Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas permulaan dakwah secara sembunyi-sembunyi alias dakwah sirriyyah. Pada tulisan ini, kita bakal memandang sebagian keteguhan para sahabat generasi awal setelah mereka menerima Islam.
Tidak dipungkiri bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq mempunyai andil besar dalam membujuk orang-orang untuk masuk ke dalam kepercayaan Islam di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau aktif mendakwahkan Islam kepada orang-orang yang beliau percayai. Setidaknya ada lima tokoh yang masuk Islam melalui beliau: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-’Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka semua termasuk ke dalam jejeran sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Kita bakal telaah sekilas kisah masuk Islamnya mereka dan para sahabat lainnya.
Keteguhan Utsman bin Affan setelah masuk Islam
Setelah masuk Islam, Utsman mendapatkan pertentangan dari keluarganya sendiri. Saat itu, usianya mendekati tiga puluh tahun. Paman beliau, al-Hakam bin Abil ‘Ash (الحكم بن أبي العاص), mengikat Utsman dengan tali lantaran keislamannya. Al-Hakam juga berkata, “Apakah Anda membenci kepercayaan nenek moyangmu kemudian memilih kepercayaan yang baru muncul?! Demi Allah, saya tidak bakal melepaskanmu hingga Anda meninggalkan kepercayaan yang sedang Anda pegang.”
Namun, Utsman menolak sembari menjawab, “Demi Allah, saya tidak bakal meninggalkannya dan tidak bakal berpisah darinya.” Melihat keteguhan Utsman di atas kebenaran, al-Hakam akhirnya melepaskan dan membiarkannya.
Keteguhan az-Zubair bin al-‘Awwam setelah masuk Islam
Pertentangan juga dialami oleh az-Zubair bin al-’Awwam. Saat dia memeluk Islam, pamannya, Naufal bin Khuwailid (نوفل بن خويلد) pernah mengepulkan asap kepadanya dalam keadaan terikat. Ini dilakukan oleh pamannya dengan tujuan agar dia kembali kepada kepercayaan nenek moyangnya. Akan tetapi, Allah menguatkannya dengan keteguhan sehingga dia tetap di atas kepercayaan Islam. Az-Zubair bin al-’Awwam kala itu adalah seorang pemuda yang belum jauh dari usia balig.
Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘Awwam
Masuk Islamnya Abdurrahman bin ‘Auf
Abdurrahman bin ‘Auf juga masuk Islam melalui rayuan Abu Bakar ash-Shiddiq. Pada masa jahiliah, dia berjulukan ‘Abd ‘Amr (عبد عمرو). Setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ menamainya Abdurrahman. Abdurrahman bin ‘Auf sudah masuk Islam sebelum Rasulullah ﷺ menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam) sebagai pusat dakwah.
Baca juga: Biografi Abdurrahman bin Auf: Sahabat Mulia dan Dermawan
Keteguhan Sa‘ad bin Abi Waqqash di hadapan ibunya
Sa’ad bin Abi Waqqash mendapatkan pertentangan dahsyat dari ibunya saat masuk Islam. Ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan (حمنة بنت أبي سفيان) berbicara setelah mengetahui keislamannya, “Wahai Sa’ad, telah sampai kepadaku bahwa Anda telah keluar dari kepercayaan nenek moyangmu. Demi Allah, saya tidak bakal dinaungi dari panas dan dingin, dan makanan serta minuman haram bagiku, sampai Anda kafir kepada Muhammad.” Ibunya menakut-nakuti Sa’ad dengan tidak tinggal di rumah, tidak makan, dan tidak minum jika Sa’ad tetap di atas kepercayaan Islam. Ibunya melakukan perihal itu selama tiga hari.
Sa’ad pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengadukan perihal ibunya tersebut. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya dalam surah Al-’Ankabut sebagai pengajaran,
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Kami wajibkan kepada manusia agar melakukan baik kepada kedua orang tuanya. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya. Kepada-Kulah tempat kembali kalian, lampau Aku bakal memberitahukan kepada kalian apa yang dulu kalian kerjakan.” (QS. Al-’Ankabut: 8)
Baca juga: Keutamaan-Keutamaan Sa’ad bin Abi Waqash
Masuk Islamnya Thalhah bin ‘Ubaidillah
Thalhah bin ‘Ubaidillah juga masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebelumnya, Thalhah telah mengetahui penyebutan Rasulullah ﷺ dan sifat-sifatnya dari para rahib. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mengajaknya, kemudian dia mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ, serta dia memandang kepercayaan Islam kokoh dan jauh dari cela-cela yang ada pada bangsa Arab, maka Thalhah pun segera masuk Islam.
Baca juga: Awal Kehidupan dan Kisah Thalhah di Perang Uhud
Sa‘id bin Zaid dan ujian dari keluarganya
Sa’id bin Zaid juga termasuk orang yang pertama masuk Islam. Beliau juga masuk Islam sebelum rumah al-Arqam bin Abil Arqam menjadi pusat dakwah. Dalam salah satu riwayat, Sa‘id bin Zaid pernah menceritakan bahwa dirinya berbareng istrinya, Fathimah binti al-Khaththab, pernah diikat oleh Umar bin al-Khaththab sebelum Umar masuk Islam. Peristiwa ini menunjukkan adanya penentangan dari family akibat keislaman mereka.
Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin Zaid
Masuk Islamnya Abdullah bin Mas‘ud
Selain melalui Abu Bakar ash-Shiddiq, ada pula sahabat Nabi yang masuk Islam setelah memandang mukjizat Rasulullah ﷺ. Di antaranya adalah sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia dulu sempat bekerja sebagai penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith (عقبة بن أبي معيط). Di tengah-tengah pekerjaannya, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq melintas melewatinya. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Apakah ada susu?” Maksudnya apakah ada kambing gembalaan Ibnu Mas’ud yang mempunyai susu pada ambingnya. Ibnu Mas’ud mengatakan iya, tetapi dia menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ bahwa dirinya hanya diberi amanah sehingga tidak berkuasa memberikan susu kepada orang lain.
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah ada kambing betina yang belum dikawini pejantan?” Ibnu Mas’ud pun membawakan kambing tersebut beserta wadahnya kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap ambingnya dan tiba-tiba air susu keluar dengan melimpah. Rasulullah ﷺ kemudian memerahnya dan meminum susu tersebut. Beliau ﷺ juga memberikan susu tersebut kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berbicara kepada ambing tersebut, “Menyusutlah!” Seketika, ambing itu pun mengkerut kembali seperti semula.
Setelah memandang tanda-tanda yang terang dan mengetahui akhlak-akhlak mulia yang diserukan Islam, dia pun segera meninggalkan penyembahan berhala dan senantiasa berbareng Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Mas’ud sering masuk menemui Rasulullah ﷺ tanpa dihalangi. Ia dikenal dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia melangkah di depan beliau, menutupi beliau ketika beliau mandi, membangunkan beliau ketika tidur, serta memakaikan dan membawakan sandal beliau.
Baca juga: Kisah Pemegang Rahasia Rasulullah, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
Lima sahabat yang masuk Islam bersama-sama
Ada pula para sahabat yang mendatangi Rasulullah ﷺ bersama-sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada lima orang yang bersama-sama mendatangi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Utsman bin Mazh’un, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Salamah, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, dan ‘Ubaidah bin al-Harits (عبيدة بن الحارث). Kemudian Rasulullah ﷺ menawarkan Islam dan menjelaskan syariat-syariatnya kepada mereka. Akhirnya, mereka semua masuk Islam dalam satu waktu. Peristiwa ini juga terjadi sebelum pusat dakwah bertempat di rumah al-Arqam.
Baca juga: Mengambil Pelajaran dari Jihad Abu Ubaidah bin Jarrah
Demikianlah sebagian kisah para sahabat awal yang menerima Islam pada masa dakwah sirriyyah. Sebagian dari mereka masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, sementara sebagian lainnya datang langsung kepada Rasulullah ﷺ setelah memandang tanda-tanda kebenaran. Tidak sedikit dari mereka yang kudu menghadapi penentangan family dan tekanan masyarakat. Namun, Allah meneguhkan mereka di atas Islam.
Semoga kisah mereka menjadi penguat bagi kita untuk tetap teguh di atas kebenaran. Insyaallah, kisah keteguhan para sahabat awal lainnya bakal dilanjutkan pada tulisan berikutnya. Wallahu Ta’ala a’lam.
[Bersambung]
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Kincai Media
Referensi:
Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.
Siyar A’lām an-Nubalā’, karya Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi.
al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah, karya Ibnu Hajar al-’Asqalāni.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·