Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas beberapa kisah keteguhan para sahabat pada awal masa dakwah sirriyyah. Pada bagian kedua ini, kita bakal melanjutkan kisah Abu Dzar al-Ghifari dan Khalid bin Sa’id radhiyallahu ‘anhuma, dua sahabat yang menunjukkan keberanian dan keteguhan setelah menerima Islam. Selain itu, kita juga bakal memandang perkembangan hukum salat serta sikap masyarakat Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ yang mulai tersebar.
Keberanian Abu Dzar menyatakan keislamannya
Abu Dzar al-Ghifari (أبو ذر الغفاري) juga termasuk ke dalam jejeran as-sabiqunal awwalun. Ia berasal dari kalangan Arab badui. Ia juga orang yang fasih berkata Arab dan manis tutur katanya.
Ketika buletin tentang diutusnya Rasulullah ﷺ sampai kepadanya, Abu Dzar mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari info tentang beliau. Ia memintanya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ, kemudian kembali untuk menyampaikan berita kepadanya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Abu Dzar, dia menceritakan apa yang ditemuinya. Saudaranya mengatakan bahwa orang tersebut memerintahkan akhlak-akhlak mulia dan menyampaikan perkataan yang bukan syair.
Mendengar perkataan saudaranya tersebut, Abu Dzar belum puas. Akhirnya, Abu Dzar sendiri yang bakal menelusuri dan mencari Nabi tersebut. Ia menyiapkan bekal untuk pergi ke Makkah. Setelah tiba di Makkah, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan mencari beliau ﷺ. Namun masalahnya, Abu Dzar belum mengenal Rasulullah ﷺ. Ia juga tidak suka menanyakan tentang beliau lantaran mengetahui kebencian Quraisy terhadap siapa pun yang berasosiasi dengan Rasulullah ﷺ.
Malam pun tiba. Ali bin Abi Thalib memandang Abu Dzar. Ia mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun membujuk Abu Dzar ke rumahnya dan menjamunya. Tidak ada seorang pun dari keduanya yang bertanya kepada yang lain tentang apa pun hingga berlalu tiga hari. Setelah berlalu tiga hari, Ali berbicara kepada Abu Dzar, “Tidakkah Anda mau menceritakan kepadaku apa yang membuatmu datang ke sini?”
Abu Dzar menjawab, “Kalau Anda berjanji dan berjanji bakal membimbingku, saya bakal melakukannya.”
Ali pun berjanji, sehingga Abu Dzar pun menceritakan maksud kedatangannya. Setelah mendengar penjelasan Abu Dzar, Ali berkata, “Sesungguhnya itu adalah kebenaran. Beliau adalah Rasulullah.”
Kemudian Ali meminta Abu Dzar untuk mengikutinya besok pagi. Jika Ali memandang sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan Abu Dzar, maka Ali bakal berisyarat berdiri seolah-olah sedang buang air kecil. Jika Ali terus berjalan, maka Abu Dzar diminta untuk terus mengikutinya sampai dia ikut masuk ke tempat di mana Ali masuk.
Abu Dzar pun melakukannya. Ia terus mengikuti Ali sampai Ali masuk menemui Nabi Muhammad ﷺ. Abu Dzar mendengarkan sabda beliau dan langsung masuk Islam di tempat itu. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan Abu Dzar untuk kembali kepada kaumnya dan berceramah kepada mereka sampai datang perintah beliau kepadanya.
Abu Dzar berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya bakal menyatakan keislamanku dengan lantang di tengah-tengah mereka.”
Abu Dzar kemudian keluar dan mendatangi Masjidil Haram, lampau berseru dengan bunyi paling lantang, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Mendengar perkataan Abu Dzar tersebut, orang-orang bangkit dan memukulinya hingga Abu Dzar terjatuh. Al-’Abbas datang, lampau menelungkupkan tubuhnya di atas Abu Dzar untuk melindunginya. Al-’Abbas berkata, “Celakalah kalian! Bukankah kalian tahu bahwa dia berasal dari Ghifar? Dan bahwa jalur perdagangan kalian menuju Syam melewati daerah mereka?” Maka Al-’Abbas menyelamatkan Abu Dzar dari mereka. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Baca juga: Ketabahan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
Keteguhan Khalid bin Sa’id menghadapi ayahnya
Di antara as-sabiqunal awwalun adalah Khalid bin Sa’id bin Al-’Ash bin Umayyah (خالد بن سعيد بن العاص بن أمية). Ayahnya adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati.
Diriwayatkan bahwa Khalid pernah bermimpi dirinya bakal jatuh ke lembah yang dalam. Kemudian Rasulullah ﷺ datang menyelamatkannya dari lembah tersebut. Setelah terbangun dari tidurnya, Khalid mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kepada apa engkau menyeru, wahai Muhammad?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku menyerumu untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; agar engkau meninggalkan penyembahan kepada batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, dan tidak memberi manfaat; agar engkau melakukan baik kepada kedua orang tuamu; agar engkau tidak membunuh anakmu lantaran takut miskin; agar engkau tidak mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi; agar engkau tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan selain dengan argumen yang benar; agar engkau tidak mendekati kekayaan anak yatim selain dengan langkah yang paling baik hingga dia mencapai usia matang; agar engkau menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil; agar engkau bertindak setara dalam ucapanmu, meskipun engkau kudu memberi keputusan terhadap kerabat dekatmu; dan agar engkau memenuhi janji kepada orang yang telah engkau ikat perjanjian dengannya.”
Khalid bin Sa’id pun masuk Islam. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Khalid bin Sa’id telah masuk Islam, ayahnya marah kepadanya dan menyakitinya. Bahkan ayahnya juga menahan makanan darinya. Khalid kemudian meninggalkan rumah ayahnya, mendatangi Rasulullah ﷺ, dan senantiasa berbareng beliau di sekitar Makkah.
Salat dan wudu pada masa dakwah sirriyyah
Selain bertambahnya orang-orang yang masuk Islam, masa dakwah sirriyyah juga menjadi masa awal pembinaan ibadah dan keagamaan kaum muslimin. Salat termasuk ibadah yang telah disyariatkan pada masa dakwah sirriyyah. Akan tetapi, para ustadz berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya di masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Sebagian ustadz beranggapan bahwa pada masa itu, kaum muslimin diwajibkan salat pada pagi hari sebelum mentari terbit dan sore hari sebelum mentari terbenam. Adapun tanggungjawab salat lima waktu dengan tata langkah yang dikenal sekarang baru ditetapkan pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Diriwayatkan pula bahwa Jibril mengajarkan tata langkah wudu kepada Rasulullah ﷺ pada masa awal kenabian.
Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa andaikan waktu salat telah tiba, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pergi ke celah-celah bukit lampau menyembunyikan salat mereka dari kaumnya.
Sikap awal Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ
Meskipun dakwah Rasulullah ﷺ tetap berkarakter rahasia dan perorangan, tampaknya beritanya telah sampai kepada kaum musyrikin Quraisy. Hanya saja, mereka belum terlalu mempedulikannya.
Muhammad al-Ghazali menjelaskan, “Barangkali mereka mengira Muhammad hanyalah salah satu dari orang-orang yang mempunyai kecenderungan beragama, yang berbincang tentang ketuhanan dan hak-hak-Nya, sebagaimana dilakukan oleh Umayyah bin Abi Shalt (أمية بن أبي الصلت), Quss bin Sa’idah (قس بن ساعدة), dan ‘Amr bin Nufail (عمرو بن نفيل). Hanya saja, Quraisy mulai merasa cemas terhadap tersebarnya buletin tentang beliau dan meluasnya pengaruh beliau. Maka mereka pun mulai mengawasi dari waktu ke waktu gimana akhir nasib beliau dan dakwahnya.”
Demikianlah sebagian gambaran dakwah Islam pada masa sirriyyah. Abu Dzar menunjukkan keberanian dalam menyatakan keagamaan di hadapan Quraisy, sedangkan Khalid bin Sa’id memilih mempertahankan Islam meskipun kudu menghadapi penentangan ayahnya. Pada masa yang sama, Rasulullah ﷺ membina kaum muslimin dengan ibadah dan wahyu, sementara kaum Quraisy mulai mengawasi perkembangan dakwah yang semula mereka anggap remeh. Benih-benih keagamaan yang tumbuh secara tersembunyi itu kelak berkembang menjadi kekuatan yang tidak lagi dapat diabaikan. Wallahu a’lam.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Kincai Media
Referensi:
Nūr Al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid Al-Mursalīn, karya Muhammad Al-Khudhari.
Ar-Rahīq Al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān Al-Mubārakfūri.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·