Kisah Greysia Polii dan Nitya Maheswari Berjuang Kalahkan Ego Demi Emas Asian Games

Jul 17, 2026 03:25 PM - 3 minggu yang lalu 14146

Greysia Polii membagikan kisah di kembali perjalanan kariernya sebagai atlet badminton. Selama ini, dia dikenal sangat apik bermain saat berpasangan dengan Nitya Krishinda Maheswari.

Di kembali beragam prestasi yang sukses mereka raih, termasuk lencana emas Asian Games 2014, tersimpan perjuangan panjang yang tidak banyak diketahui publik.

Keduanya mengaku kudu melewati beragam perbedaan, konflik, hingga air mata sebelum akhirnya bisa membangun kekompakan.


Cerita tersebut dibagikan langsung oleh Greysia melalui unggahan terbaru di akun TikTok pribadinya. Ia mengungkap gimana dirinya dan Nitya belajar mengesampingkan ego demi mengejar satu tujuan, ialah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, Bunda.

Greysia Polii ungkap hubungannya dengan Nitya penuh konflik

Dalam unggahan itu, Greysia mengungkap bahwa hubungannya dengan Nitya tidak selalu melangkah mulus.

Meski di mata publik terlihat kompak saat bertanding, perbedaan karakter membikin keduanya beberapa kali berbeda hingga susah membangun kedekatan di luar lapangan.

“Kalau dilihat orang, saya dan Nitya Krishinda Maheswari terlihat sangat akrab. Di lapangan kami saling melengkapi. Seperti pasangan yang sempurna. Tapi di kembali itu, kami bertolak-belakang lantaran banyak perbedaan,” tulis Greysia, dikutip dari laman TikTok @greysiapolii, Kamis (16/7/2026).

Greysia dan Nitya sempat menjadi pasangan dobel putri pada 2009-2010 sebelum akhirnya dipisahkan. Keduanya kembali dipasangkan pada 2013 dan berjuang berbareng di SEA Games 2013. Namun, hasil yang diharapkan belum sukses mereka raih.

“Setelah kalah di final SEA Games 2013, di suatu malam pada Januari 2014, saya mencari momen untuk membujuk Nitya berbincang empat mata,” ungkap Greysia.

Momen itu menjadi awal bagi keduanya untuk saling terbuka. Ia pun mencari tahu argumen di kembali sikap Nitya yang selama ini membikin hubungan mereka terasa berjarak.

Dalam percakapan tersebut, Nitya mengakui beberapa perihal yang tidak disukai dari Greysia. Salah satunya adalah mendapat perlakuan tidak setara dari pelatih.

"'Aku sebenarnya kesal sama situasi selama ini, kak. Enggak adil! Di mataku, kak Ge terus yang diprioritaskan pelatih!', jawab Nitya dengan nada tinggi, matanya mulai berkaca-kaca," tulis Greysia.

Bunda satu anak ini terkejut dengan pengakuan tersebut. Namun, dia berupaya mendengarkan dan mencoba mengerti apa yang dirasakan partner bulu tangkisnya ini.

"Aku kaget. Tapi saya mulai mengerti. 'Jadi sebenarnya saya enggak ada salah sama Anda kan, Ndut?' tanyaku memastikan. 'Enggak ada'. 'Tapi Anda tetap enggak suka sama aku?'. 'Enggak! Aku enggak suka!'. 'Masih mau partneran sama saya demi prestasi?'. 'Enggak! Aku enggak mau!'," cerita Greysia.

Keduanya pun larut dalam tangisan sembari berpelukan. Meski begitu, mereka belum menemukan jalan keluar.

“Lalu, kami berdua larut dalam tangisan sembari berpelukan. Malam itu berhujung tanpa solusi. Aku hanya mau membangun kembali hubungan pertemanan dengan Nitya,” tutur Greysia.

Greysia Polii dan Nitya mengalahkan ego demi prestasi

Keduanya kembali dipertemukan dalam sesi terbuka berbareng pembimbing Eng Hian alias yang berkawan disapa Ko Didi. Dalam kesempatan itu, mereka menyampaikan unek-unek satu sama lain.

"Dua bulan kemudian, hubungan kami tetap suram. Lalu, kami dipertemukan dalam sesi terbuka berbareng pembimbing kami, Ko Didi namalain Eng Hian. Untuk pertama kalinya, kami betul-betul jujur. 'Aku enggak suka kak Ge jika terlalu confidence pas tanding,' ungkap Nitya. 'Ndut, next time jika Anda ngerasa saya over confidence, kasih tahu aku, ya!' balasku. 'Aku juga enggak suka style jalan kak Ge. Gimana, gitu. Ganggu aja.' tambahnya," tutur Greysia.

Ia menjelaskan sesi curhat tersebut perlahan semakin cair. Keduanya pun bukan saling memihak diri, melainkan belajar untuk menerima kritik.

"'Aku tidak suka sikap Anda yang condong tertutup', ucapku pada Nitya. Dia pun menerimanya," ujar Greysia.

Hubungan yang semula dipenuhi bentrok perlahan berubah menjadi penuh kepercayaan.

“Kami sadar bahwa waktu tidak bisa menunggu dan mimpi tidak bisa ditunda. Kami kudu memilih, ego alias tujuan. Kami memilih bertahan. Memperbaiki, bukan menghindari. Perlahan, hubungan kami pulih,” ujar Greysia.

Sejak saat itu, hubungan keduanya perlahan membaik. Greysia mengungkap bahwa mereka tidak lagi sekadar menjadi rekan di lapangan, tetapi juga saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi beragam masalah.

Bahkan, Greysia menjadi satu-satunya tempat Nitya untuk mencurahkan hati ketika mengalami situasi susah dalam hidupnya. Keduanya menjadi dekat satu sama lain.

“Saat itu, saya sadar, kami bukan hanya partner, tapi support system satu sama lain. Partner bukan hanya soal menang, tapi tentang saling jaga di segala kondisi,” ujarnya.

Masalah datang jelang Asian Games 2014

Masalah pun kembali datang menjelang Asian Games 2014, ketika Nitya mengalami cedera. Meski begitu, Greysia memilih mendukung keputusan sang partner tanpa memaksanya bermain.

“Aku tidak memaksa Nitya melanjutkan pertandingan, lantaran bagiku mitra lebih berbobot dari sekadar juara. ‘Ndut, kesempatan itu bisa kok datang berapa kali. Dengan kondisi Anda seperti ini, saya enggak mau memaksakan. Kan kita berpasangan, kalo enggak ada kamu, saya bisa apa?’,” ungkap Greysia.

“Nitya memilih bertahan. ‘Kak Ge percaya enggak sama saya jika kondisi kayak gini, saya bisa main?’. Aku mengangguk. ‘Percaya!’. Saat dia percaya bisa, saya pun ikut percaya. Semangatnya, jadi kekuatanku juga,” sambungnya.

Dukungan dan kepercayaan yang mereka bangun akhirnya menjadi modal besar untuk menghadapi pertandingan tersebut, Bunda.

“Kami mempunyai mantra, ‘Fokus satu poin’. Bukan memikirkan menang besar, tapi melakukan yang terbaik, satu langkah demi satu langkah,” ungkap Greysia.

Juara Asian Games 2014

Perjuangan mereka pun berbuah manis. Greysia dan Nitya sukses meraih lencana emas Asian Games 2014. Bagi Greysia, kemenangan tersebut bukan hanya soal menjadi juara, melainkan bukti bahwa mereka bisa melewati luka, perbedaan, dan ego demi tujuan yang sama.

“Bagi kami, kemenangan ini bukan sekadar medali. Ini tentang menyembuhkan luka, melawan ego, dan memilih tetap bertahan. Di kembali semua itu, ada proses panjang yang tidak terlihat,” tuturnya.

Demikian cerita di kembali kemenangan Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari meniti kemenangan di lapangan badminton. Ada banyak pengorbanan untuk mengalahkan ego masing-masing demi membawa pulang Emas dan mengharumkan nama Indonesia di mata Asia.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/rap)

Selengkapnya