Makna Mendalam Sedekah dan Penyesalan di Sakaratul Maut: Kisah Sahabat Nabi yang Menyentuh

Intisari Islam Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 121771x dilihat
Makna Mendalam Sedekah dan Penyesalan di Sakaratul Maut: Kisah Sahabat Nabi yang Menyentuh

Rasulullah SAW menjelaskan makna di balik ucapan terputus-putus seorang sahabat menjelang ajal yang sempat membingungkan istrinya. Dikutip dari kitab 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW, tampak bahwa setiap kata saat sakaratul maut menggambarkan penyesalan karena merasa belum memberi kebaikan terbaik mengingat besarnya pahala di akhirat.

Pada suatu ketika, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Rasulullah SAW kemudian mengantarkan jenazahnya sampai ke pemakaman.

Pulang dari pemakaman, Rasulullah SAW melayat keluarga almarhum, menghibur mereka dan menasihati agar tetap sabar serta tawakal. "Apakah sebelum meninggal, almarhum mewasiatkan sesuatu?" tanya Rasulullah SAW.

"Aku mendengar dia mengatakan sesuatu di antara napasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal," jawab istri almarhum.

Rasulullah SAW bertanya lagi, "Apa yang dikatakannya?" Istrinya menjawab, "Aku tidak tahu, wahai Rasulullah. Apakah itu sekadar rintihan atau karena sakitnya sakaratul maut, aku tidak bisa menangkapnya karena ucapannya terputus-putus."

Rasulullah SAW tanya lagi, dan ia menirukan potongan ucapan yang sempat didengarnya: "Andai lebih lama lagi, umpama yang tetap baru, umpama semuanya." Ia mengaku tidak memahami maksudnya.

Rasulullah SAW tersenyum lalu menjelaskan, "Ucapan suamimu benar. Begini ceritanya. Suatu hari ia berjalan cepat menuju masjid untuk shalat Jumat. Dalam perjalanan ia bertemu seorang laki-laki buta yang juga hendak ke masjid."

Orang buta itu berjalan tersandung-sandung karena tak ada yang menuntun. Suamimu membimbingnya sampai ke masjid. Saat hendak menghembuskan nafas terakhir, ia melihat pahala dari perbuatannya itu lalu berkata, 'Andai lebih lama lagi.' Maksudnya, seandainya dulu dia menuntun orang buta itu lebih lama, pahalanya pasti bertambah.

Kalimat kedua yang terdengar dari ucapannya terkait suatu pagi yang sangat dingin. Di tepi jalan ia melihat seorang laki-laki tua menggigil nyaris mati kedinginan. Kebetulan suamimu memakai dua mantel, yang lama dan yang baru.

Seorang Muslim tengah bersedekah (ilustrasi)

Artikel Lainnya Intisari Islam

Bagikan Postingan