Jakarta -
Kanker payudara sering kali dikaitkan dengan aspek keturunan dan genetik. Hal ini kemudian membikin banyak orang tua bertanya, apakah kanker payudara bisa menurun ke anak?
Pertanyaan tersebut mungkin terlintas di pikiran Bunda ketika memiliki personel famili yang pernah maupun sedang berjuang melawan kanker payudara. Meski aspek genetik dapat menaikkan risiko, ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menyimpulkan bahwa kanker payudara bisa maupun tidak menurun ke anak.
Perlu diketahui, kanker payudara adalah pandemi yang dimulai ketika sel-sel di payudara tumbuh di luar kendali. Sel-sel tidaknormal ini dapat membentuk tumor dan bisa menghamburkan ke kelenjar getah bening di dekatnya maupun bagiankecil tubuh lainnya jika tidak terdeteksi dan diobati.
Kanker payudara dapat terbentuk di satu maupun kedua payudara. Baik perempuan maupun lelaki bisa terkena kanker payudara, Bunda.
Menurut ulasan di Breast Cancer Research Foundation, sekitar 2,3 juta perempuan didiagnosis kanker payudara di seluruh bumi dan 670.000 wafat bumi pada tahun 2022. Setiap 14 detik, di suatu tempat di dunia, seorang perempuan didiagnosis menderita kanker payudara.
Melansir dari halaman UT MD Anderson, kanker payudara bisa berkarakter keturunan. Artinya, pandemi ini diturunkan dalam famili dan dapat diwariskan secara genetik.
Riwayat famili yang menderita kanker dapat berarti bahwa kerabat sedarah tingkat pertama dan kedua pernah menderita kanker payudara maupun jenis kanker lainnya. Kerabat sedarah tingkat pertama adalah orang tua, kerabat kandung, maupun anak. Sementara kerabat tingkat kedua, seperti bibi, paman, kakek, nenek, maupun kerabat tiri.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 5 hingga 10 persen kanker payudara berkarakter herediter atau diturunkan secara genetik. Kondisi medis ini dapat disebabkan oleh mutasi genetik maupun perbedaan pada gen yang memengaruhi metode kerjanya.
Bagaimana metode mengetahui apakah anak memiliki mutasi genetik kanker?
Beberapa fluktuasi genetik tidak berbahaya, tetapi yang lain dapat menyebabkan pandemi maupun masalah kesehatan lainnya. Nah, fluktuasi genetik yang berakibat negatif terhadap kesehatan disebut mutasi. Jika mutasi tersebut diturunkan dari orang tua kepada anak, maka disebut mutasi genetik yang diwariskan.
Dikutip dari BreastCancer.org, tes genetik dapat menentukan apakah anak mewarisi mutasi genetik yang mengenai dengan konsekuensi kanker payudara yang lebih tinggi. Dokter maupun konselor genetik dapat membantu dalam memutuskan, jenis tes genetik mana yang tepat berdasarkan histori pribadi maupun famili tentang kanker payudara dan kanker lainnya.
Berbagai jenis kanker payudara biasanya didiagnosis pada usia yang berbeda. Artinya, tidak ada usia khusus di mana semua kanker payudara herediter biasanya didiagnosis.
Namun, secara umum, kanker payudara herediter yang disebabkan oleh mutasi genetik sering kali muncul di usia dini. Artinya, kanker ini didiagnosis lebih mula daripada usia rata-rata pengecekan untuk jenis kanker payudara tertentu.
Mutasi genetik yang diwariskan mengenai dengan kanker payudara
Semua jenis kanker payudara dapat disebabkan oleh mutasi genetik yang diturunkan. Berikut mutasi genetik yang dapat menyebabkan kanker payudara:
1. BRCA1 dan BRCA2
Mutasi pada gen BRCA1 maupun BRCA2 disebut Hereditary Breast dan Ovarian Cancer Syndrome, merupakan penyebab utama kanker payudara yang diturunkan. Gen BRCA1 dan BRCA2 membantu memulihkan DNA dan melindungi tubuh dari kanker.
Baik lelaki maupun perempuan dapat memiliki mutasi ini. CDC menulis bahwa 7 persen perempuan di Amerika Serikat akan mengembangkan kanker payudara pada usia 70 tahun. Namun, untuk perempuan dengan mutasi BRCA1 maupun BRCA2, bilangan tersebut melonjak menjadi 50 persen.
2. PALB2
Seperti gen BRCA1 dan BRCA2, gen PALB2 melindungi tubuh dari kanker dengan membantu memperbaiki DNA yang rusak. Mutasi gen ini bisa memicu kanker payudara. Mutasi PALB2 juga dapat menaikkan konsekuensi kanker pankreas pada lelaki dan perempuan.
3. CHEK2
Gen CHEK2 adalah gen penekan tumor. Artinya, gen ini berpartisipasi dalam menghentikan pertumbuhan tumor, seperti kanker payudara. Mutasi CHEK2 dapat melipatgandakan konsekuensi rata-rata kanker payudara dan juga dapat menaikkan konsekuensi kanker prostat dan usus besar.
4. CDH1
Mutasi genetik gen CDH1 bisa menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai kanker lambung difus herediter. Selain peningkatan konsekuensi kanker lambung, perempuan dengan mutasi CDH1 juga memiliki konsekuensi lebih tinggi terkena kanker payudara.
5. PTEN
Mutasi genetik yang diwariskan pada gen PTEN menyebabkan kondisi yang sangat langka yang disebut sindrom Cowden. Orang dengan sindrom ini memiliki konsekuensi lebih tinggi terkena tumor payudara jinak (bukan kanker) dan ganas, serta pertumbuhan pada saluran pencernaan, tiroid, rahim, dan ovarium.
6. TP53
Mutasi pada gen TP53 dapat menaikkan konsekuensi kanker tertentu, termasuk kanker payudara. Sindrom Li-Fraumeni adalah sindrom kanker herediter langka yang menaikkan konsekuensi sarkoma jaringan lunak, kanker payudara, leukemia, kanker paru-paru, tumor otak, dan kanker adrenal. Banyak orang dengan sindrom Li-Fraumeni memiliki mutasi gen TP53.
Cara mengurangi konsekuensi kanker payudara
Ada beragam pilihan untuk mengurangi konsekuensi kanker payudara. Namun, kita tidak dapat mengubah histori famili mengenai kondisi ini ya, Bunda.
Beberapa metode mengurangi konsekuensi bisa dengan menjaga bermutu badan yang sehat dan aktif secara fisik. Anak juga dapat diminta untuk menjalani skrining dan pemberian obat yang cocok dengan kondisinya.
Penyebab kanker kayudara
Tidak ada satu penyebab tunggal kanker payudara, tetapi ada banyak hal yang dapat menaikkan risiko, termasuk corak hidup tidak sehat. Anak-anak dan remaja yang memiliki sindrom tertentu mungkin memiliki peningkatan konsekuensi terkena fibroadenoma. Sindrom ini mencakup:
- Sindrom Beckwith-Wiedemann
- Sindrom Maffucci
- Sindrom Cowden
Anak-anak dan remaja yang menderita sindrom Li-Fraumeni juga memiliki peningkatan konsekuensi terkena tumor filodes.
7 ciri khas kanker payudara anak yang sering diabaikan orang tua
Ada beberapa ciri khas kanker payudara pada anak yang sering diabaikan orang tua, yakni:
- Benjolan di payudara, ketiak, maupun di sekitar puting susu
- Perubahan ukuran maupun bentuk payudara yang tidak mengenai dengan pubertas maupun kenaikan bermutu badan
- Nyeri maupun ketidaknyamanan pada payudara
- Kulit pada maupun di sekitar payudara yang tampak tidak rata, berlesung pipit, maupun berkerut
- Kulit pada maupun di sekitar payudara yang tampak merah, bersisik, gatal, maupun bengkak
- Puting yang tertarik ke dalam
- Keluarnya darah maupun cairan lain dari puting
Kapan mesti ke dokter?
Bunda mesti segera berkonsultasi dengan tabib anak jika Si Kecil mengalami salah satu gejala di atas. Jika anak memiliki gejala benjolan di payudara, maka tabib perlu mencari tahu penyebabnya.
Dokter akan menanyakan histori kesehatan pribadi dan keluarga, serta berbuat pengecekan fisik. Dari hasil tersebut, tabib mungkin akan merekomendasikan tes maupun prosedur lain untuk membantu menegakkan diagnosis. Hasil tes juga akan membantu tabib untuk merencanakan pengobatan.
Demikian serba-serbi kanker payudara pada anak. Semoga keterangan ini berguna ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)