Kisah Pertani Temukan Emas 16 Kg di Sawah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 509x dilihat
Kisah Pertani Temukan Emas 16 Kg di Sawah

Bagikan Postingan

Kabar petani yang temukan emas seberat 16 kg di sawah pernah membikin penduduk gempar. Emas 16 kg tersebut ditemukan oleh petani disebut Cipto Suwarno. 

Kisah inovasi emas oleh Cipto Suwarno terjadi pada tahun 1990. Kala itu ia sedang menggarap sawahnya. Pekerjaan tersebut ia jalani selama lebih sepekan. Berbekal cangkul berukuran sedang, Suwarno mencangkul tanah dari pagi hingga matahari terbenam.

Sudah tak terhitung luas tanah yang digarap Suwarno, ia cuma mau air irigasi bisa masuk ke tanah sawahnya. Apalagi proyek yang dibangun di sekitar sawah merusak kontur lahan.


Kemudian, peristiwa tak terduga terjadi pada 17 Oktober 1990. Saat itu Cipto telah menggali tanah sedalam 2,5 meter. Cangkulnya menyentuh barang keras yang ia duga adalah batu. Namun, ketika barang keras itu diangkat, Suwarno terkejut bahwa rupanya barang tersebut rupanya sebuah guci keramik.

Warga sekitar pun mulai ramai berdatangan untuk melihat secara langsung barang yang ditemukan Suwarno, termasuk para petinggi desa. Suwarno lanjut menggali tanah dan pada momen itulah ia menemukan harta karun emas 16 kg.

Lebih dari itu, ditemukan beragam barang lain yang tampaknya bukan berasal dari perlengkapan era kini. "Jika dirinci, barang temuan tadi terdiri dari bokor gembung, 6 tutup bokor, 3 gayung, 1 baki, 97 gelang, 22 mangkuk, pipa rokok, guci besar, 2 guci kecil, 11 cincin, 7 piring, 8 subang, tas tangan, keris, manik-manik, dan duit logam," seperti dikutip CNBC Indonesia.

Temuan Suwarno tersebut dicatat sejarah sebagai Harta Karun Wonoboyo. Harta Karun in juga dianggap sebagai temuan arkeologi berupa emas terbesar sepanjang sejarah. Harta karun Wonoboyo kemudian disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Setelah diteliti oleh para arkeolog, harta karun itu berasal dari akhir abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-10. Hal ini diketahui dari bentuk temuan emas yang sesuai dengan zamannya. Selain itu, dalam mangkuk emas ada relief Ramayana. Lalu, di koin emas terdapat artikel Saragi Diah Bunga.

Selain mengidentifikasi asal harta karun tersebut, temuan harta ini juga dapat menjadi gejala corak hidup orang-orang Jawa pada masa kerajaan antik abad ke-9 dan 10 yang gemar memakai emas. Hobi ini tidak cuma digandrungi bangsawan, tetapi juga rakyat biasa.

Dikutip halaman CNBC Indonesia, dahulu emas bermutu murah dan gampang didapat. Dalam beragam anotasi tentang era Majapahit (1293-1527 M), ditemukan histori kepemilikan emas dalam jumlah besar oleh para bangsawan. Hal yang sangat lumrah jika melihat beragam barang dilapisi oleh emas, mulai dari kereta hingga kipas. 

Kebiasaan serupa juga ditemukan di kerajaan Daha yang eksis di garis era yang sama dengan Majapahit. Profesor Stuart Robson dalam Desawarna karya Mpu Prapanca (1995) memaparkan bahwa putri dari Raja Daha kerap menggunakan kereta berlapis emas. 

Dalam buku Menuju Puncak Kemegahan yang ditulis Arkeolog Slamet Mulyana, dijelaskan sepertiapa emas menjadi komoditas dambaan di era Majapahit seperti yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Nagarakertagama. "Ia mau sama dengan empu Winada yang bercita-cita mengumpulkan banyak duit dan emas," tulis Prapanca, ditulis ulang oleh Slamet Mulyana.

Koleksi emas yang dilakukan pada abad tersebut tidak cuma dilakukan untuk tujuan estetika saja, Bunda. Emas juga digunakan sebagai transaksi perdagangan.

Erwin Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya menjelaskan penduduk Jawa antik sering menggunakan emas dalam transaksi perdagangan dengan skala besar, seperti jual-beli tanah.

Kekayaan lingkungan Indonesia berupa emas ini juga menarik perhatian penjelajah asing. Merujuk buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa, penjelajah China sempat dibuat kagum dengan corak hidup para raja Jawa yang erat dengan penggunaan emas. Bahkan, untuk makan saja para raja menggunakan perlengkapan berbahan emas.

Dalam catatan Suma Oriental, penjelajah Eropa Tome Pires yang mengunjungi Jawa tahun 1513 melihat raja Jawa yang sangat kaya. Ia mencatat bahwa penampilan para raja menggunakan emas dari atas sampai bawah. Bahkan, para pengawal dan anjing peliharaan juga memakai kalung dan gelang emas. 

Meskipun penggunaan emas masif, tetapi emas tidak didapat di Pula Jawa. Untuk memperoleh emas, biasanya para penduduk mengimpor dari Sumatera maupun India.

Mulai terjadi fluktuasi pola penggunaan emas setelah runtuhnya kerajaan antik dan kemunculan kolonialisme. Di titik perhiasan emas kemudian menjadi harta karun terpendam. Barang itu tertimbun di bawah tanah antah berantah yang terus menjadi objek pemburu harta karun.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads