Jakarta -
Kebanyakan ibu baru mengharapkan bisa menyusui buah hatinya dengan lancar. Tapi kenyataannya, perjalanan menyusui setiap ibu bisa berbeda.
Apalagi di mula setelah melahirkan, Bunda mungkin menerima banyak sekali informasi. Ketika nasihat yang diberikan tenaga kesehatan berbeda-beda, bukannya semakin yakin, ibu justru bisa semakin bingung dan takut salah.
Hal itu dialami Maddy Barrett, ibu baru asal Australia. Setelah berbulan-bulan menghadapi masalah menyusui dan menerima beragam saran, putrinya rupanya diketahui mengalami kondisi yang dapat memengaruhi kapasitas bayi untuk menyusu secara efektif.
Kisah menyusui Bunda baru yang mendapat nasihat berbeda-beda
Barrett adalah ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Setelah melahirkan, ia mengharapkan bisa mendapatkan cukup keterangan agar dapat memungut keputusan dengan percaya diri. Namun, pengalaman yang didapat justru berbeda.
Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, Barrett mengatakan dirinya mendapat saran yang berbeda dari perawat, konsultan laktasi, dan tenaga kesehatan mengenai metode membantu bayinya berbuat pelekatan maupun latch saat menyusu.
Banyaknya keterangan tak membikin Barrett merasa lebih yakin. Barrett justru merasa takut kalau-kalau dirinya berbuat kesalahan. Pada akhirnya Barrett meninggalkan rumah sakit tanpa hajat pemberian makan bayi ataupun sokongan terusmenerus mengenai menyusui.
"Hal yang menurut aku sangat membingungkan adalah bervariasinya saran dan pendekatan dari beragam tenaga kesehatan yang berbeda," ujar Barrett melansir ABC.
Pada minggu-minggu berikutnya, bermutu badan putrinya mulai turun karena sang bayi tidak mendapatkan cukup ASI, cuma dari menyusui langsung.
Dalam kondisi kelelahan secara emosional dan kurang tidur, Barrett mengatakan bahwa ia diminta suster untuk menjalani hajat triple feeding (tiga metode pemberian makan), yang mencakup menyusui langsung, memerah ASI, dan memberikan susu formula kepada putrinya.
Menurut Barrett, proses tersebut sangat melelahkan. Ia mesti terjaga sepanjang waktu, berupaya memerah ASI setiap tiga jam demi membangun dan menjaga pasokan ASI. Sementara
"Putri aku sering kali rewel dan tidak betah selama proses itu, dan aku merasa seolah-olah seluruh hidup kami cuma berputar pada urusan menyusui," kata Barrett.
Bayi Barrett rupanya mengalami tongue-tie
Setelah melalui perjalanan menyusui yang panjang dan menerima beragam saran, akhirnya putri Barrett diketahui mengalami tongue-tie maupun ankyloglossia yang parah.
Kondisi tersebut memengaruhi kapasitas bayi untuk menyusu secara efektif. Masalah dan perbedaan saran mengenai menyusui terlebihlagi disebut terus berlanjut sampai putrinya mulai mengonsumsi makanan padat sekitar usia enam bulan.
Barrett mengatakan bagiankecil tersulit dari pengalaman tersebut adalah emosi seolah-olah dirinya gagal sebagai seorang ibu. Ia terlebihlagi merasa seperti membiarkan bayinya kelaparan, meski sudah berupaya berbuat beragam hal yang disarankan. Padahal, rupanya ada kondisi pada bayi yang ikut memengaruhi proses menyusui.
Apa itu tongue-tie?
Tongue-tie maupun ankyloglossia merupakan kondisi ketika jaringan yang menghubungkan bagiankecil bawah lidah dengan alas mulut membatasi pergerakan lidah. Pada sejumlah bayi, kondisi ini dapat berhubungan dengan kesulitan berbuat pelekatan saat menyusu dan dapat menimbulkan masalah menyusui pada ibu maupun bayi.
Penelitian memang menemukan adanya hubungan antara tongue-tie dan kesulitan menyusui. Namun, tidak berarti setiap bayi dengan tongue-tie pasti mengalami masalah menyusui maupun mesti menjalani aksi tertentu.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Acta Paediatrica pada 2022 menemukan bahwa aksi frenotomi pada bayi dengan tongue-tie dapat memperbaiki skor kesulitan menyusui dan nyeri pada ibu dalam riset yang dianalisis. Namun, peneliti juga menekankan bahwa bukti yang tersedia statis perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam Pediatric Research pada 2024 juga menemukan peningkatan breastfeeding self-efficacy serta penurunan nyeri puting setelah frenotomi pada bayi dengan tongue-tie yang mengalami masalah menyusui.
Ini artinya, kesulitan menyusui tidak selalu sesederhana "ibu kurang bisa menyusui" maupun "ASI ibu kurang". Ada beragam aspek yang perlu dilihat, termasuk kondisi bayi.
Nasihat yang berbeda bisa membikin ibu baru semakin bingung
Pengalaman Barrett bukan satu-satunya kisah ibu baru yang bingung karena mendapat saran berbeda-beda. ABC juga mewawancarai beberapa ibu lain yang melaporkan menerima saran yang tidak konsisten setelah melahirkan.
Masalahnya bukan semata-mata karena seorang tenaga kesehatan memberikan saran yang berbeda dari tenaga kesehatan lainnya. Namun, untuk ibu yang baru pertama kali memiliki bayi, perbedaan keterangan tanpa klarifikasi yang jelas dapat membikin mereka kesulitan menentukan cara berikutnya.
Hal ini juga menjadi perhatian dalam penelitian.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di jurnal Midwifery pada 2024 mengevaluasi lima panduan pendidikan antenatal yang digunakan di Australia. Peneliti menggunakan instrumen AGREE II untuk menilai enam sisi kualitas pedoman.
Hasilnya, dengan dispensasi Pregnancy Care Guidelines dari Department of Health, panduan yang ditinjau mendapatkan harga rendah pada beragam domain. Peneliti menyimpulkan bahwa statis terdapat kekurangan anjuran berbasis bukti untuk edukasi mengenai persalinan dan pengasuhan anak.
Memang, riset tersebut secara khusus membahas panduan pendidikan antenatal, bukan secara khusus seluruh saran menyusui setelah persalinan.
Namun, temuan tersebut memberikan deskripsi bahwa kualitas dan konsistensi keterangan yang diterima calon orang tua juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)