Ketika Rupiah Melemah dan Krisis Ekonomi Melanda

Jun 09, 2026 11:00 AM - 1 bulan yang lalu 59986

Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan dengan beragam kesulitan ekonomi. Nilai rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup terasa semakin berat, sementara penghasilan banyak orang tidak bertambah apalagi ada yang terdampak PHK. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka-angka ekonomi alias laporan pasar keuangan, tetapi betul-betul terasa di meja makan keluarga.

Harga beras naik, minyak goreng belum juga stabil, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari semakin membebani. Sebagian orang mulai cemas, sebagian lainnya marah, dan tidak sedikit yang kehilangan harapan.

Namun sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk memandang setiap peristiwa tidak hanya dengan kacamata ekonomi, tetapi juga dengan kacamata iman. Karena di kembali setiap kesulitan, terdapat hikmah; dan di kembali setiap ujian, terdapat kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika nilai naik, ingatlah siapa pengatur rezeki

Kenaikan nilai bukanlah kejadian baru dalam sejarah umat manusia. Bahkan, perihal serupa pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika nilai peralatan di Madinah melonjak, para sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau menetapkan nilai pasar. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إنَّ اللهَ هو المُسَعِّر القابضُ الباسطُ الرازقُ، وإني لأرجو أن ألقى اللهَ وليس أحدٌ منكم يُطالِبُني بمظلمةٍ في دمٍ ولا مالٍ

“Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan (rezeki), Yang Maha Melapangkan (rezeki), dan Yang Maha Memberi rezeki. Sungguh saya berambisi dapat berjumpa Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku lantaran suatu kezaliman dalam urusan darah (jiwa) maupun harta.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Hadis ini mengajarkan satu pelajaran penting: di kembali seluruh sistem ekonomi, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Bukan berfaedah manusia tidak perlu berupaya memperbaiki keadaan, tetapi hati seorang mukmin tidak boleh berjuntai kepada pasar, kurs mata uang, alias kebijakan ekonomi semata. Hatinya tetap berjuntai kepada Allah Ta’ala, Sang Pemberi Rezeki.

Ujian yang sudah Allah kabarkan

Kesulitan ekonomi bukan tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya. Justru sering kali dia merupakan bagian dari ujian kehidupan yang telah Allah kabarkan jauh sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh bakal Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita ceria kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan “jika” kalian diuji, tetapi “Kami pasti menguji kalian.” Artinya, ujian ekonomi adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah ada alias tidak adanya ujian, tetapi gimana dia menyikapi ujian tersebut.

Jangan sampai krisis ekonomi menjadi krisis iman

Melemahnya rupiah memang dapat mengurangi daya beli. Namun, yang lebih rawan adalah ketika krisis ekonomi berubah menjadi krisis iman. Hal ini lantaran ketika diuji dengan kesulitan hidup, sebagian orang mulai mempertanyakan keadilan Allah. Sebagian lain meninggalkan ibadah lantaran terlalu sibuk mengejar penghasilan tambahan. Ada pula yang menempuh jalan haram demi mempertahankan style hidupnya.

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia bakal memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Ayat ini tidak menjanjikan bahwa hidup orang bertakwa bakal selalu mudah. Namun, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih besar: jalan keluar dan pertolongan-Nya.

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Ar-Razzaaq” dan “Ar-Raaziq”

Sikap seorang Muslim ketika menghadapi kesulitan ekonomi

Mengendalikan pengeluaran

Saat kondisi ekonomi sulit, seorang Muslim kudu lebih bijak dalam mengatur keuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sikap berlebih-lebihan. Banyak kebutuhan yang sebenarnya hanyalah kemauan yang dibungkus sebagai kebutuhan.

Momentum susah seperti ini mengajarkan kita untuk membedakan mana yang betul-betul diperlukan dan mana yang hanya mengikuti pamor alias tren.

Memperkuat tawakal

Nilai tukar mata duit bisa naik dan turun. Pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Namun rezeki yang telah Allah tetapkan tidak bakal pernah tertukar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian bakal diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki.” (HR. Tirmidzi)

Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak berjuntai pada usahanya. Inilah prinsip tawakal.

Bersikap bijak dan proporsional dalam menyikapi keadaan

Dalam menghadapi beragam persoalan ekonomi, seorang Muslim juga dituntut untuk bersikap adil, tenang, dan berbincang berasas ilmu. Tidak setiap peristiwa yang terjadi dapat kita pahami secara menyeluruh. Terlebih persoalan ekonomi makro, nilai tukar mata uang, perdagangan internasional, kebijakan fiskal, maupun dinamika pasar dunia merupakan bagian yang mempunyai pembahasan dan rincian yang sangat luas.

Sebagai penuntut pengetahuan syar’i, khususnya thullab al-hadits, kita perlu menyadari pemisah keahlian dan pengetahuan yang kita miliki. Tidak semua persoalan kudu kita komentari seolah-olah kita memahami seluruh karena dan akibatnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau miliki pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ketika terjadi kenaikan nilai di Madinah, para sahabat meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetapkan nilai barang. Namun beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ

“Sesungguhnya Allah-lah Yang menetapkan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa di kembali beragam karena yang tampak, tetap ada kekuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Oleh lantaran itu, seorang Muslim hendaknya tidak mudah larut dalam kepanikan, prasangka buruk, alias tuduhan yang tidak didasari ilmu.

Bukan berfaedah kita menutup mata terhadap realitas yang ada alias menolak beragam kajian ekonomi yang dilakukan para ahlinya. Namun kita juga tidak boleh berbincang melampaui kadar pengetahuan yang kita miliki. Jika para mahir ekonomi membahas sebab-sebab teknis terjadinya pelemahan mata uang, maka tugas kita sebagai seorang Muslim adalah mengambil pelajaran syar’i darinya, memperbaiki diri, dan menjaga keimanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beragama kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik alias diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendoakan pemimpin dan tidak menambah keruh keadaan

Di antara sikap yang sering terlupakan ketika terjadi kesulitan adalah mendoakan para pemimpin kaum Muslimin. Para ustadz salaf memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata,

لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ

“Seandainya saya mempunyai satu angan yang pasti dikabulkan, niscaya bakal saya khususkan untuk pemimpin.”[1]

Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjelaskan bahwa andaikan pemimpin menjadi baik, maka kebaikannya bakal dirasakan oleh seluruh rakyat. Oleh lantaran itu, daripada menghabiskan waktu untuk mencela, menghina, alias menyebarkan kemarahan yang tidak produktif, lebih baik seorang Muslim memperbanyak angan agar Allah memberikan petunjuk, taufik, dan kebijaksanaan kepada para pemimpinnya.

Sebab perbaikan sebuah negeri tidak hanya lahir dari kritik, tetapi juga dari doa, nasihat yang baik, dan kontribusi nyata dari masyarakatnya.

Muhasabah sebelum menyalahkan orang lain

Di samping itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya sibuk mencari kesalahan pihak lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mengampuni banyak (kesalahan).” (QS. Asy-Syura: 30)

Para ustadz menjelaskan bahwa beragam musibah yang menimpa suatu masyarakat bisa menjadi karena agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki keadaan mereka.

Termasuk perkara yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan meremehkan kehormatan kaum Muslimin, mencela, menggibah, menyebarkan kebencian, dan menebarkan permusuhan. Dosa-dosa semacam ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat besar di sisi Allah.

Bukan berfaedah kita memastikan bahwa setiap kesulitan ekonomi yang terjadi pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan perihal itu tanpa dalil. Namun secara umum, hukum mengajarkan bahwa dosa dapat menjadi karena dicabutnya keberkahan dan datangnya beragam kesulitan.

Oleh lantaran itu, ketika menghadapi keadaan yang berat, hendaknya kita memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki lisan, menjaga etika terhadap sesama Muslim, serta menjauhkan diri dari gibah dan hinaan yang tidak bermanfaat.

Saatnya menghidupkan solidaritas

Krisis ekonomi juga menjadi ujian bagi kepedulian sosial kita. Mungkin ada tetangga yang mulai kesulitan membeli beras. Mungkin ada kerabat yang kehilangan pekerjaan. Mungkin ada janda tua yang tidak sanggup membeli kebutuhan pokok.

Allah Ta‘ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam amal dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Bisa jadi satu kantong beras yang kita berikan lebih berbobot di sisi Allah daripada banyak komentar yang kita tulis di media sosial. Dalam masa sulit, umat Islam semestinya semakin kuat ikatan persaudaraannya. Yang bisa membantu yang lemah. Yang bisa memperhatikan yang kekurangan. Yang lapang menghibur yang sempit.

Baca juga: Keutamaan Menolong Sesama Muslim

Belajar dari peristiwa Tahun Abu (عام الرمادة)

Pada tahun 18 H, daerah Hijaz dilanda kekeringan yang sangat parah selama sembilan bulan. Tahun itu dikenal dengan nama ‘Ām ar-Ramādah (Tahun Abu). Disebut demikian lantaran angin yang berdesir membawa debu seperti abu, alias lantaran tanah menjadi hitam seperti abu akibat kekeringan yang hebat.

Negeri-negeri mengalami kandas panen, ternak banyak yang mati, dan manusia dilanda kelaparan. Kondisinya sangat berat hingga sebagian orang menyantap tulang-belulang yang telah hancur dan mencari hewan-hewan mini seperti tikus gurun untuk dimakan.

Musibah besar ini sangat mempengaruhi Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Mantan budaknya, Aslam, berkata,

لو لم يرفع الله المحل عام الرمادة لظننا أن عمر يموت هما بأمر المسلمين

“Seandainya Allah tidak mengangkat musibah Tahun Ramadah itu, kami mengira Umar bakal meninggal lantaran terlalu memikirkan urusan kaum muslimin.”

Umar رضي الله عنه menetapkan program yang sangat ketat bagi dirinya. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya agar tidak melupakan keadaan mereka meski sesaat. Sebagai pemimpin, beliau merasa bertanggung jawab penuh atas musibah yang menimpa rakyatnya.

Bahkan ketegasan itu juga diterapkan kepada keluarganya. Diceritakan bahwa putranya, Ubaidullah, mempunyai seekor hewan mini yang kemudian disembelih dan dipanggang. Ketika Umar mencium aromanya, beliau berprasangka bahwa keluarganya menikmati makanan yang tidak dinikmati rakyat. Setelah diselidiki, rupanya benar. Maka Umar melarang keluarganya menyantap daging tersebut dan memerintahkan agar diberikan kepada kaum muslimin.

Hal ini lahir dari kejujuran dan tanggung jawab beliau terhadap umat. Menurut Umar, keluarganya kudu ikut merasakan kesulitan yang dirasakan rakyat, bukan menikmati keistimewaan di atas penderitaan mereka.

Langkah-langkah Umar mengatasi krisis

Membentuk tim penanganan krisis

Umar membentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang mahir dan terpercaya. Beliau membagi tugas kepada mereka dan setiap malam mereka melaporkan perkembangan keadaan kepada beliau. Ini menunjukkan keluasan pandangan Umar. Beliau memahami bahwa krisis besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, meskipun orang itu seorang khalifah.

Memberikan makanan yang tersedia

Beliau segera mengumpulkan makanan dari pasar-pasar yang ada di Madinah dan daerah sekitarnya untuk dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum Badui yang datang ke pinggiran Madinah mencari pertolongan.

Meminta support dari daerah lain

Umar mengirim surat kepada para gubernurnya di beragam daerah Islam. Kepada Amr bin Al-Ash رضي الله عنه di Mesir, beliau menulis,

بسم الله الرحمن الرحيم، من عبد الله عمر أمير المؤمنين …، سـلام عليك، أما بعد، أفتراني هـالكا ومن قبلي، وتعيش أنت ومن قبلك، فيا غوثاه، ثلاثا

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, kepada … . Semoga keselamatan atasmu. Amma ba‘du.

Apakah engkau membiarkan saya dan rakyat yang bersamaku binasa, sementara engkau dan rakyat yang bersamamu hidup berkecukupan?

Tolonglah kami! Tolonglah kami! Tolonglah kami!”

Amr bin Al-Ash segera mengirim support besar berupa kafilah-kafilah makanan yang panjangnya disebut sampai dari Madinah hingga Mesir.

Surat serupa juga dikirim kepada wilayah-wilayah Islam lainnya.

Menerapkan solidaritas sosial

Umar memerintahkan agar setiap family di Madinah menanggung family Badui yang membutuhkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat berbagi kesulitan dan hidup sederhana hingga Allah mengangkat musibah tersebut.

Beliau berkata,

فإنهم لن يهلكوا على أنصاف بطونهم

“Sesungguhnya mereka tidak bakal lenyap jika hidup dengan separuh kenyang.”

Menunda penarikan zakat

Karena kondisi masyarakat yang sangat sulit, Umar menunda pengambilan amal pada tahun tersebut. Ketika tahun berikutnya keadaan sudah membaik, beliau memerintahkan petugas amal mengambil amal dua tahun sekaligus. Sebagiannya dibagikan kepada masyarakat dan sebagiannya lagi disimpan sebagai persediaan untuk menghadapi keadaan darurat di masa depan.

Mendirikan penyimpanan pangan

Umar mendirikan tempat penyimpanan bahan makanan seperti tepung, kurma, gandum, dan makanan lain yang dapat disimpan lama. Gudang ini digunakan untuk membantu musafir, orang-orang yang terputus bekalnya, dan masyarakat yang membutuhkan.

Memberantas penimbunan barang

Sebagian pedagang mencoba memanfaatkan krisis dengan meningkatkan nilai dan menimbun peralatan demi untung pribadi. Umar menentang tindakan tersebut dan berkata,

لا حكرة في سوقنا

“Tidak boleh ada penimbunan di pasar kami.”

Beliau melarang para pemilik modal menguasai barang-barang kebutuhan pokok lampau memainkan nilai di pasar. Namun pada saat yang sama, beliau tetap mendorong perdagangan yang sehat dan memberi kebebasan kepada para pedagang yang membawa peralatan dari luar daerah untuk menjualnya secara wajar.

Melaksanakan salat istisqa’

Di samping beragam langkah ekonomi dan sosial, Umar tidak melupakan solusi yang paling utama, ialah memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau keluar berbareng para sahabat dan Al-Abbas رضي الله عنه untuk melaksanakan salat istisqa’ (salat meminta hujan). Setelah berceramah dan salat, Umar bertimpuh seraya berdoa,

اللهم إياك نعبد، وإياك نستعين، اللهم أغفر لنا وارحمنا وارض عنا

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beragama dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, dan ridailah kami.”

Belum lama kembali ke rumah-rumah mereka, hujan pun turun hingga air menggenang di beragam tempat. [2]

Pada akhirnya, setiap orang mempunyai ruang ikhtiar yang berbeda-beda. Tidak semua orang mempunyai keahlian mengubah kebijakan ekonomi alias mempengaruhi kondisi pasar dunia. Namun, setiap Muslim bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Kita bisa memperbaiki salat kita. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak. Kita bisa membantu tetangga yang kesulitan. Kita bisa menahan lisan dari gibah dan cacian. Dan kita bisa terus ber-husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Memberi Rezeki.

Karena sesungguhnya roda ekonomi bumi bisa berputar naik dan turun, tetapi rezeki yang telah Allah tetapkan tidak bakal pernah tertukar. Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Ketika rupiah melemah, nilai kebutuhan meningkat, dan kehidupan terasa semakin berat, jangan sampai ketaatan ikut melemah. Sebab nilai mata duit memang bisa turun, tetapi kepercayaan kepada Allah tidak boleh ikut jatuh.

Mari hadapi keadaan ini dengan kesabaran, tawakal, ikhtiar yang halal, serta kepedulian kepada sesama. Perbaiki hubungan dengan Allah, lantaran keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati dan pertolongan Allah yang menyertainya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga negeri ini, melapangkan rezeki kaum Muslimin, mengangkat beragam kesulitan yang menimpa mereka, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tetap teguh imannya di tengah beragam ujian kehidupan.

Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.

***

Jember, 4 Juni 2026

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media  

Referensi:

[1] Syarah Kitab Syarhi As-Sunnah lil Barbahary, karya Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajihiy, 6: 14 (melalui Maktabah Syamilah)

[2] https://www.islamweb.net/ar

Selengkapnya