaikan itu tulus dan benar. Ikhlas jika kebaikan itu ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan betul jika kebaikan itu sesuai dengan sunah (tuntutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Ma’aalim al-Tanziil, Tafsir al-Baghawi, 8: 176)

Kesibukan seorang muslim kudu senantiasa berpijak pada dua pilar ini: tulus dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Baca juga: Jangan Salah Prioritas dalam Menuntut Ilmu

Menata prioritas dalam kehidupan

Untuk meraih ibadah terbaik, seorang muslim kudu mengetahui apa yang paling Allah Ta’ala prioritaskan. Dalam Islam, susunan prioritas itu sangat jelas, ialah dengan mendahulukan yang wajib sebelum yang sunah, mendahulukan yang utama sebelum yang sekadar baik.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi,

مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Dan hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada ibadah sunah yang bisa menyaingi kemuliaan ibadah wajib. Salat sunah tidak bakal mengalahkan salat wajib, infak sunah tidak mendahului zakat, dan kegiatan kebaikan apa pun tidak boleh membikin kita mengabaikan tanggungjawab utama yang telah Allah Ta’ala tentukan dan perintahkan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah memberikan nasihat berharga,

أن النافلة لا تقدم على الفريضة لأن النافلة انما سميت نافلة لأنها تأتي زائدة على الفريضة. قال بعض الأكابر: من شغله الفرض عن النفل فهو معذور، ومن شغله النفل عن الفرض فهو مغرور

“Sesungguhnya ibadah sunah tidak boleh didahulukan di atas ibadah yang wajib, lantaran ibadah sunah itu posisinya hanyalah tambahan untuk ibadah yang wajib. Sebagian ustadz besar berkata, ‘Barang siapa yang sibuk mengerjakan ibadah yang wajib, lampau tidak sempat mengerjakan ibadah yang sunah, maka dia dimaafkan (dimaklumi). Tapi siapa yang sibuk dengan ibadah yang sunah, lampau melalaikan ibadah yang wajib, maka dia telah tertipu (terperdaya oleh setan)’.” (Fathul Baari, 11: 343)

Betapa banyak orang yang sibuk dalam ibadah sunah, apalagi perkara yang mubah, namun lupa tanggungjawab utamanya, salatnya terabaikan, keluarganya terbengkalai dan kurang diperhatikan, serta amanah yang tidak tertunaikan. Ia tampak sibuk beramal, padahal dia sedang tertipu.

Agar tidak tertipu kesibukan

Kesibukan yang betul adalah kesibukan yang Allah ridai. Ia bukan sekadar padatnya agenda, tetapi benarnya arah. Bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi tepatnya prioritas. Sebab, tidak semua yang tampak produktif itu betul-betul mendekatkan kepada akhirat. Banyak orang yang terlihat sibuk bekerja, sibuk mengejar target, sibuk membangun usaha, namun lupa bahwa kesibukan terbesar adalah mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْ تِ وَالْعَا جِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَا هَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ اْلأَ مَا نِيَّ

“Orang yang pandai adalah orang yang bisa mengendalikan (mengoreksi) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berambisi kosong (berlebihan) kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Seorang muslim yang pandai bakal selalu bertanya pada dirinya:

Apakah kesibukanku hari ini mendekatkan diriku kepada Allah alias justru menjauhkanku dari-Nya?

Apakah yang saya dahulukan adalah yang Allah dahulukan?

Apakah kesibukan ini betul-betul kebutuhan, alias hanya dorongan nafsu dan ambisi yang membungkus diri dengan argumen kebaikan?

Karena sejatinya, setiap kesibukan yang tidak membawa kita mendekat kepada Allah Ta’ala adalah kesibukan yang kosong, melelahkan, dan tak bernilai.

Semoga Allah Ta’ala menata prioritas kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan kesibukan kita sebagai kesibukan yang betul dan berbobot di sisi-Nya. Aamiin.

Baca juga: Pentingnya Memahami Skala Prioritas dalam Beramal

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Kincai Media

Selengkapnya